Menag Ingin Pesantren di Indonesia Bangkitkan Kembali Tradisi Keilmuan Baitul Hikmah

Sabtu, 31 Okt 2026, 06:00 WIB

Jakarta - Menteri Agama Nasaruddin Umar menginginkan pesantren di Indonesia melahirkan kembali tradisi keilmuan seperti di Baitul Hikmah, sebagai pusat perkembangan ilmu pengetahuan pada masa kejayaan peradaban Islam.

"Kalau perlu Baitul Hikmah akan bangkit kembali di lingkungan pondok pesantren di Indonesia," ujar Menag dalam Munajat Santri untuk Negeri yang digelar di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (30/10).

Ket. Foto: Sejumlah santri dan santriwati menghadiri acara Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (30/10). — Sumber: Antara

Nasaruddin Umar mengatakan Baitul Hikmah merupakan salah satu contoh penting bagaimana lembaga pendidikan Islam mampu menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, dan kolaborasi para ilmuwan dari berbagai latar belakang.

Ia menjelaskan Baitul Hikmah didirikan pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid pada 786 Masehi dan kemudian dikembangkan oleh putranya, Khalifah Al-Ma'mun, pada 813 Masehi.

Menurut dia, tradisi keilmuan yang berkembang di Baitul Hikmah melahirkan banyak ilmuwan dengan kontribusi besar terhadap perkembangan peradaban dunia modern saat ini.

Ia mencontohkan Jabir bin Hayyan dalam bidang kimia, Al-Khawarizmi dalam matematika, Ibnu Haitsam dalam bidang optika, Ibnu Sina dalam kedokteran, serta Al-Razi dalam pengembangan ilmu kedokteran.

Selain itu, Ibnu Rusyd sebagai sosok ilmuwan yang menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari kedokteran, filsafat, hingga fikih.

Menurut Menag, keunggulan para ilmuwan tersebut menunjukkan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan tidak seharusnya dibatasi hanya pada satu bidang keilmuan.

Ia juga menyoroti keterbukaan tradisi pendidikan di Baitul Hikmah yang mempertemukan ilmuwan Muslim, Kristen, Yahudi, Hindu, dan kelompok lainnya dalam satu lingkungan pembelajaran dan penelitian.

"Di dalam satu majelis mereka mendirikan laboratorium. Nah, ini yang dilakukan di abad pertengahan," katanya.

Menag menilai tradisi tersebut harus menjadi inspirasi bagi pesantren di Indonesia untuk mengembangkan pendidikan yang terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan serta mendorong kerja sama lintas disiplin.

Lebih lanjut, Menag menegaskan bahwa tantangan pesantren saat ini tidak hanya mempertahankan tradisi pendidikan agama, tetapi juga mempersiapkan santri agar mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Imam Besar Masjid Istiqlal itu berharap semakin banyak santri yang menjadi ilmuwan, dokter, insinyur, pengusaha, ahli teknologi, pemimpin masyarakat, hingga pemimpin bangsa.

"Zaman telah berubah, tetapi semangat pengabdian tidak boleh berubah," ujarnya.

  • Revitalisasi Pesantren

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.