Anomali Kisah Penyintas Bencana Awan Panas Guguran Gunung Semeru
📅 Sabtu, 21 Sep 2024, 19:41 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Koran Jakarta / Selocahyo
Ribuan penyintas bencana awan panas guguran (APG) Gunung Semeru selama dua tahun terakhir telah menempati hunian tetap di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Kini, Pemerintah bertekad menjadikan lokasi hunian tetap yang diberi nama Bumi Semeru Damai itu sebagai laboratorium penyintas bencana
LUMAJANG - Sebagai gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, Gunung Semeru yang masuk dalam wilayah Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang di Jawa Timur, telah berulang kali mengalami letusan sejak tahun 1800 an.
Pada 1 Desember 2020, Gunung Semeru mengalami letusan yang diikuti guguran awan panas dari puncak dengan jarak luncur mencapai hingga 11 kilometer. Dalam peristiwa erupsi 4 Desember 2021 guguran awan panas mengarah ke Besuk Kobokan, Desa Sapiturang, Kecamatan Pronojiwo, menimbulkan sekitar 46 korban tewas, 9 hilang dan memaksa sekitar 9 ribu orang mengungsi.
Pada 4 Desember 2022, erupsi yang terjadi lebih luas karena berdampak pada empat kecamatan dan enam desa, namun tidak sampai menimbulkan korban jiwa karena
seluruh penduduk yang sebelumnya berada pada wilayah terdampak pada tahun 2021 sudah dipindahkan ke tempat relokasi yang aman .
Kegiatan relokasi pemukiman penduduk itu berlangsung cepat. Ketika Gunung Semeru erupsi pada 4 Desember 2021, pemerintah langsung menyiapkan lahan relokasi pada 13 Desember 2021.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebulan kemudian tepatnya pada 13 Januari 2022, lahan itu mulai dibersihkan. Pada 27 Maret 2022, lahan itu mulai dibangun rumah-rumah lengkap dengan fasilitas umum dan fasilitas sosial.
Kompleksitas penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah memerlukan suatu penataan dan perencanaan yang matang, terarah, dan terpadu. Menurut Dokumen Kajian Risiko Bencana tentang kondisi risiko bencana yang ada di Provinsi Jawa Timur, sebeumnya penanggulangan bencana yang dilakukan belum didasarkan pada langkah - langkah yang sistematis dan terencana, sehingga masih dijumpai tumpang tindih program dalam upaya penanggulangan bencana di Jatim.
Menurut dokumen tersebut, pemaduan dan penyelarasan arah penyelenggaraan penanggulangan bencana di daerah membutuhkan dasar yang kuat dalam pelaksanaannya.Dengan mengetahui kemungkinan besaran kerugian maka fokus perencanaan. dan keterpaduan penyelenggaraan penanggulangan bencana menjadi lebih efektif.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sejak tahun 2022, sebanyak 1.951 Kepala Keluarga yang merupakan penyintas bencana awan panas guguran (APG) Gunung Semeru, menempati hunian tetap di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Lumajang telah menetapkan kawasan hunian penyintas di Desa Sumbermujur bernama "Bumi Semeru Damai" itu sebagai laboratorium penyintas bencana.
Kepala Desa Sumber Mujur, Yayuk Sri Rahayu, mengatakan, terdapat 1824 KK yang menempati dari 1951 hunian tetap (huntap) dan hunian sementara (huntara) yang dibnagun oleh Kementerian Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) itu.
"Dulu lahan ini berupa kebun cengkeh luas 82 hektar sebelum dijadikan lokasi hunian penyintas. Mereka datang bertahap sejak April 2022, sekarang sudah terdaftar jadi penduduk di sini," tutur kades yang baru menjabat dua hari saat erupsi tahun 2021 terjadi.
Yayuk menjelaskan, para penyintas berasal dari Desa Supit Urang dan Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo, serta Desa Sumber Wuluh dan Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, Lumajang.
"Fasilitasnya di sini lengkap mulai air, sekolah TK, SD, MAN (Madrasah Aliyah Negeri) sampai stadion dan kandang kambing komunal," tuturnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!