BEI Ungkap Kepemilikan Saham di Atas 1 Persen, Indonesia Disebut Hanya Bersama India

Minggu, 01 Nov 2026, 02:00 WIB

Lombok Tengah - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan Indonesia dan India menjadi dua negara di dunia yang membuka informasi nama pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen kepada publik sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi pasar modal.

"Kami sudah menyampaikan kepada publik nama pemegang saham di atas 1 persen. Di dunia ini hanya Indonesia dan India yang melakukan itu," kata Direktur Utama BEI Jeffery Hendrik dalam lokakarya bertajuk Transformasi Berkelanjutan untuk Pasar Modal Terpercaya dan Tangguh di Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (31/10).

Ket. Foto: Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffery Hendrik memaparkan kondisi pasar modal Indonesia dalam sesi wawancara cegat usai lokakarya bertajuk Transformasi Berkelanjutan untuk Pasar Modal Terpercaya dan Tangguh di Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (31/10). — Sumber: Antara

Jeffery menuturkan keterbukaan informasi tersebut merupakan bagian dari reformasi pasar modal Indonesia untuk meningkatkan kepercayaan investor. BEI juga menambahkan informasi mengenai hubungan afiliasi antarpemegang saham agar investor dapat mengetahui keterkaitan kepemilikan di suatu emiten.

Ia mengatakan BEI terus meningkatkan kualitas dan perincian data yang disampaikan kepada publik sehingga struktur kepemilikan perusahaan tercatat dapat diketahui secara lebih utuh.

"Sebelumnya hanya nama pemegang sahamnya, kemudian berikutnya kami tambahkan informasi atas klasifikasi investornya. Ke depan, kami tambahkan lagi apakah nama itu terafiliasi atau tidak terafiliasi untuk meningkatkan kualitas dari transparansi tersebut," ucapnya.

Selain itu, BEI meningkatkan granularitas data investor dengan memperluas klasifikasi dari sebelumnya sembilan kategori menjadi 39 kategori.

BEI juga mengumumkan saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration sebagai informasi tambahan bagi investor dalam mengambil keputusan investasi.

Di sisi lain, BEI menargetkan laba bersih sebesar Rp563,9 miliar pada 2027, atau meningkat 22,76 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan target dalam Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2026 Revisi.

Jeffery mengatakan pertumbuhan laba bersih tersebut ditopang oleh proyeksi kenaikan Rata-Rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) menjadi Rp21 triliun pada 2027, atau tumbuh 16,7 persen dibandingkan target dalam RKAT 2026 Revisi sebesar Rp18 triliun.

"Kenaikan pendapatan ini ditopang oleh sejumlah pendorong utama meliputi proyeksi aktivitas transaksi efek yaitu nilai transaksi rata-rata harian Rp21 triliun, kemudian juga kontribusi dari jasa pencatatan efek serta pertumbuhan jasa layanan data kebursaan yang terus bertumbuh setiap tahunnya," kata Jeffery.

Dalam RUPSLB tersebut, BEI juga memproyeksikan pendapatan pada 2027 mencapai Rp2,59 triliun, atau tumbuh 14,6 persen dibandingkan target dalam RKAT 2026 Revisi. Target tersebut disusun dengan asumsi 241 hari bursa.

BEI berharap peningkatan transparansi dan kualitas data pasar modal, disertai pertumbuhan aktivitas transaksi, dapat memperkuat kepercayaan investor domestik maupun asing.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.