Sasar Bocah SMP Masuk Gangster, Satpol PP Surabaya Aktifkan Siskamling Kampung Pancasila
Kamis, 29 Okt 2026, 19:55 WIBSURABAYA -Â Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya mengaktifkan kembali siskamling dan melibatkan pihak sekolah guna mencegah maraknya kenakalan remaja, seperti aksi gangster hingga konsumsi minuman keras.Â
Pelaksana Tugas Kepala Satpol PP Kota Surabaya Irna Pawanti di Surabaya, Kamis (29/10), mengatakan deteksi dini terhadap perilaku berisiko pada anak membutuhkan keterlibatan masyarakat.
"Deteksi dini ini kami harapkan dari warga. Sekarang Satpol PP ini sebagai pembina koordinator bidang kemasyarakatan, kami mengaktifkan kembali poskamling. Di situ warga baru harus lapor 1x24 jam sehingga diketahui aktivitasnya apa," katanya.
Ia mengemukakan pembinaan melalui Kampung Pancasila tidak hanya berfokus pada keamanan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi gangguan sosial.
Satpol PP Kota Surabaya bersama pengurus RT dan RW turut memantau kondisi lingkungan, termasuk kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) dan warga yang terjangkau penertiban.
"Melalui Kampung Pancasila kita terus membina kepada RW dan RT. Kita deteksi berapa (jumlah) curanmor di kampung itu, termasuk mana warga-warga yang terkena jangkauan," ujarnya.
Irna menjelaskan pengaktifan kembali siskamling juga mendukung pelaksanaan penertiban karena selama ini petugas sering kesulitan menjangkau sasaran yang melarikan diri ke permukiman dan bersembunyi di antara rumah warga.
"Satpol PP kalau melakukan penertiban itu di jalan besar. Nah, saat target (penjangkauan) ini lari ke kampung, itu kadang kami tidak bisa menjangkau karena dia sembunyi. Tapi sekarang di kampung warga sudah ikut berjaga, sehingga dia juga tidak bisa lari sembunyi di kampung," ujarnya.
Satpol PP Surabaya memberikan perhatian terhadap anak-anak dan remaja yang terlibat perilaku berisiko.
Ia menyebut sejumlah anak yang terjangkau petugas diketahui berkaitan dengan konsumsi minuman keras (miras), pembuatan konten ekstrem, hingga aktivitas yang melibatkan gangster.
"Banyak juga anak-anak yang terjangkau oleh Satpol PP itu mereka hanya ikut-ikutan. Khususnya anak-anak yang usia 12 sampai dengan 15 tahun atau anak-anak usia SMP," katanya.
Menurut dia, tidak sedikit anak yang terlibat karena sekadar mengikuti perilaku teman sebaya tanpa memahami konsekuensi.
"Miras, pembuatan konten-konten ekstrem, termasuk juga dia ikut-ikutan gangster, itu biasanya mereka hanya ikut-ikutan dan tidak tahu," katanya.
Untuk mencegah perilaku tersebut berulang, Satpol PP melibatkan orang tua, RT/RW dan pihak sekolah dalam proses pembinaan.
Orang tua anak yang terjangkau petugas dipanggil untuk mengetahui kondisi anak, sedangkan pihak sekolah dilibatkan untuk membantu menelusuri latar belakang perilaku mereka.
"Termasuk anak yang kena (penjangkauan karena) miras kita sampaikan, orang tuanya kita panggil. Kalau kena lagi, Pak RT, Pak RW kita panggil, termasuk guru sekolah. Dari sekolah kita panggil untuk mengetahui," katanya.
- kampung pancasila
- satpol pp surabaya
- gangster surabaya
- kenakalan remaja
Redaktur: alfred
Penulis: Alfred, Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.