Serangan Houthi Makin Mematikan, AS Evakuasi Staf Kedutaan dari Arab Saudi

Kamis, 22 Okt 2026, 06:45 WIB

Riyadh – Pemerintah Amerika Serikat (AS) memerintahkan staf non-esensial Kedutaan Besar AS beserta keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi, kata Departemen Luar Negeri AS pada Rabu (21/10), di tengah serangan mematikan yang terus dilancarkan kelompok Houthi Yaman terhadap kerajaan tersebut.

Perintah itu dikeluarkan setelah seorang sumber diplomatik mengatakan kepada AFP bahwa “seluruh staf Amerika dan keluarga mereka telah diperintahkan untuk meninggalkan Kedutaan Besar AS” di negara Teluk tersebut.

Ket. Foto: Arab Saudi menghadapi serangan hampir setiap hari dari kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran. — Sumber: AFP

Sumber itu menambahkan bahwa keluarga staf kedutaan juga telah diperintahkan meninggalkan Uni Emirat Arab (UEA), Yordania, Qatar, dan Bahrain, yang semuanya menjadi sasaran serangan Iran selama perang di Timur Tengah.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott kemudian mengonfirmasi perintah tersebut melalui unggahan di platform X. Namun, ia mengatakan bahwa perintah itu hanya berlaku bagi “pegawai pemerintah AS non-darurat dan anggota keluarga mereka di Arab Saudi”.

Ia mengaitkan langkah tersebut dengan serangan Houthi terhadap Arab Saudi, termasuk serangan terhadap bandara, seraya mengatakan bahwa “keselamatan dan keamanan personel Departemen beserta keluarga mereka tetap menjadi prioritas tertinggi kami”.

Pada bulan ini, Arab Saudi menghadapi serangan hampir setiap hari dari kelompok Houthi yang didukung Iran. Serangan tersebut mencakup serangan terhadap bandara internasional Riyadh yang menjadi serangan paling mematikan di kerajaan itu dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya eskalasi perang dengan kelompok tersebut.

Pada Rabu, Kementerian Energi Arab Saudi mengatakan puing-puing dari pencegatan sebuah pesawat nirawak yang menargetkan fasilitas minyak menewaskan dua orang dan melukai dua lainnya.

“Upaya serangan tersebut mengakibatkan dua orang meninggal dunia, masing-masing warga Filipina dan Nepal, serta dua orang lainnya terluka,” kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.

Kementerian tidak menyebutkan pihak yang meluncurkan pesawat nirawak yang menargetkan ladang minyak Shaybah di dekat perbatasan UEA. Sebelumnya pada Rabu, koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman melaporkan telah mencegat enam pesawat nirawak.

Pada Juni, gencatan senjata selama empat tahun dalam perang saudara di Yaman runtuh sehingga menghidupkan kembali konflik yang bermula pada 2014. Koalisi pimpinan Arab Saudi telah mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional sejak 2015.

Ledakan di Iran

Sebelumnya, AS telah memerintahkan staf non-esensial meninggalkan kawasan Teluk menjelang dimulainya perang melawan Iran. Perintah serupa kembali dikeluarkan pada Juli, sebelum Presiden AS Donald Trump membatalkan gelombang serangan baru.

Pada Rabu malam, media pemerintah Iran melaporkan suara ledakan di Provinsi Hormozgan, wilayah selatan yang menghadap Selat Hormuz, mengakhiri periode ketenangan relatif.

“Beberapa menit lalu, suara beberapa ledakan terdengar di wilayah Karpan, Sirik, Provinsi Hormozgan,” lapor kantor berita resmi IRNA.

Laporan itu menambahkan bahwa “sumber-sumber lokal belum mengungkapkan sifat ledakan tersebut”.

Konflik bermula pada akhir Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran yang menewaskan pemimpin tertinggi negara itu beserta sejumlah komandan senior militer.

Iran berupaya memblokade jalur perairan strategis tersebut dengan mewajibkan seluruh kapal memperoleh izin sebelum melintas. Pada masa damai, Selat Hormuz dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Sebagai balasan, Amerika Serikat memberlakukan blokade tandingan terhadap pelabuhan dan kapal-kapal Iran.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.