- Home
-
- Luar Negeri
-
- Putra Mahkota Arab Saudi K...
Putra Mahkota Arab Saudi Kucurkan Pinjaman Rp6,5 Triliun untuk Perkuat Pertahanan Suriah
Kamis, 05 Nov 2026, 12:19 WIBRIYADH â Suriah dan Arab Saudi memperkuat hubungan strategis melalui penandatanganan sejumlah kesepakatan, termasuk kerja sama pertahanan dan pinjaman senilai lebih dari 403 juta dolar AS atau sekitar Rp6,5 triliun untuk membantu pemulihan Suriah.
Kesepakatan tersebut ditandatangani dalam pertemuan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di Riyadh, Rabu (4/11).
Seperti dilansir Al Jazeera, Kamis (5/11/2026), kunjungan tersebut menjadi perjalanan kedua al-Sharaa ke Riyadh dalam kurun waktu kurang dari satu bulan.
Kementerian Luar Negeri Suriah menyebut perjanjian kerja sama antara kementerian pertahanan kedua negara sebagai salah satu kesepakatan paling penting dalam pertemuan tersebut. Namun, pemerintah Suriah belum mengungkapkan secara terperinci bentuk kerja sama maupun cakupan militernya.
Kesepakatan pertahanan ini menarik perhatian karena muncul di tengah pembahasan Suriah mengenai kemungkinan bergabung dengan aliansi pertahanan yang melibatkan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan.
Menteri Luar Negeri Suriah Asaad al-Shaibani sebelumnya mengungkapkan bahwa pemerintahnya sedang mengevaluasi kemungkinan bergabung dengan aliansi yang disebut sebagai Pakta Mekah tersebut.
Pernyataan itu disampaikan al-Shaibani dalam Dialog Manama, sebuah konferensi keamanan di Bahrain, pada Sabtu.
"Saat ini sedang berlangsung diskusi untuk mengevaluasi masuknya Suriah ke dalam aliansi Mekah," ujarnya.
Jika terealisasi, keterlibatan Suriah dalam kerja sama pertahanan tersebut berpotensi memperluas hubungan keamanan antara Damaskus dengan sejumlah negara penting di kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan.
Peneliti politik Suriah Ahmed Qassem menilai kunjungan kedua al-Sharaa ke Riyadh dalam waktu singkat menunjukkan besarnya tantangan keamanan yang sedang dihadapi kawasan tersebut maupun Suriah.
Dia berpendapat Suriah membutuhkan kekuatan pencegah melalui kerja sama pertahanan regional untuk melindungi kedaulatan negara dan menghadapi potensi peningkatan pelanggaran wilayah oleh Israel.
Arab Saudi Kucurkan Dana Rekonstruksi
Selain kerja sama pertahanan, Arab Saudi juga menyepakati pemberian pinjaman lunak senilai 403 juta dolar AS melalui Dana Pembangunan Saudi.
Dana tersebut disalurkan berdasarkan enam perjanjian dengan Kementerian Keuangan Suriah untuk mendukung pemulihan sejumlah sektor penting, mulai dari kesehatan, perumahan, pertahanan sipil, energi, hingga penyediaan air bersih.
Berdasarkan laporan Kantor Berita Saudi (SPA), alokasi pembiayaan tersebut meliputi:
* 100 juta dolar AS untuk membangun kembali dan melengkapi fasilitas pelayanan kesehatan yang rusak.
* 60 juta dolar AS untuk memperbaiki bangunan perumahan yang mengalami kerusakan.
* 105 juta dolar AS untuk memperkuat sektor pertahanan sipil.
* 90 juta dolar AS untuk merehabilitasi pembangkit listrik tenaga termal Aleppo.
* 30 juta dolar AS untuk mengembangkan sistem penyediaan air minum di Damaskus dan Idlib.
Selain pembiayaan tersebut, kedua negara juga menandatangani nota kesepahaman mengenai kerja sama industri, pertanian, dan perlindungan lingkungan.
Dalam pertemuan di Riyadh, al-Sharaa dan Mohammed bin Salman turut membahas perkembangan situasi regional dan internasional, termasuk dampak eskalasi militer terhadap keamanan kawasan.
Kedua pemimpin menyoroti pentingnya menjaga keselamatan pelayaran internasional, keandalan pasokan energi, serta stabilitas ekonomi global.
Mereka juga menyerukan deeskalasi dan penyelesaian konflik melalui jalur damai. Keduanya mendesak penghentian segera berbagai tindakan yang mengancam keamanan navigasi maritim di Laut Merah, Selat Bab al-Mandeb, dan Selat Hormuz.
Pembahasan tersebut berlangsung ketika Arab Saudi menghadapi kembali meningkatnya ancaman keamanan dari kelompok Houthi di Yaman. Kelompok tersebut dilaporkan pernah menyerang bandara dan fasilitas minyak Arab Saudi dalam konflik melawan pasukan yang bersekutu dengan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Arab Saudi bahkan telah meminta dukungan pertahanan maupun ofensif dari Amerika Serikat serta sejumlah negara Eropa dan Timur Tengah untuk menghadapi ancaman tersebut.
Hubungan Menguat Pascajatuhnya Assad
Arab Saudi menjadi salah satu pendukung penting pemerintahan Suriah setelah Ahmed al-Sharaa mengambil alih kekuasaan menyusul penggulingan Bashar al-Assad pada Desember 2024.
Kedekatan kedua negara juga terlihat dalam pertemuan sebelumnya di Riyadh pada 6 Oktober 2026.
Saat itu, kedua pemimpin membahas rencana rekonstruksi Suriah, termasuk pembangunan kembali infrastruktur yang rusak dan berbagai fasilitas penting negara tersebut.
Rangkaian kesepakatan terbaru menunjukkan hubungan Damaskus dan Riyadh tidak lagi hanya berfokus pada dukungan pemulihan ekonomi, tetapi juga mulai diperkuat melalui kerja sama keamanan dan pertahanan di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
KM Nurul Salsa Tenggelam di Selayar: 46 Penumpang Selamat, 23 Masih Dicari Tim SAR
-
Jakarta Sesak Polusi, Industri dan Kemacetan Jadi Biang Masalah
-
Ketum PBNU Tegaskan Khidmah NU Berlandaskan Qanun Asasi
-
Disiapkan Bonus dalam Aturan Baru ESDM, 67 Cekungan Frontier Bakal Dikebut Eksplorasinya
-
Tangsel Jadi Tuan Rumah Porprov VII, Hotel Penuh, Kuliner Laris, Ekonomi Lokal Menggeliat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.