Kemenpar Bidik Wisatawan Sultan, Belanja Wisata Domestik Digenjot
Minggu, 08 Nov 2026, 12:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara.
JAKARTA – Potensi affluent travelers atau wisatawan berdaya beli tinggi menjadi peluang strategis bagi pengembangan industri pariwisata nasional.
Segmen ini tidak hanya memiliki kemampuan belanja lebih besar, tetapi juga cenderung mencari pengalaman perjalanan yang eksklusif, berkualitas, dan memiliki nilai tambah, mulai dari wisata budaya, kuliner, kesehatan hingga destinasi berbasis alam.
Penggarapan pasar tersebut dapat mendorong peningkatan devisa dan memperbesar kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian.
Namun, Indonesia perlu memperkuat kualitas layanan, konektivitas, infrastruktur, serta daya saing destinasi agar tidak sekadar menarik kunjungan, tetapi juga mampu meningkatkan lama tinggal dan belanja wisatawan.
Kementerian Pariwisata mengoptimalkan potensi pasar wisatawan domestik berdaya beli tinggi (affluent travelers) melalui penyelenggaraan "Nusantara Luxury Exchange: Premium Business Matching".
Sebaiknya Anda baca juga:
,"Fokus utama kami bukan lagi sekadar mengejar volume perjalanan, melainkan meningkatkan nilai belanja wisatawan nusantara per perjalanan," kata Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu (7/11).
Made menjelaskan wisatawan berdaya beli tinggi merupakan golongan pelancong yang mengutamakan kenyamanan dan pengalaman perjalanan eksklusif.
Melalui forum bisnis yang diselenggarakan pada Rabu (28/10) di Hotel Majapahit, Surabaya itu, Kementerian Pariwisata mempertemukan 12 penyedia layanan pariwisata premium Indonesia dengan agen perjalanan, layanan pramutamu mewah, perbankan prioritas, serta perencana korporat.
"Kami ingin mengalihkan sebagian belanja leisure outbound dari pasar affluent menjadi belanja pariwisata domestik. Indonesia memiliki kekayaan destinasi kelas dunia yang sangat luar biasa, kini tugas kita bersama adalah mengemas dan menyajikannya sebagai produk eksklusif berkualitas tinggi yang mudah dipilih dan dibeli," ujar Made.
Kegiatan tersebut dirancang untuk menangkap peluang dari besarnya pasar wisatawan Indonesia yang bepergian ke luar negeri.
Berdasarkan data BPS tahun 2025, tercatat 9,16 juta perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri dengan rata-rata pengeluaran mencapai 1.875 dolar AS (Rp 33,95 juta) per perjalanan. Lebih dari 50 persen perjalanan tersebut bertujuan untuk berlibur.
Pemilihan Surabaya sebagai tuan rumah penyelenggaraan kali ini, katanya, mempertimbangkan pertumbuhan ekonominya yang mencapai 5,87 persen pada 2025, melampaui rata-rata nasional.
Surabaya juga memiliki posisi strategis dengan dukungan Bandara Internasional Juanda sebagai pintu gerbang perjalanan wisatawan menuju berbagai destinasi Nusantara.
Dalam forum tersebut, sebanyak 12 penyedia layanan pariwisata eksklusif, mulai dari resort mewah, operator kapal pinisi, hingga penyedia pengalaman gastronomi premium, memperkenalkan produk unggulan yang berfokus pada tiga pilar utama, yakni bahari, kebugaran dan gastronomi.
Penawaran tersebut mengedepankan keistimewaan, keaslian budaya, serta privasi bagi wisatawan.
Made mengatakan, segmen wisata mewah memiliki potensi besar dalam meningkatkan kontribusi ekonomi lokal sekaligus mendukung kampanye nasional #DiIndonesiaAja.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!