Vaksin Berbasis mRNA Turunkan Risiko Kekambuhan Kanker Melanoma
Rabu, 28 Okt 2026, 07:33 WIBVAKSIN kanker berbasis messenger RNA (mRNA) yang dirancang secara khusus berdasarkan karakteristik tumor setiap pasien berhasil melewati uji klinis fase 3. Kombinasi vaksin dengan obat imunoterapi pembrolizumab mampu menurunkan risiko kekambuhan melanoma atau kematian sebesar 42 persen dibandingkan penggunaan pembrolizumab saja.
Temuan ini membuka peluang baru dalam pengembangan pengobatan kanker yang dipersonalisasi. Vaksin yang dikembangkan oleh Moderna dan Merck tersebut dirancang untuk membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan menyerang sel melanoma yang mungkin masih tersisa setelah pasien menjalani operasi.
Hasil uji klinis INTerpath-001 dipresentasikan oleh Georgina Long, ahli onkologi medis sekaligus peneliti utama global dari Melanoma Institute Australia (MIA), dalam Kongres European Society for Medical Oncology (ESMO) 2026. Hasil penelitian tersebut dijadwalkan dipublikasikan dalam jurnal The New England Journal of Medicine.
âTemuan ini merupakan perubahan mendasar dalam pendekatan kita terhadap kanker, yakni memanfaatkan sistem kekebalan tubuh secara lebih personal untuk mengurangi risiko kekambuhan melanoma atau kematian,â kata Long.
Ia menilai pencapaian tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah pengembangan obat kanker karena menunjukkan potensi terapi yang disesuaikan dengan karakteristik tumor individu.
Robert Vonderheide, ahli onkologi medis yang menjabat sebagai presiden terpilih American Association for Cancer Research dan tidak terlibat dalam penelitian tersebut, juga menilai hasil uji klinis ini sebagai salah satu terobosan besar dalam pengobatan kanker. Penilaian itu disampaikannya kepada The New York Times.
Vaksin Personal
Berbeda dari vaksin yang digunakan untuk mencegah infeksi, vaksin kanker terapeutik ini ditujukan untuk membantu tubuh melawan kanker yang telah didiagnosis. Pengembangannya dimulai dengan menganalisis materi genetik tumor pasien untuk mengidentifikasi karakteristik yang membedakan sel kanker dari sel sehat.
Informasi tersebut digunakan untuk merancang vaksin mRNA yang sesuai dengan profil tumor masing-masing pasien. Vaksin kemudian membawa instruksi genetik agar sel tubuh menghasilkan penanda tertentu yang dapat dikenali sistem kekebalan tubuh.
Dengan cara ini, sistem imun diharapkan mampu mengenali sel yang memiliki karakteristik kanker tersebut dan melancarkan serangan terhadapnya, termasuk sel kanker yang mungkin tertinggal setelah operasi.
Long mengibaratkan vaksin tersebut sebagai poster orang yang dicari (wanted poster). Poster itu dibuat secara khusus berdasarkan karakteristik kanker pasien sehingga sistem kekebalan tubuh memperoleh petunjuk lebih spesifik mengenai sel yang harus diserang.
Vaksin mRNA diberikan bersama pembrolizumab, obat imunoterapi yang dipasarkan dengan nama Keytruda. Obat ini bekerja dengan menghambat protein yang digunakan kanker untuk menghindari pengawasan sistem kekebalan tubuh.
Menurut Long, sel kanker dapat mengelabui sistem imun sehingga dianggap sebagai bagian normal tubuh. Pembrolizumab membantu menghambat mekanisme tersebut, memungkinkan sel imun mengenali dan menyerang kanker.
Namun, pembrolizumab merupakan obat yang sama untuk pasien dengan indikasi pengobatan yang sesuai. Penambahan vaksin yang dirancang berdasarkan karakteristik tumor individu diharapkan membuat respons kekebalan tubuh lebih terarah dan meningkatkan efektivitas terapi.
Libatkan Lebih dari 1.100 Pasien
Uji klinis fase 3 ini melibatkan lebih dari 1.100 pasien di 157 pusat penelitian yang tersebar di berbagai negara. Hasilnya memperkuat temuan dari uji klinis fase 2 yang telah dipublikasikan pada 2024.
