Suluk Nagari, Santri Yogyakarta Diajak Jaga Tradisi dan Baca Perubahan Zaman
Jumat, 23 Okt 2026, 11:45 WIBYOGYAKARTAâPeringatan Hari Santri 2026 di Kota Yogyakarta dikemas melalui pertunjukan musikal Suluk Nagari yang memadukan nilai spiritual, tradisi, dan keragaman seni. Digelar di kawasan Titik Nol Kilometer, Kamis (22/10) malam, pertunjukan tersebut sekaligus membawa pesan tentang pentingnya menjaga kedamaian, persatuan, dan kehidupan bermasyarakat.
Suluk Nagari yang diselenggarakan Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan itu menghadirkan perpaduan musik hadroh, gamelan, perkusi, musik elektronik, barongsai, hingga tarian sufi. Sebanyak 15 kelompok hadroh yang telah memiliki Nomor Induk Kebudayaan (NIK) binaan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta terlibat bersama sejumlah kolaborator dari kelompok perkusi, brass, gamelan, barongsai, reog, serta vokal tradisional sinden.
Pertunjukan dibuka dengan pemukulan rebana oleh Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan bersama Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta Ahmad Shidqi, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti, Wakapolresta Yogyakarta AKBP Ike Yulianto Wicaksono, dan perwakilan PCNU Kota Yogyakarta KH Solehudin Mansur.
Wawan mengatakan Suluk Nagari membawa makna perjalanan untuk mencari kedalaman sekaligus memperbaiki diri. Sementara nagari mengingatkan bahwa perjalanan batin pada akhirnya harus kembali pada kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
"Hari Santri tidak cukup dipahami sebagai nostalgia sejarah. Kita tidak boleh melupakan perjuangan ulama dan santri yang ikut mempertahankan kemerdekaan. Tetapi penghormatan terbaik kepada sejarah adalah meneruskan keberanian itu untuk menjawab persoalan zaman kita sendiri," kata Wawan saat membuka pertunjukan Suluk Nagari.
Sejalan dengan tema nasional Hari Santri 2026, Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, generasi santri diharapkan memiliki kedalaman spiritual dan keluasan ilmu sekaligus tumbuh menjadi pribadi berkarakter, produktif, kreatif, adaptif, serta berani berinovasi.
Menurut Wawan, karakter Yogyakarta dibentuk oleh perjumpaan antara agama, pendidikan, tradisi, dan kebudayaan. Karena itu, santri di Yogyakarta diharapkan mampu mempertahankan akar tradisi sembari terbuka terhadap perkembangan zaman.
"Maka santri Yogyakarta harus mampu menjaga akar sekaligus membuka cakrawala. Dari mengaji kita belajar bagaimana hadir di dunia dengan adab dan tradisi adalah akar agar ketika kita bergerak maju, kita tidak kehilangan arah," tuturnya.
Generasi santri juga didorong mengambil peran lebih luas, mulai dari pendidikan, teknologi, ekonomi kreatif, kewirausahaan, lingkungan, seni budaya, pelayanan masyarakat, hingga kepemimpinan. Namun, penguasaan ilmu dan keterampilan tersebut tetap harus berjalan beriringan dengan akhlak dan pengabdian kepada masyarakat.
"Selamat Hari Santri 2026. Teruslah mengaji, menjaga tradisi, membaca zaman dan menguatkan negeri," ujar Wawan.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta Ahmad Shidqi menilai Suluk Nagari tidak sebatas menjadi pertunjukan seni, tetapi juga ruang perjumpaan antara spiritualitas, kebudayaan, dan nilai kemanusiaan. Keberadaan berbagai pondok pesantren, menurut dia, turut menegaskan Yogyakarta sebagai kota santri, tempat ilmu pengetahuan, tradisi keagamaan, dan kebudayaan tumbuh berdampingan.
Pesantren juga tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu, melainkan menjadi ruang pembentukan karakter dan pewarisan nilai. Penggunaan hadrah sebagai unsur musikal utama dalam Suluk Nagari dinilai memiliki makna yang selaras dengan semangat tersebut.
"Hadirnya hadrah sebagai DNA musikal utama dalam Suluk Nagari memiliki makna yang mendalam. Hadrah bukan hanya tentang tabuhan rebana dan lantunan shalawat, di dalamnya terdapat nilai kebersamaan. Oleh karena itu, kami berharap Suluk Nagari tidak hanya menjadi sebuah pertunjukkan yang indah untuk disaksikan, tetapi juga menghadirkan pesan yang mendalam bahwa kedamaian harus dirawat, toleransi harus dipraktikkan, dan persaudaraan harus diwujudkan dalam tindakan nyata," pungkas Shidqi.
Redaktur: Eko S
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
Stimulus Fiskal Kuartal IV 2026 Dinilai Jadi Bantalan Daya Beli, Bukan Pendorong Utama Pertumbuhan
-
Yordania Gencarkan Promosi Pariwisata, Bidik Jadi Magnet Baru Dunia
-
Polri Tegaskan Semangat Pelayanan Publik Lewat "Polri Bersama Masyarakat"
-
Hadir di Central Park Mall, Hydro Flask by Nataroe Luncurkan Koleksi Fall Winter 2026
-
Bantul Punya Strategi Baru agar Anak Muda Tak Melupakan Batik
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.