Arsenal Berbenah Jelang Jumpa Liverpool

Kamis, 29 Okt 2026, 06:47 WIB

LONDON - Kekalahan dari Fleetwood Town menjadi pukulan telak Arsenal menjelang lawatan ke kandang Liverpool di Anfield pada akhir pekan ini. Tersingkir dari Piala Liga Inggris setelah bermain imbang 1-1 selama 90 menit dan kalah 3-5 melalui adu penalti, Rabu (28/10) dini hari WIB bukan sekadar kegagalan melangkah ke babak berikutnya. Hasil memalukan itu mengungkap persoalan serius dalam ketajaman lini depan, konsistensi permainan, dan kedalaman skuad asuhan Mikel Arteta.

Arsenal datang ke Highbury Stadium dengan kepercayaan diri tinggi setelah mengalahkan Everton 2-0 di Liga Inggris. Hasil tersebut membuat mereka menyamai perolehan poin pemuncak klasemen Manchester City. Namun, momentum positif itu mendadak runtuh ketika Fleetwood, klub yang menempati peringkat ke-18 League Two, menyingkirkan salah satu kandidat juara Liga Inggris.

Ket. Foto: Penyerang Fleetwood Town Ched Evans (kanan), berebut bola dengan bek Arsenal Christhian Mosquera, dalam pertandingan putaran keempat Piala Liga Inggris antara Fleetwood Town lawan Arsenal di Stadion Highbury, Fleetwood, Inggris barat laut, pada 27 Oktober 2026. — Sumber: Darren Staples / AFP

Arteta sebenarnya sudah memperingatkan para pemainnya agar tidak meremehkan lawan. Dia menegaskan bahwa Arsenal harus menjaga disiplin dan menjalankan kebiasaan dasar dengan standar tinggi. Kenyataannya, peringatan tersebut tidak tercermin di lapangan. Arsenal tampil lambat, kalah dalam banyak duel, melakukan kesalahan umpan, dan menyia-nyiakan peluang yang semestinya dapat dimaksimalkan.

Keputusan Arteta melakukan sembilan perubahan dalam susunan pemain pun menjadi sorotan. Dia ingin menjaga kebugaran sejumlah pemain utama untuk menghadapi Liverpool. Namun, komposisi yang diturunkan tetap cukup kuat untuk mengatasi lawan dari divisi keempat. Karena itu, rotasi tidak bisa dijadikan alasan atas penampilan yang jauh di bawah standar Arsenal.

Fleetwood justru bermain penuh keberanian. Kesalahan bek muda Marli Salmon membuka jalan bagi tuan rumah untuk unggul pada menit ke-21. Salmon gagal mengantisipasi Aaron Loupalo-Bi, yang menerobos kotak penalti sebelum menaklukkan kiper debutan Illan Meslier melalui tembakan rendah.

Arsenal mendominasi penguasaan bola setelah tertinggal, tetapi kesulitan menciptakan peluang berkualitas. Arteta akhirnya memasukkan kapten Martin Odegaard pada awal babak kedua untuk menghidupkan permainan. Lima menit setelah jeda, Viktor Gyokeres menyamakan kedudukan melalui penyelesaian jarak dekat setelah memanfaatkan umpan Ceadach O’Neill. Namun, gol itu tidak cukup mengubah jalannya pertandingan.

Petaka bertambah ketika Max Dowman, pemain berusia 16 tahun, menerima kartu merah langsung pada menit ke-85 setelah menendang Harrison Neal seusai benturan dengan gelandang Fleetwood tersebut. Arteta terlihat kecewa dan menegur Dowman ketika sang pemain meninggalkan lapangan. Arsenal kemudian gagal menghindari adu penalti. Eksekusi Bruno Guimaraes digagalkan kiper Jay Lynch, sebelum Conor Haughey memastikan kemenangan Fleetwood.

Kegagalan tersebut meninggalkan persoalan besar bagi Arteta dalam menentukan komposisi penyerang untuk menghadapi Liverpool. Dia memainkan Kai Havertz dan Gyokeres bersamaan dengan harapan keduanya menemukan kembali ketajaman. Namun, penampilan mereka justru memperbesar keraguan menjelang pertandingan yang jauh lebih berat.

Havertz ditempatkan di lini tengah demi mengakomodasi kedua penyerang. Hasilnya mengecewakan. Pemain Jerman itu menyia-nyiakan tiga peluang emas dan kesulitan memberikan kontribusi berarti. Penampilannya memperlihatkan bahwa posisi tersebut bukan solusi ideal, terutama ketika Arsenal membutuhkan kreativitas, kecepatan mengambil keputusan, dan ketepatan di sepertiga akhir lapangan.

Gyokeres juga belum memberikan jaminan. Dia memang mencetak gol penyama kedudukan, tetapi kontribusinya secara keseluruhan tidak meyakinkan. Gol tersebut lahir melalui proses yang berantakan. Sedangkan pergerakan dan kemampuan duel fisiknya tidak cukup merepotkan pertahanan Fleetwood. Penyerang Swedia itu bahkan beberapa kali kehilangan penguasaan bola ketika berhadapan dengan pemain belakang lawan.

Masalah tidak hanya terletak pada lini depan. Martin Zubimendi, Piero Hincapie, dan Cristhian Mosquera gagal memanfaatkan kesempatan untuk meyakinkan Arteta bahwa mereka pantas mendapat peran lebih besar. Sebaliknya, O’Neill tampil menjanjikan pada debut seniornya. Sedangkan Odegaard menunjukkan intensitas yang dibutuhkan ketika masuk sebagai pemain pengganti.

Laga Berat

Liverpool akan menghadirkan tekanan yang jauh lebih berat dibandingkan Fleetwood. Arsenal membutuhkan ketenangan dalam penguasaan bola, ketajaman penyelesaian akhir, serta disiplin menghadapi serangan lawan. Ketiga aspek tersebut justru menjadi kelemahan utama dalam kekalahan di Piala Liga.

Arteta bahkan harus memasukkan lima pemain yang berpotensi menjadi starter melawan Liverpool untuk mencoba menyelamatkan keadaan. Langkah itu menambah menit bermain sejumlah pemain tanpa menghasilkan kemenangan. Kini, dia harus memastikan kekecewaan tersebut tidak merusak persiapan tim menghadapi laga penting di Anfield.

Pelatih asal Spanyol itu tidak bisa berlindung di balik anggapan bahwa Piala Liga bukan prioritas. Rotasi memang diperlukan di tengah jadwal padat, tetapi pemain yang diturunkan tetap harus menjaga standar permainan. ben/G-1

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.