Obat Hipertensi Ini Bikin Dokter Terkejut, Efeknya Bertahan Dua Tahun Setelah Konsumsi Dihentikan
Senin, 09 Nov 2026, 00:27 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SHasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal medis New England Journal of Medicine.
Mason Freeman, profesor kedokteran dari Harvard University yang turut terlibat dalam penelitian, mengingatkan bahwa temuan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan baxdrostat benar-benar menyembuhkan penyakit pada sebagian pasien.
Menurut dia, penelitian dengan jumlah peserta lebih besar masih diperlukan untuk memastikan seberapa sering efek jangka panjang tersebut terjadi.
"Jika efek ini umum dan sangat persisten, pendekatan untuk mendiagnosis dan mengobati pasien ini kemungkinan akan berubah secara dramatis," kata Freeman.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia bahkan melihat kemungkinan penggunaan obat penghambat aldosteron sintase sejak awal ketika dokter mencurigai pasien mengalami aldosteronisme primer. Pasien yang memberikan respons positif berpotensi tidak perlu menjalani prosedur diagnostik invasif maupun operasi.
Diduga Menghancurkan Sel Penghasil Hormon Berlebih
Profesor Brown memiliki dugaan tersendiri mengenai alasan baxdrostat mampu memberikan efek yang bertahan lama meskipun penggunaannya sudah dihentikan.
Ia menghubungkan temuan tersebut dengan eksperimen pada tikus sekitar 20 tahun lalu. Penelitian itu memperlihatkan bahwa ketika gen yang diperlukan untuk memproduksi aldosteron dihilangkan, sel-sel penghasil hormon tersebut ikut menghilang.
Brown menduga baxdrostat mungkin memicu mekanisme serupa.
Ketika obat menekan produksi aldosteron, tubuh diduga mengalami peningkatan molekul sangat reaktif yang dikenal sebagai spesies oksigen reaktif atau reactive oxygen species (ROS). Molekul ini berpotensi menghancurkan secara selektif sel-sel yang memproduksi hormon aldosteron secara berlebihan.
"Radikal oksigen itu membunuh sel-sel dan sel-sel itu menghilang," ujar Brown.
Ia mengatakan mekanisme tersebut masih berupa hipotesis yang perlu dibuktikan melalui penelitian laboratorium.
Jika dugaan tersebut terbukti, baxdrostat berpotensi menawarkan perubahan besar dalam penanganan aldosteronisme primer. Pengobatan yang selama ini berfokus pada pengendalian tekanan darah mungkin dapat berkembang menjadi terapi yang mampu menghilangkan sumber gangguan produksi hormon.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa hasil penelitian terhadap 14 pasien belum bisa dijadikan bukti bahwa baxdrostat merupakan obat penyembuh hipertensi secara umum. Uji klinis lebih besar tetap diperlukan untuk memastikan efektivitas, keamanan, serta kemungkinan manfaat jangka panjangnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!