IHSG Berdarah-darah, Sepanjang Tahun Ini Rontok 41,52 Persen

Jumat, 30 Okt 2026, 19:30 WIB

JAKARTA – Pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun ini mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap kepercayaan investor di pasar modal domestik.

Laporan dan evaluasi MSCI menjadi salah satu pukulan yang memperburuk sentimen pasar, terutama terkait persepsi investor terhadap transparansi, tata kelola, dan kredibilitas pasar saham Indonesia. Kondisi tersebut berisiko memicu aksi jual dan mendorong investor asing menahan ekspansi investasi.

Ket. Foto: Ilustrasi-Pekerja melintas di depan layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Bayu Pratama S.

Karena itu, pembenahan integritas pasar dan peningkatan kualitas tata kelola menjadi krusial agar IHSG tidak terus terbebani oleh persoalan struktural dan kehilangan daya tarik di mata investor global.

Hingga 30 Oktober 2026, IHSG melemah 3.589,89 poin atau 41,52 persen dari akhir tahun lalu yang berada di level 8.646,94.

Seperti diketahui, IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan, Jumat (30/10), melemah 41,01 poin atau 0,80 persen ke posisi 5.057,05.

Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 0,05 persen ke posisi 515,01.

“Indeks (IHSG) sempat melemah hingga level 4.979, sebelum akhirnya berbalik ditutup di atas level psikologis 5.000,” kata Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam analisanya di Jakarta.

Dari mancanegara, Bank Sentral Jepang (BOJ) mempertahankan suku bunga acuannya di level 1,25 persen pada pertemuan Oktober yang berlangsung pada Jumat (30/10), sesuai dengan perkiraan pasar.

Keputusan tersebut diambil setelah BOJ menaikkan suku bunga sebanyak dua kali, yakni pada Juni dan September, dengan besaran masing-masing 25 basis poin (bps).

Pada pekan depan, investor akan mencermati pelaksanaan pemilu paruh waktu (midterm election) di Amerika Serikat (AS) pada 3 November.

Sementara dari dalam negeri, sejumlah indikator ekonomi yang akan dirilis pada pekan depan meliputi indeks manufaktur PMI, neraca perdagangan, inflasi, pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026, cadangan devisa, serta indeks harga rumah.

Secara teknikal, Phintraco memproyeksikan IHSG menguji level 4.900-5.000.

Apabila mampu bertahan di atas level 5.000, indeks berpeluang bergerak mendatar (sideways) dalam kisaran 5.000-5.200 pada pekan depan.

Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, dua sektor tercatat menguat, sedangkan sembilan sektor lainnya melemah.

Sektor kesehatan menguat 0,76 persen, diikuti sektor keuangan yang naik 0,15 persen.

Adapun sektor transportasi mengalami pelemahan terdalam sebesar 3,13 persen, diikuti sektor barang baku yang turun 2,84 persen dan sektor infrastruktur yang melemah 1,96 persen.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1,17 juta kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 36,48 miliar lembar saham senilai Rp11,42 triliun.

Sebanyak 194 saham menguat, 552 saham melemah, dan 217 saham tidak mengalami perubahan harga

  • ihsg anjlok

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.