Dalam penelitian tersebut, peneliti membandingkan hasil pengobatan pasien yang menerima kombinasi vaksin mRNA personal dan pembrolizumab dengan pasien yang hanya menerima pembrolizumab. Hasil utama menunjukkan kombinasi terapi tersebut menurunkan risiko kekambuhan melanoma atau kematian sebesar 42 persen dibandingkan imunoterapi standar saja.
Pada pasien yang tetap bebas kanker selama enam bulan setelah memulai pengobatan, penurunan risiko kekambuhan atau kematian dilaporkan mencapai 58 persen dibandingkan kelompok yang hanya menerima pembrolizumab.
Angka tersebut merupakan penurunan risiko relatif, bukan berarti 42 persen dari seluruh pasien dipastikan terhindar dari kekambuhan atau kematian. Besarnya manfaat absolut perlu dinilai berdasarkan tingkat kejadian pada masing-masing kelompok penelitian.
Meski demikian, hasil ini dinilai penting karena kekambuhan masih menjadi salah satu tantangan dalam penanganan melanoma. Terapi tambahan yang membantu sistem imun mendeteksi sel kanker yang tersisa berpotensi memperpanjang masa bebas kanker setelah operasi.
Vaksin tersebut belum tersedia bagi pasien secara luas di Australia maupun Amerika Serikat. Hasil uji klinisnya telah memasuki proses peninjauan regulator, sehingga penggunaannya masih bergantung pada hasil evaluasi dan persetujuan otoritas Âterkait.
Untuk Terapi Kanker Lain
Keberhasilan vaksin ini menjadi perhatian khusus bagi Australia, salah satu negara dengan angka kejadian melanoma tertinggi di dunia. Menurut laporan yang menjadi dasar pemberitaan penelitian tersebut, satu orang meninggal akibat melanoma di Australia setiap enam jam.
Pengembangan terapi yang mampu menekan risiko kekambuhan berpotensi membantu meningkatkan hasil pengobatan bagi pasien. Namun, manfaat vaksin tersebut tetap perlu dinilai berdasarkan data klinis dan karakteristik pasien yang menerima terapi.
Long mengatakan keberhasilan pada melanoma dapat menjadi bukti awal bahwa pendekatan pengobatan berdasarkan karakteristik unik tumor berpotensi mengubah cara kanker ditangani. Teknologi serupa diharapkan dapat membantu pasien bertahan lebih lama tanpa kekambuhan.
Alex Menzies, ahli onkologi medis dari Melanoma Institute Australia, juga melihat peluang penerapan pendekatan tersebut pada jenis kanker lain, terutama kanker yang kurang merespons imunoterapi yang tersedia saat ini.
Meski demikian, pengembangan vaksin mRNA untuk berbagai jenis kanker belum selalu menunjukkan hasil positif. Sejumlah uji klinis acak yang menguji vaksin mRNA untuk kanker kolorektal serta kanker kepala dan leher dilaporkan belum berhasil menurunkan risiko kekambuhan.
Hasil yang beragam tersebut menunjukkan bahwa efektivitas vaksin kanker personal dapat berbeda-beda bergantung pada karakteristik tumor, sasaran imunologis, dan respons tubuh pasien. Keberhasilan pada melanoma karena itu belum dapat langsung dianggap berlaku untuk seluruh jenis kanker.
Long menilai uji klinis INTerpath-001 menunjukkan bahwa terapi yang dirancang berdasarkan karakteristik unik tumor pasien, ketika dikombinasikan dengan imunoterapi penghambat immune checkpoint, berpotensi meningkatkan kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk menemukan dan menghancurkan sel kanker yang tersisa.
Penelitian lanjutan dan evaluasi regulator masih diperlukan sebelum pendekatan ini dapat digunakan secara lebih luas. Namun, hasil uji klinis fase 3 tersebut memperkuat prospek pengobatan kanker personal sebagai salah satu arah pengembangan terapi kanker di masa depan. hay
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Setelah Kalah Menyakitkan, Thunder Balik Ungguli Pacers di Final NBA untuk Menyamakan Kedudukan
-
Kembalikan Fungsi Fasilitas Umum, Petugas Gabungan Tertibkan 22 Lapak Pedagang di Pasar Koja Baru
-
Vaksin mRNA Berpotensi untuk Obati Stadium Lanjut
-
Investor Cari Kepastian Regulasi, Bukan Sekadar Iming-Iming Insentif
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.