Lula Kembali Berkuasa, Perpecahan Politik Brasil Berlanjut
Selasa, 27 Okt 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: AFP/Juan BARRETO
BRASILIA - Presiden sayap kiri Brasil Luiz Inacio Lula da Silva meraih kemenangan dalam pemilihan presiden pada Minggu (25/10), memastikan masa jabatan keempat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, rivalnya, Flavio Bolsonaro, menolak mengakui kekalahan dan menyatakan akan meminta pembatalan hasil pemungutan suara.
Dilansir dari AFP, berdasarkan hasil resmi, Lula memperoleh 51,8 persen suara, unggul atas Flavio yang meraih 48,2 persen. Lula mengantongi sekitar 4,4 juta suara lebih banyak daripada rivalnya.
Kemenangan tersebut membuat Brasil terhindar dari gelombang konservatisme yang mendorong sejumlah negara Amerika Latin, termasuk Argentina, Cile, Kolombia, dan Peru, bergeser ke kanan. Perubahan politik itu mendapat dukungan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Flavio, 45 tahun, merupakan putra mantan Presiden sayap kanan Jair Bolsonaro, yang menjalani hukuman penjara 27 tahun karena upaya kudeta setelah kalah dari Lula dalam pemilihan presiden 2022.
Pemungutan suara pada Minggu diwarnai kontroversi setelah Mahkamah Agung memperpanjang waktu pemungutan suara selama dua jam di sejumlah wilayah. Keputusan itu diambil menyusul keluhan Lula bahwa penarikan bus dari layanan di beberapa kota menghambat warga menuju tempat pemungutan suara.
Flavio juga meminta perpanjangan waktu di sejumlah wilayah akibat hujan lebat. Namun, ia mengecam keputusan tersebut sebagai tindakan yang tidak dapat diterima dan menyebutnya sebagai “trik kotor”.
“Tidak mungkin mengakui hasil ini. Saya akan meminta pembatalan pemilu,” kata Flavio dalam pidato singkat di Brasilia.
Lula mengatakan kemenangan tersebut mencerminkan pentingnya partisipasi masyarakat untuk menjaga demokrasi.
“Orang-orang memilih karena kami berhasil meyakinkan mereka bahwa memilih sangat penting untuk menjamin demokrasi di negara ini,” ujarnya.
Perayaan berlangsung di sejumlah kota. Kembang api dan bunyi vuvuzela terdengar di Rio de Janeiro, sementara ribuan pendukung berpakaian merah, warna Partai Pekerja pimpinan Lula, turun ke jalan-jalan Sao Paulo.
Tingkat abstain juga turun dari 21 persen pada putaran pertama menjadi 19 persen pada putaran kedua. Julio Canelo, pengacara berusia 42 tahun yang merayakan kemenangan Lula di Rio de Janeiro, menyebut hasil tersebut sebagai kemenangan bagi seluruh spektrum demokrasi.
Menurut dia, kemenangan itu merupakan hasil mobilisasi masyarakat, baik melalui aksi di jalanan maupun media sosial.
Kemenangan tersebut menandai babak baru bagi Lula, yang akan berusia 81 tahun pada Selasa (27/10). Ia memulai karier politik dari latar belakang kemiskinan dan pertama kali menjadi presiden pada 2003, sebelum terpilih kembali pada 2006.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!