Musim Hujan Mengintai, Orang Tua Perlu Waspadai Tiga Penyakit pada Anak
Sabtu, 31 Okt 2026, 04:05 WIBJakarta - Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo dr. Aisya Fikritama Aditya, Sp.A mengingatkan orang tua agar lebih memperhatikan kesehatan anak saat memasuki masa peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.
Menurut Aisya, perubahan suhu dan kelembapan, pola aktivitas, serta meningkatnya paparan kuman di lingkungan tertentu dapat memengaruhi risiko infeksi pada anak.
âBukan berarti perubahan cuaca secara langsung membuat anak sakit, tetapi perubahan suhu dan kelembapan, pola aktivitas, serta meningkatnya paparan kuman di lingkungan tertentu dapat memengaruhi risiko infeksi,â kata Aisya di Jakarta, Jumat (30/10).
Sejumlah penyakit yang perlu diwaspadai pada masa peralihan musim antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), seperti batuk, pilek, dan influenza. Anak juga berisiko mengalami diare akibat mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi.
Selain itu, risiko demam berdarah dengue (DBD) dapat meningkat ketika terdapat banyak genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Jika terjadi banjir, orang tua juga perlu mewaspadai leptospirosis, terutama pada anak yang berkontak dengan air atau tanah yang tercemar urine hewan terinfeksi.
Aisya mengatakan gejala awal yang perlu diperhatikan antara lain demam, pilek, batuk, sakit tenggorokan, muntah, diare, serta kondisi anak yang tampak lebih lemas dan kurang aktif dari biasanya.
Namun, gejala tersebut tidak selalu menunjukkan penyakit yang sama. Demam pada musim hujan, misalnya, tidak boleh langsung dianggap sebagai flu karena bisa juga disebabkan oleh DBD atau infeksi lainnya.
Orang tua diimbau segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami sesak napas, penurunan kesadaran, kejang, atau tanda dehidrasi. Pemeriksaan juga perlu segera dilakukan jika demam disertai nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, maupun perdarahan.
Untuk mengurangi risiko penyakit, Aisya menekankan pentingnya membangun kebiasaan hidup bersih dan sehat sejak dini.
âPastikan anak mencuci tangan dengan sabun, mengonsumsi makanan yang matang dan air minum yang aman, serta tidak jajan sembarangan,â katanya.
Orang tua juga perlu menjaga kebersihan rumah, membersihkan tempat penampungan air secara rutin, menutup tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, serta menggunakan perlindungan antinyamuk sesuai usia anak.
Jika lingkungan mengalami banjir, anak sebisa mungkin tidak dibiarkan bermain di air banjir atau genangan kotor karena berisiko terkontaminasi berbagai kuman.
Makanan Bergizi
Selain kebersihan lingkungan, pemenuhan nutrisi juga menjadi bagian penting dalam menjaga daya tahan tubuh anak. Aisya menyarankan pemberian makanan bergizi seimbang sesuai usia, yang mencakup karbohidrat, protein, lemak sehat, sayur, dan buah.
Sumber protein dapat diperoleh dari telur, ikan, ayam, daging, tahu, maupun tempe. Kebutuhan cairan anak juga harus terpenuhi. Sementara itu, bayi tetap perlu mendapatkan ASI sesuai kebutuhan dan makanan pendamping ASI (MPASI) sesuai usia, mulai sekitar enam bulan.
Anak juga perlu memperoleh waktu tidur yang cukup, beraktivitas fisik secara teratur sesuai kondisi, serta mendapatkan imunisasi sesuai jadwal.
Aisya menegaskan tidak ada satu jenis makanan atau minuman tertentu yang dapat mencegah seluruh penyakit. Perlindungan kesehatan anak perlu dilakukan melalui kombinasi pemenuhan gizi, kebersihan, imunisasi, istirahat, dan lingkungan yang sehat.
Terkait pemberian vitamin, ia mengatakan tidak semua anak membutuhkan suplemen tambahan hanya karena memasuki musim hujan. Anak yang sehat, tumbuh dengan baik, dan kebutuhan gizinya terpenuhi melalui makanan beragam umumnya tidak memerlukan suplemen secara rutin untuk mencegah infeksi.
Suplemen dapat dipertimbangkan apabila anak mengalami kekurangan zat gizi, memiliki pola makan sangat terbatas, kondisi medis tertentu, gangguan penyerapan nutrisi, atau kebutuhan khusus berdasarkan penilaian dokter.
Dalam kondisi tertentu, vitamin D, zat besi, atau mikronutrien lain memang dapat dibutuhkan sesuai usia, pola makan, faktor risiko, dan pedoman klinis yang berlaku.
âVitamin bukan pengganti makanan bergizi dan bukan jaminan anak tidak akan sakit. Vitamin A dan D, misalnya, termasuk vitamin larut lemak yang dapat menumpuk dalam tubuh bila dikonsumsi berlebihan,â ujar Aisya yang juga dosen Fakultas Kedokteran UNS.
Ia mengingatkan orang tua agar tidak memberikan berbagai suplemen sekaligus tanpa mengetahui kandungan dan dosisnya karena konsumsi vitamin berlebihan justru dapat menimbulkan efek samping.
Jika anak sulit makan, berat badannya tidak naik dengan baik, atau dicurigai mengalami kekurangan zat gizi, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak agar pemberian suplemen sesuai kebutuhan.
âKenali gejala awal penyakit dan jangan menunda pemeriksaan jika anak menunjukkan tanda bahaya. Menjaga kesehatan anak bukan hanya tentang mengobati saat sakit, tetapi juga membangun kebiasaan sehat setiap hari,â tuturnya.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim hujan berlangsung mulai November 2026 dengan puncak pada Desember 2026.
Musim hujan diperkirakan datang secara bertahap. Pada November 2026, sebanyak 185 Zona Musim (ZOM) atau 24,66 persen luas daratan diprediksi mulai memasuki musim hujan. Jumlah tersebut meningkat pada Desember 2026 menjadi 266 ZOM atau mencakup 17,31 persen luas daratan.
BMKG juga memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di sebagian besar wilayah Indonesia akan datang lebih lambat dibandingkan rata-rata klimatologis akibat pengaruh fenomena El Nino yang sangat kuat.
- Musim Peralihan
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.