- Home
-
- Luar Negeri
-
- Bentrokan Kembali Pecah Sa...
Bentrokan Kembali Pecah Saat Unjuk Rasa di Prancis
Senin, 02 Nov 2026, 02:50 WIBPARIS - Bentrokan meletus di Paris dan kota-kota lain di Prancis pada Sabtu (31/10) setelah ratusan ribu orang menggelar aksi protes untuk akhir pekan ketiga terkait melonjaknya biaya hidup.
Lebih dari 500 orang ditangkap saat polisi mengerahkan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan para perusuh di sela-sela demonstrasi, di mana para pengunjuk rasa tampak mengenakan kostum Halloween.
Meskipun Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez menyatakan bahwa aksi unjuk rasa secara umum berlangsung tertib, ia mengecam kerusuhan yang terjadi, termasuk insiden di Paris di mana seorang petugas polisi terkena lemparan bom molotov.
Kementerian Dalam Negeri Prancis pada Sabtu menyatakan bahwa polisi telah menangkap 565 orang di seluruh negeri. Empat petugas polisi dan seorang anggota gendarmerie (polisi militer) terluka di Paris; tiga diantaranya mengalami luka bakar akibat bom molotov.
Setelah ada aksi pawai di pinggiran Paris, bentrokan pecah antara polisi dan sejumlah demonstran saat massa tiba di tujuan akhir mereka. Menurut pengamatan jurnalis AFP, puluhan orang bertopeng yang berpakaian serba hitam menggunakan palu untuk mencungkil batu trotoar, lalu melemparkannya ke arah polisi. Aparat merespons dengan menembakkan gas air mata dan melakukan beberapa kali tindakan tegas menggunakan tongkat.
Mendagri Nunez menyatakan terjadinya tingkat kekerasan yang luar biasa dari sebagian pengunjuk rasa, seraya menuding kelompok ekstremis sayap kiri sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap aparat keamanan.
Ia kemudian menyebut insiden pelemparan bom molotov ke arah petugas polisi antihuru-hara di Paris sebagai percobaan pembunuhan. "Kami sepenuhnya siap menghadapi mereka yang ingin membuat onar malam ini," tegas dia.
Akibat kembali terjadinya bentrokan, jam malam kembali diberlakukan di kawasan pusat kota Paris, yakni di wilayah Republique dan Chatelet-Les Halles, pada hari Sabtu dan Minggu. Langkah itu diambil setelah Kementerian Dalam Negeri Prancis menyatakan bahwa ada elemen-elemen radikal di sejumlah kota, termasuk Bordeaux, Toulouse, dan Marseille, berupaya memasuki pusat kota dengan tujuan melakukan vandalisme dan penjarahan.
Di Lyon, kota terbesar ketiga di Prancis, massa melemparkan berbagai benda ke arah polisi, yang kemudian direspons oleh petugas dengan menembakkan gas air mata. Sedangkan di Kota Toulouse, polisi menggunakan meriam air untuk membubarkan aksi unjuk rasa tanpa izin yang diikuti oleh beberapa ribu orang.
Pihak berwenang Prancis menyatakan bahwa sekitar 320.000 orang ikut serta dalam aksi di seluruh Prancis, termasuk 70.000 orang di Paris. Sementara itu organisasi kepemudaan lokal menyebutkan jumlah peserta demonstrasi mencapai hampir setengah juta orang, dengan 200.000 di antaranya berada di ibu kota.
Kerusuhan di Jerman
Sementara itu dari Jerman dilaporkan bahwa para perusuh bertopeng telah menjarah toko di Kota Frankfurt saat aksi demonstrasi Gen Z besar-besaran berujung ricuh pada Sabtu. Akibatnya aparat kepolisian Jerman terpaksa mengerahkan meriam air untuk menghadapi kelompok pemuda yang melemparkan bom molotov.
Beberapa petugas kepolisian terluka dalam kerusuhan tersebut, yang terjadi setelah puluhan ribu orang bergabung dalam aksi protes yang digerakkan oleh kaum muda di berbagai wilayah Jerman, yang diorganisir oleh kelompok bernama GenZ regelt! (Gen Z yang memegang kendali!).
Demonstrasi yang terinspirasi oleh gerakan serupa di Prancis dan Italia ini, menuntut agar elite politik lebih memperhatikan aspirasi generasi muda. Aksi demo yang awalnya berlangsung cukup damai sepanjang hari, berubah menjadi menegangkan pada malam harinya ketika sejumlah kelompok pemuda menolak untuk membubarkan diri.
Kekerasan pun pecah di berbagai kota besar, termasuk Berlin, Cologne, dan Hamburg. Situasi paling parah terjadi di pusat keuangan Frankfurt. Di sana, polisi menghadapi para pengunjuk rasa yang melemparkan batu, kembang api, dan bom molotov, lalu merespons dengan menggunakan meriam air serta semprotan merica.
Menurut harian Bild, sejumlah toko menjadi sasaran penjarahan. Akibatnya sebagian besar jalan perbelanjaan utama di Frankfurt ditutup saat pihak berwenang berupaya meredam kerusuhan. AFP/I-1
- Bom Molotov
- Halloween
- Aksi Demonstrasi
- aksi kerusuhan
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Insentif Pajak Harus Produktif, Investasi dan Lapangan Kerja Jadi Tolok Ukur
-
Buka Sidang Kabinet Paripurna, Presiden Prabowo Soroti Tantangan Global
-
Nandur Srawung Dilakukan Dinas Kebudayaan Yogyakarta
-
Prancis Belum Reda, Macron Was-was Aksi Demo Ricuh Bakal Pecah Lagi
-
Pembinaan Perajin Lokal di Jakpus untuk Memperluas Pemasaran di Pasar Digital
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.