Dulu Wadam Kini Transpuan, Begini Sejarah dan Maknanya
📅 Sabtu, 20 Mei 2023, 12:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Mufti Adi Utomo
Benjamin Hegarty, UNSW Sydney dan Amalia Puri Handayani, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya
Artikel ini diterbitkan untuk memperingati Hari Internasional Melawan Homofobia, Transfobia dan Bifobia yang jatuh pada 17 Mei.
Sejak akhir 2010-an, kosakata transpuan mulai digunakan secara luas baik di lingkup daring maupun luring, dan kini telah masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Media progresif dan organisasi masyarakat sipil di ibu kota pun mulai makin intens menggunakan istilah transpuan pada 2020.
Kata transpuan merupakan gabungan suku kata pertama dari bahasa Inggris "transgender" (trans-) dan suku kata akhir "perempuan" (puan). Dalam bahasa Inggris sendiri dikenal istilah transwoman, yang berasal dari gabungan kata "transgender" dan "woman". Namun, sejarah kata transpuan di Indonesia melibatkan perjuangan keadilan gender tersendiri.
Sejarahnya, transgender di Indonesia bukanlah hal baru, dan transpuan bukan istilah pertama yang digunakan untuk merujuk pada kelompok identitas gender terkait.
Sebaiknya Anda baca juga:
Perjalanan pergeseran istilah untuk menyebut suatu kelompok kerap kali memiliki makna yang berbeda-beda dan mempengaruhi cara mereka mengidentifikasi dirinya, tergantung oleh siapa istilah itu diperkenalkan dan di mana, dan dalam konteks budaya apa.
Sejarah perubahan istilah ini pun menjadi kunci untuk memahami bagaimana kelompok trans di Indonesia memperjuangkan hak-hak mereka, termasuk hak terhadap akses kesehatan, kartu identitas, dan keamanan di ruang publik.
Dari "waria" ke "transpuan"
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada tahun 1968, pernah dikenal istilah "wadam", singkatan dari "Hawa" (wanita) dan "Adam" (pria). Istilah ini diciptakan oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, dengan tujuan memberikan sebutan yang lebih positif bagi istilah "banci" atau "bencong". Setahun setelahnya, pemerintah DKI Jakarta juga memfasilitasi lahirnya organisasi wadam pertama, Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD).
"Banci" adalah istilah yang kerap digunakan sejak abad ke-19 sampai akhir 1960an. Istilah ini menyiratkan makna yang jauh lebih menyakitkan dan menyerang.
Namun, penggunaan kata Adam (yang diambil dari Nabi Adam) diprotes oleh salah satu kelompok agama di Jawa Timur. Kementerian Agama kemudian mengubahnya menjadi "waria", diambil dari gabungan suku kata "wanita" dan "pria", pada 1978.
Mulai akhir 2010-an, beberapa aktivis transpuan di Jakarta mulai membatasi penggunaan kata waria. Dikutip penelitian, garis besarnya, aktivis menjelaskan tiga alasan. Pertama, istilah waria diberikan oleh pemerintah dan bukan diciptakan oleh komunitas relevan. Kedua, istilah itu menyelipkan kata "pria" yang dirasa tidak menjadi bagian dari maknanya. Ketiga, istilah itu dianggap bentuk objektivikasi dan dominasi pemerintah.
Contohnya, seorang aktivis transpuan, Kanzha Vinaa, mengatakan:
"Ada teman-teman trans yang lebih memilih menyebut dirinya sebagai transpuan, ada juga yang lebih memilih disebut waria. Tapi untuk orang-orang di luar komunitas trans, kami meminta mereka untuk menggunakan kata transpuan."
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!