Udara Jakarta Lebih Sejuk Saat JRF 2026, Polutan Pagi Terpantau Menurun

Sabtu, 24 Okt 2026, 18:40 WIB

JAKARTA - Konsentrasi sejumlah polutan di lima wilayah Jakarta terpantau menurun pada pagi hari pertama Jakarta Running Festival (JRF) 2026, Sabtu (24/10). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan penyemprotan kabut air untuk mendukung kenyamanan lebih dari 37.000 pelari dari 48 negara yang mengikuti ajang tersebut.

Berdasarkan pemantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta melalui Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU), konsentrasi PM2,5, PM10, dan sulfur dioksida (SO₂) cenderung menurun pada pukul 04.00–07.00 WIB. Meski demikian, pemerintah daerah menyebut kondisi tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk cuaca dan aktivitas sumber emisi setempat.

Ket. Foto: Konsentrasi sejumlah polutan di lima wilayah Jakarta terpantau menurun pada pagi hari pertama Jakarta Running Festival (JRF) 2026, Sabtu (24/10). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan penyemprotan kabut air untuk mendukung kenyamanan lebih dari 37.000 pelari dari 48 negara yang mengikuti ajang tersebut. — Sumber: Pemprov DKI Jakarta

Di Jakarta Selatan, konsentrasi PM2,5 pada pukul 04.00–05.00 WIB tercatat sekitar 12–32 mikrogram per meter kubik (µg/m³), lebih rendah daripada baku mutu 55 µg/m³. Sementara itu, kawasan pesisir Jakarta Utara mencatat konsentrasi PM2,5 sekitar 9–17 µg/m³ selama pukul 04.00–07.00 WIB.

Penurunan konsentrasi polutan juga terpantau di Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Pusat. Di Jakarta Pusat, konsentrasi PM2,5 dan PM10 pada pagi hari berada dalam kisaran 12–43 µg/m³.

Kepala DLH DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menjelaskan bahwa perubahan kualitas udara dapat berkaitan dengan kondisi meteorologi, emisi lokal, serta kemungkinan kontribusi OMC. Hujan yang dihasilkan melalui modifikasi cuaca berpotensi membantu mengurangi partikulat di atmosfer melalui proses deposisi basah atau wet deposition.

“Pemantauan SPKU menunjukkan kecenderungan penurunan konsentrasi polutan di lima wilayah Jakarta pada Sabtu pagi. Kondisi ini dapat dipengaruhi berbagai faktor meteorologi, termasuk kemungkinan kontribusi OMC. Namun, diperlukan analisis lanjutan untuk memastikan besarnya pengaruh masing-masing faktor dan keberlanjutan perbaikan kualitas udara,” jelas Dudi.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, mengatakan OMC dilakukan untuk mengoptimalkan potensi hujan dan mendukung kenyamanan masyarakat selama festival berlangsung. Pemantauan cuaca bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus dilakukan untuk menentukan pelaksanaan operasi secara tepat sasaran.

“Alhamdulillah, sesuai harapan, pada hari pertama Jakarta Running Festival kondisi udara Jakarta terasa lebih nyaman. Kami terus memantau perkembangan cuaca bersama BMKG agar pelaksanaan OMC dapat dilakukan secara tepat sasaran,” ujar Marulitua.

Berdasarkan laporan BPBD, OMC telah dilaksanakan melalui empat sorti penerbangan pada 21–23 Oktober menggunakan pesawat PK-SNH dengan bahan semai natrium klorida (NaCl). Penyemaian dilakukan di kawasan Bogor, Depok, Bekasi, dan Jakarta Selatan, disertai kejadian hujan dengan intensitas bervariasi di sejumlah wilayah sekitar Jakarta.

Pada Jumat (23/10), hujan ringan hingga sedang tercatat di Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Depok, Bogor, dan Tangerang Selatan. Selain modifikasi cuaca, Pemprov DKI juga mengerahkan petugas untuk melakukan penyemprotan kabut air atau water mist di sejumlah ruas jalan yang menjadi lintasan JRF.

Kegiatan penyemprotan tersebut dilaksanakan oleh Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan bersama Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta. Langkah ini ditujukan untuk membantu menyejukkan lingkungan di sekitar lintasan dan meningkatkan kenyamanan para pelari.

Dwi, peserta JRF 2026 asal Jakarta Selatan, mengaku merasakan udara yang lebih sejuk saat mengikuti kegiatan pada Sabtu pagi. Ia menilai penyemprotan air di beberapa titik turut membantu menciptakan suasana yang lebih nyaman selama perlombaan.

“Pagi ini udaranya lumayan adem, jadi lebih enak buat lari. Tadi juga ada penyemprotan air di beberapa titik. Cukup membantu, apalagi kalau sudah mulai ramai dan matahari naik,” tutur Dwi.

BPBD bersama BMKG dan instansi terkait akan terus memantau perkembangan cuaca untuk mengevaluasi langkah penanganan berikutnya. Upaya tersebut diharapkan mendukung kenyamanan peserta sekaligus menjaga kelancaran Jakarta Running Festival hingga hari kedua, Minggu (25/10).

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.