Bahaya Racun di Udara, Warga Bukittinggi Diimbau Tak Keluar Rumah Tanpa Masker

Senin, 19 Okt 2026, 20:55 WIB

BUKITTINGGI - Pemerintah Kota (Pemkot) Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar) mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dan menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi para pelajar menyusul memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

“Kami meminta warga membatasi kegiatan di luar rumah dan menggunakan masker jika terpaksa keluar, terutama anak-anak dan lansia yang rentan mengalami gangguan pernapasan,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bukittinggi Ramli Andrian di Bukittinggi, Senin (19/10).

Ket. Foto: Kota Bukittinggi dalam keadaan berkabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Pemkot mengungkap adanya kenaikan kasus ISPA dan mengarahkan masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan. — Sumber: ANTARA/Al Fatah

Ia mengungkapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sudah diterapkan bagi pelajar. Pemkot Bukittinggi juga memaksimalkan efektivitas kerja dari area perkantoran serta pembagian masker.

"Masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar rumah juga dianjurkan menggunakan masker dan memperbanyak konsumsi air putih," kata Ramli.

Ia menyatakan Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) juga meningkat di tengah kondisi kualitas udara yang tidak sehat akibat kabut asap. Balita dan kelompok rentan, termasuk lansia, menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.

Selain itu masyarakat diminta lebih memperhatikan kondisi kesehatan anggota keluarga, terutama balita dan lansia.

"Apabila mengalami gejala gangguan pernapasan yang memburuk, masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat," ujarnya

Ia menyebut pada Juli 2026 rata-rata kasus ISPA tercatat sebanyak 46 kasus per hari. Angka tersebut meningkat menjadi 74 kasus per hari pada Agustus dan 92 kasus per hari pada September.

Ia menyatakan jumlah kasus harian pada September bahkan sempat mencapai 143 kasus.

Pada Oktober 2026, kata dia, kasus ISPA tercatat sebanyak 98 kasus per hari. Jumlah kasus tertinggi mencapai 124 kasus, sedangkan yang terendah sebanyak 72 kasus per hari.

Ia mengatakan angka tersebut masih berada di atas kondisi normal. Dalam keadaan normal, kata dia, jumlah kasus ISPA di Bukittinggi biasanya tidak melebihi 70 kasus per hari.

"Berdasarkan data Dinas Kesehatan, jumlah kasus ISPA pada Juli mencapai 1.247 kasus. Pada Agustus, jumlahnya meningkat menjadi 1.788 kasus, kemudian kembali naik menjadi 2.410 kasus pada September," ujarnya.

Adapun hingga 15 Oktober 2026 jumlah kasus ISPA yang tercatat telah mencapai 1.285 kasus. Ia menjelaskan kasus ISPA ditemukan pada berbagai kelompok usia, mulai dari balita, anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lansia.

Namun balita dan kelompok rentan menjadi perhatian karena lebih berisiko terdampak kondisi kualitas udara yang memburuk.

Ia menegaskan upaya pencegahan dan peningkatan kewaspadaan masyarakat diperlukan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan selama kondisi kabut asap masih memengaruhi kualitas udara di Kota Bukittinggi.

  • kabut asap bukittinggi
  • karhutla sumbar
  • ispa bukittinggi
  • dinkes bukittinggi

Redaktur: alfred

Penulis: Alfred, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.