Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Benahi Kebijakan yang Merugikan Petani

9 Sabtu, 06 Mei 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Benahi Kebijakan yang Merugikan Petani Benahi Kebijakan yang Merugikan Petani Doc: Sumber: FAO - KORAN JAKARTA/ONES

» Bila produsen berhenti berproduksi maka negara akan terus terjebak dengan impor.

» Pertanian agroekologis, diversifikasi pangan serta solidaritas internasional yang akan selamatkan dunia.

JAKARTA - Dalam laporan global tentang krisis pangan terbaru yang dirilis oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) baru-baru ini menyebutkan pada 2022 lalu, sekitar 258 juta orang di 58 negara menghadapi krisis kerawanan pangan akut atau tingkat yang lebih buruk.

Lembaga tersebut juga memperkirakan pada 2023, sebanyak 153 juta orang akan menderita kerawanan pangan akut pada tingkat krisis atau lebih buruk.

Menanggapi laporan tersebut, pengamat pertanian dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Surabaya, Zainal Abidin, mengatakan sektor pertanian harus diperkuat dengan meningkatkan kesejahteraan petani agar bencana kelaparan tidak sampai merambah Indonesia.

"Kesejahteraan petani sebagai produsen lini terdepan pertanian harus terjamin. Kebijakan-kebijakan yang menyebabkan petani rugi atau hanya untung tipis harus dibenahi karena mereka yang harus bekerja dan menghadapi masalah," kata Zainal.

Petani, kalau terus merugi tentu tidak berminat lagi untuk menanam, jika mereka benar-benar berhenti berproduksi, masyarakat juga yang rugi, karena pemerintah mau tidak mau pasti mengimpor kebutuhan pokok.

"Harus ada surplus atau instentif yang cukup bagi produsen agar ada kelanjutan produksi. Bila produsen berhenti berproduksi maka kita akan terjebak impor, dan akibatnya perekonomian desa akan mandeg, kesenjangan makin lebar," katanya.

Pemerintah pun akan menghadapi masalah kesenjangan ekonomi dan potensi krisis pangan.

Secara terpisah, pengajar Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti, Saptarining Wulan, mengatakan kerawanan pangan itu terjadi karena fenomena perubahan iklim, pertumbuhan jumlah penduduk dan juga maraknya alih fungsi lahan pertanian sehingga produksi pangan turun.

Melihat ancaman tersebut, dia mengatakan sudah saatnya bagi pemerintah untuk kembali ke spesies tanaman pangan asli lokal, seperti sagu, sorgum atau umbi-umbian yang merupakan makanan nenek moyang sejak dahulu.

"Pangan asli ini sudah cocok dengan iklim di daerah-daerah tempat ia tumbuh. Mau hujan, mau kering tetap tumbuh. Namun selama ini tidak dilirik, baru dilirik saat ada emergency saja, misalnya saat pandemi Covid-19 lalu," kata Saptarining.

Supaya pangan asli diminati kembali maka dia meminta pemerintah agar pangan asli tersebut disosialisasikan kembali dari dari hulu sampai hilir, dari pengadaan hingga pengolahan.

"Sosialisasi itu penting, karena lidah kita juga tergantung kebiasaan. Kalau lidahnya dibiasakan dengan sorgum maka sampai tua pun akan cari sorgum," paparnya.

Perbaikan Sistem Pangan

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Angkatan Darat AS Berlatih Menggali Kuburan Massal untuk Skenario Perang dengan Banyak Korban
    Apa mungkin AS akan melakukan invasi darat ke ...
  • Satgas Penertiban Kawasan Hutan Selidiki Perusahaan AK, Jejak Hubungan dengan Oknum Aparat Didalami
    Ditanya siapa ak itu kq malah balik bertanya? ...
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
Olahraga
Sangat Merugikan Tanpa Laga...
Olahraga
Arsenal Kokoh Di Puncak, Ma...

Belum Ada yang Mampu Meruntuhkan Keperkasaan An Se Young

42 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Belum Ada yang Mampu Merunt...
Megapolitan
Jaga Momentum Jakarta sebag...
Megapolitan
Selambatnya Tahun Depan  PA...
Olahraga
PSIM dan PSS Kompak dengan ...
Luar Negeri
Hubungan Dagang AS-Tiongkok...
Nasional
RI Lampaui Target Penghapus...
Luar Negeri
Paus Peringatkan AI Berpote...
Nasional
Tanpa Diversifikasi, Indone...
Advertisement
Jakarta National Championship Pencak Silat 2026: Ajang Cetak Bibit Unggul Pesilat Muda

Jakarta National Championship Pencak Silat 2026: Ajang Cetak Bibit Unggul Pesilat Muda

08 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.