• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Ketika Satu Obat Tidak Lag...

Ketika Satu Obat Tidak Lagi untuk Semua

Selasa, 20 Okt 2026, 05:22 WIB

Dalam sejarah panjang kedokteran, para dokter kerap dihadapkan pada teka-teki membingungkan. Mengapa dua pasien dengan diagnosis penyakit yang sama—seperti kanker paru-paru—memberikan respons berbeda saat menerima obat yang sama?

Pasien pertama bisa saja mengalami kesembuhan pesat, sementara pasien kedua tidak merasakan perubahan atau justru menderita efek samping berat. Fenomena ini terjadi karena dunia medis lama mengandalkan pendekatan one size fits all atau satu metode untuk semua orang.

Ket. Foto: PROTAC yang menjembatani dua target protein, menunjukkan bagaimana molekul bifungsional ini merekrut ligase E3 untuk memfasilitasi ubikuitinasi dan degradasi protein selektif. — Sumber: WuXi AppTec

Namun, paradigma tersebut kini mulai ditinggalkan seiring lahirnya revolusi precision medicine atau pengobatan presisi. Pendekatan medis modern ini tidak lagi memandang penyakit hanya dari gejalanya semata.

Dokter merancang strategi pencegahan, diagnosis, hingga terapi obat dengan memperhitungkan variasi genetik, lingkungan, serta gaya hidup unik setiap individu. Melalui pemetaan DNA (genomik) dan pemanfaatan big data, pengobatan kini menjadi jauh lebih akurat.

Perubahan besar ini ditegaskan oleh Dr. Francis S. Collins, mantan Direktur National Institutes of Health (NIH) sekaligus pemimpin Human Genome Project. Ia menyampaikan bahwa pengobatan presisi memberikan kesempatan terbaik bagi peradaban manusia untuk meninggalkan era pengobatan seragam.

Menurutnya, masa depan kedokteran berpusat pada integrasi antara pencegahan dan pengobatan yang disesuaikan secara khusus dengan perbedaan gen, lingkungan, serta perilaku hidup setiap orang.

Prinsip dasar pengobatan presisi sejatinya berakar pada pemahaman sederhana tentang hakikat manusia. Hal ini ditegaskan oleh Dr. Leslie G. Biesecker, peneliti utama di National Human Genome Research Institute.

Dr. Biesecker mengungkapkan bahwa pada kenyataannya tidak ada dua individu yang benar-benar identik di dunia ini. Oleh karena itu, sudah sepatutnya perawatan kesehatan yang mereka terima juga tidak disaratkan untuk selalu sama.

Penerapan nyata dari pendekatan ini paling terlihat pada penanganan kanker melalui precision oncology. Ketika seorang pasien terdiagnosis kanker, fokus utama tim medis tidak hanya pada lokasi organ yang terserang, melainkan pada karakteristik molekuler dan mutasi genetik sel tumor tersebut.

Jika ditemukan mutasi gen spesifik—seperti HER2 pada kanker payudara atau EGFR pada kanker paru—dokter dapat memberikan terapi target (targeted therapy). Obat ini bekerja mengunci sel kanker tanpa merusak sel tubuh yang sehat.

Di Indonesia sendiri, kesadaran akan pentingnya transformasi medis berbasis genomik mulai berhembus kuat. Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya adopsi teknologi ini.

Ia menyatakan bahwa pengobatan presisi berbasis genomik memungkinkan tenaga medis mengidentifikasi potensi penyakit seseorang sejak dini serta memberikan terapi yang paling pas. Hasilnya, intervensi medis menjadi jauh lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran.

Pengobatan presisi bukan sekadar tren teknologi sementara, melainkan sebuah lompatan besar dalam peradaban medis. Dengan menempatkan keunikan biologis manusia sebagai pusat keputusan, masa depan kesehatan kita kini bergerak menuju era yang lebih personal, akurat, dan penuh harapan. hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.