Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Hujan Lokal Selamatkan NTB, Kekeringan Parah Kini Cuma Tersisa di Kecamatan Ini

1 Minggu, 01 Nov 2026, 21:20 WIB | Oleh:
Hujan Lokal Selamatkan NTB, Kekeringan Parah Kini Cuma Tersisa di Kecamatan Ini Hujan Lokal Selamatkan NTB, Kekeringan Parah Kini Cuma Tersisa di Kecamatan Ini Doc: ANTARA/HO-BMKG
Ket. Peta peringatan dini kekeringan meteorologis di wilayah Nusa Tenggara Barat.

MATARAM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat status kekeringan meteorologis di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) menyusut signifikan dan kini hanya tersisa di dua kecamatan di Kabupaten Bima. 

"Kekeringan meteorologis level siaga ada di Kecamatan Lambu, sedangkan status awas terletak di Kecamatan Sape," kata Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Nindya Kirana di Mataram, Minggu (1/11).

Fenomena hujan lokal yang terjadi sejak akhir Oktober 2026 hingga saat ini telah menyebabkan banyak daerah keluar dari status kekeringan meteorologis tersebut.

Hujan lokal yang turun merata secara sporadis di hampir seluruh wilayah Nusa Tenggara Barat yang disebabkan oleh dinamika atmosfer. Kemunculan hujan lokal menjadi penanda periode pancaroba, yaitu peralihan musim kemarau ke musim penghujan.

Sepanjang dasarian III Oktober atau 21-31 Oktober 2026, curah hujan di sebagian besar wilayah NTB masih tergolong rendah berkisar 0 sampai 10 milimeter per dasarian.

Meski demikian, sebagian kecil wilayah tercatat mengalami hujan kategori menengah sebesar 51 hingga 150 milimeter per dasarian. Curah hujan tertinggi tercatat di Pos Hujan Kotaraja (Montong Gading) Kabupaten Lombok Timur sebesar 104 milimeter dasarian.

Pada dasarian I November atau periode 1-10 November 2026, BMKG memperkirakan peluang curah hujan lebih dari 20 milimeter per dasarian mencapai lebih dari 90 persen di hampir seluruh Pulau Lombok, Sumbawa Barat, dan sebagian wilayah Sumbawa.

Sementara itu, potensi hujan lebih dari 50 milimeter per dasarian dengan peluang 50 hingga lebih dari 90 persen diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Mataram, Narmada, Lingsar, Gunungsari, Kediri, Pringgarata, Mantang, Batukliang Utara, Kopang, dan Jonggat.

"Kami mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca dan iklim resmi BMKG sebagai langkah antisipasi terhadap potensi dampak bencana hidrometeorologi," pungkas Nindya.

Berdasarkan laporan BMKG, fenomena El Nino yang menimbulkan kemarau panjang saat ini berada pada kategori sangat kuat dengan indeks ENSO mencapai +3,05 derajat Celcius. El Nino diprediksi berpotensi bertahan hingga awal 2027.

Selain El Nino, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) juga berada pada fase positif dengan indeks +0,765 yang diperkirakan bertahan hingga akhir 2026.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
Megapolitan
BPBD Bogor: Fenomena Tanah ...
Luar Negeri
AS Pilih Pakistan untuk Men...

Badan Geologi: Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi

50 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Daerah
Badan Geologi: Gunung Anak ...
Advertisement
Empat Tips Mengatur Pengeluaran agar Tidak Boros saat Sering Bayar Pakai QRIS

Empat Tips Mengatur Pengeluaran agar Tidak Boros saat Sering Bayar Pakai QRIS

01 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.