Surabaya Membara 40 Derajat Celsius, Gelombang Panas Ancam Kesehatan dan Mental Warga

Rabu, 21 Okt 2026, 14:25 WIB

SURABAYA – Terik matahari yang menyengat dan suhu udara yang menembus 40 derajat Celsius membuat Surabaya menghadapi ancaman cuaca ekstrem yang tak bisa dianggap sepele. Berkepanjangannya musim kemarau meningkatkan risiko dehidrasi, gangguan kulit, hingga masalah kesehatan mental yang dapat mengintai warga, terutama mereka yang harus beraktivitas di luar ruangan.

Pakar kesehatan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Edwin Nugroho Njoto, mengingatkan bahwa paparan panas berlebihan dapat memicu gangguan kesehatan serius. Ancaman ini semakin besar bagi kelompok rentan, seperti lanjut usia dan penderita penyakit bawaan, terutama penyakit jantung.

Ket. Foto: Suhu tinggi yang berlangsung terus-menerus, terlebih jika disertai kelembapan udara, dapat mengganggu kualitas tidur dan memengaruhi kondisi emosional seseorang. — Sumber: Istimewa

“Kelompok rentan ini sebaiknya menghindari paparan panas matahari terlalu lama,” ujar Edwin, dokter spesialis penyakit dalam sekaligus dosen Program Studi Kedokteran ITS.

Di tengah suhu yang menyengat, tubuh dipaksa bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu normal. Jika cairan tubuh terus berkurang tanpa diimbangi asupan yang cukup, warga berisiko mengalami dehidrasi. Kondisi ini dapat menjadi berbahaya apabila paparan panas berlangsung lama dan tidak segera ditangani.

Panas menyengat juga mengusik kesehatan mental

Ancaman cuaca panas tidak berhenti pada gangguan fisik. Edwin menjelaskan, suhu tinggi yang berlangsung terus-menerus, terlebih jika disertai kelembapan udara, dapat mengganggu kualitas tidur dan memengaruhi kondisi emosional seseorang.

Warga yang tidak memiliki akses terhadap pendingin ruangan di rumah maupun tempat kerja berpotensi menghadapi beban lebih berat. Sulit tidur dan meningkatnya rasa mudah marah menjadi sejumlah dampak yang perlu diwaspadai ketika tubuh terus-menerus terpapar lingkungan panas.

Di kota besar seperti Surabaya, kondisi tersebut menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat yang harus bekerja di bawah terik matahari atau tinggal di hunian dengan sirkulasi udara dan fasilitas pendingin yang terbatas.

Kulit ikut menjadi sasaran keganasan panas

Ancaman berikutnya datang dari paparan sinar ultraviolet (UV) yang dapat merusak kulit. Dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika ITS, Desiana Widityaning Sari, menjelaskan bahwa kondisi panas dapat memperburuk gangguan pada lapisan pelindung kulit atau skin barrier.

Ketika fungsi pelindung kulit terganggu, berbagai masalah dapat muncul, mulai dari biang keringat, infeksi jamur, kulit terbakar matahari atau sunburn, hingga jerawat yang kambuh.

“Penurunan kelembapan kulit membuat paparan bakteri dan virus menjadi jauh lebih mudah,” kata Desiana.

Dampak paparan matahari juga bisa terakumulasi dalam jangka panjang. Menurut dia, tingginya paparan sinar UV dapat meningkatkan risiko penuaan dini akibat cahaya atau photoaging, bahkan kanker kulit.

Meski pigmen melanin pada kulit masyarakat Indonesia memberikan perlindungan alami, risiko kerusakan akibat paparan matahari tetap tidak boleh diabaikan. Desiana menekankan pentingnya penggunaan tabir surya secara rutin untuk membantu mencegah kerusakan sel kulit.

“Penggunaan tabir surya secara rutin sangat penting untuk mencegah kerusakan sel kulit,” ujarnya.

Warga diminta tidak menunggu tubuh tumbang

Menghadapi cuaca panas yang ekstrem, masyarakat dianjurkan meningkatkan kewaspadaan sebelum muncul gangguan kesehatan. Edwin menyarankan asupan air yang cukup, dengan sedikitnya 1,5 liter per hari sebagai panduan umum, serta menyesuaikannya dengan kebutuhan tubuh dan kondisi kesehatan masing-masing.

Warga juga perlu membatasi aktivitas di bawah terik matahari, terutama bagi lansia dan orang dengan penyakit penyerta. Jika harus bekerja di luar ruangan, upayakan beristirahat di tempat teduh dan menghindari paparan panas berlebihan.

Sementara itu, Desiana mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan kulit. Mandi dua kali sehari dan segera mengganti pakaian yang basah atau lembap dapat membantu mengurangi risiko infeksi jamur.

Gelombang panas menjadi pengingat bahwa cuaca ekstrem bukan sekadar persoalan ketidaknyamanan. Ketika suhu meningkat dan paparan panas berlangsung berkepanjangan, kesehatan warga dapat ikut terancam.

Karena itu, kewaspadaan dan langkah pencegahan perlu menjadi kebiasaan sehari-hari. Di tengah terik Surabaya, menjaga kecukupan cairan, melindungi kulit, dan membatasi aktivitas saat panas menyengat merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko kesehatan.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.