40% Bahan Baku Masih Impor, RI Ternyata Raja Pulp Dunia! Ini Kata Menperin Sarmuji
Rabu, 04 Nov 2026, 13:46 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA -Industri kertas nasional masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan kertas daur ulang (KDU) sebagai bahan baku. Dari total kebutuhan 7,06 juta ton, sebanyak 4,22 juta ton dipasok dari dalam negeri, sementara 2,84 juta ton atau sekitar 40 persen berasal dari impor.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji pun mendorong perbaikan sistem pengumpulan kertas bekas di dalam negeri, termasuk melalui optimalisasi bank sampah.
"Kita perlu memperbaiki sistem pengumpulan kertas daur ulang di dalam negeri melalui integrasi data, pendataan pemasok, optimalisasi bank sampah, serta fasilitasi business matching. Langkah ini penting untuk memperkuat rantai pasok industri sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular," tegas Sarmuji pada Pembukaan Kongres Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Tahun 2026 di Jakarta, Selasa (3/11).
Eksportir Pulp Keempat Dunia
Di luar tantangan bahan baku, Sarmuji menilai industri pulp dan kertas memiliki peran strategis bagi perekonomian nasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Industri pulp dan kertas memiliki peran strategis dalam menopang kinerja ekspor, memenuhi kebutuhan berbagai sektor industri, serta menyerap tenaga kerja. Karena itu, penguatan hilirisasi dan diversifikasi produk harus terus didorong," ujarnya.
Pada 2025, produksi pulp nasional mencapai 11,69 juta ton dari kapasitas terpasang 14,48 juta ton per tahun. Produksi kertas mencapai 18,65 juta ton dari kapasitas 25,37 juta ton per tahun.
Industri ini mencatatkan surplus neraca perdagangan sepanjang 2021-2025, dengan nilai ekspor mencapai USD 8,2 miliar pada 2025. Pada semester I 2026, ekspor pulp tercatat USD 1,68 miliar dan ekspor kertas USD 2,35 miliar.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Indonesia memiliki posisi yang cukup kuat dalam perdagangan pulp dan kertas dunia. Pada tahun 2025, Indonesia menempati peringkat keempat sebagai eksportir pulp serta peringkat ke-14 sebagai eksportir kertas dan karton dunia," kata Sarmuji.
Saat ini terdapat 113 perusahaan skala besar di industri pulp dan kertas nasional. Industri ini menyerap sekitar 290 ribu tenaga kerja langsung serta sekitar 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung.
Hilirisasi hingga Industri Tekstil
Sarmuji menekankan peluang pengembangan masih sangat terbuka melalui perluasan produk hilir. Selain kertas tulis dan cetak, pulp juga diolah menjadi kertas kemasan, karton, kotak karton bergelombang (corrugated box), kantong kertas, label, hingga berbagai jenis tisu.
Pengembangan pulp larut (dissolving pulp) bahkan membuka hilirisasi hingga industri tekstil melalui produksi serat rayon atau viscose.
"Industri pulp dan kertas tidak hanya menopang industri kemasan dan percetakan, tetapi juga menjadi bagian penting dari rantai pasok industri tekstil nasional. Ini merupakan peluang besar untuk memperkuat keterkaitan antarindustri sekaligus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri," jelas Sarmuji.
Ia menambahkan, meningkatnya kebutuhan global terhadap kemasan berbasis kertas, flexible packaging berbasis serat, serta produk berbahan baku terbarukan menjadi momentum bagi industri nasional untuk memperluas pasar.
Bahan Penolong dan Industri Hijau
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!