90 Persen Naskah Siswa Terindikasi Pakai AI, Ada Apa dengan Literasi?
Senin, 02 Nov 2026, 00:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
Makassar - Akademisi sekaligus penulis asal Sulawesi Selatan, Anis Kurniawan mengingatkan generasi muda agar tidak tergantung pada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), yang berpotensi menggerus kejernihan berpikir, kreativitas, dan otentisitas karya tulis siswa.
"Hal itu dari pengalaman saya ketika menjadi juri lomba penulisan novel dan cerita pendek tingkat siswa yang diikuti 40 peserta. Dari pengamatan selama proses penjurian, ada indikasi kuat penggunaan AI pada sekitar 90 persen naskah," kata Anis di Makassar, Minggu (1/11).
Saat menjadi pemateri dalam Seminar Literasi bertajuk "Menjaga Jiwa dalam Aksara" ia menyebutkan penggunaan AI secara berlebihan telah memengaruhi dua sektor penting, yakni jurnalistik dan pendidikan.
Di dunia jurnalistik, lanjut dia, teknologi tersebut mendorong produksi konten secara massal demi mengejar kecepatan dan monetisasi.
Sementara di lingkungan pendidikan, kemudahan AI membuat siswa semakin bergantung pada jawaban instan, sehingga tradisi membaca, diskusi kritis, dan proses berpikir mandiri berisiko semakin melemah.
Kegiatan tersebut diikuti 108 guru dan 370 siswa SMA se-Kota Makassar. Dalam pemaparannya, Anis membedah perubahan besar ekosistem kepenulisan sejak hadirnya berbagai teknologi AI seperti ChatGPT dan Claude yang kini mempermudah produksi teks, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan terhadap kualitas dan kedalaman karya.
Kondisi tersebut, kata dia, terlihat dari kecenderungan naskah yang memiliki pola seragam, kalimat normatif, serta pesan moral yang disampaikan secara kaku.
Fenomena ini, lanjut Anis, menjadi peringatan bahwa kemudahan teknologi dapat menghilangkan karakter dan keunikan gagasan apabila penulis menyerahkan seluruh proses kreatif kepada mesin.
"Kita akan kehilangan otentitas, kita kehilangan kejernihan," tegas Anis.
Tulisan Instan
Pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi Klikhijau.com tersebut menjelaskan bahwa karya sastra membutuhkan waktu, kesabaran, dan pergulatan pemikiran untuk menemukan kedalaman maknanya. Ketika proses tersebut dipangkas demi menghasilkan tulisan secara instan, karya yang dihasilkan berisiko hanya menjadi rangkaian kata tanpa pengalaman, substansi, dan kedalaman emosional.
Ia menyoroti bagaimana algoritma platform digital dapat mengunci pembaca dalam lingkaran selera yang sama melalui mekanisme collaborative filtering dan content-based filtering.
Akibatnya, pembaca cenderung terus disuguhi karya serupa berdasarkan riwayat bacaan sebelumnya, sehingga kesempatan mengenal karya yang lebih kompleks dan menantang pemikiran menjadi terbatas.
Menurut dia, kondisi tersebut semakin memperkuat pentingnya peran guru, editor, kritikus sastra, dan komunitas literasi dalam membangun ekosistem bacaan berkualitas. Penulis, kata dia, semestinya tidak hanya mengikuti selera pasar, tetapi juga mampu menghadirkan gagasan baru yang memperluas perspektif pembaca.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, ia menawarkan empat langkah penting bagi generasi muda, yakni mempertahankan kebiasaan membaca buku cetak, membangun tradisi menulis secara organik, menggunakan AI sebatas alat bantu dan bukan pengganti kreativitas, serta terus menjaga ruang dialog dan diskusi kritis.
Ia mendorong guru Bahasa Indonesia agar berperan sebagai penggerak ekosistem literasi di sekolah dengan memperkenalkan karya sastra bermutu, termasuk karya-karya yang menantang pemikiran seperti novel "Cantik Itu Luka" karya Eka Kurniawan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!