Kemenkes Imbau Masyarakat Waspadai Bahaya Paparan Asap

Senin, 19 Okt 2026, 03:07 WIB

JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat di area terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya paparan asap.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati mengatakan bahwa dampak paparan asap karhutla sangat luas dan dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. “Asap karhutla tidak hanya berdampak pada saluran pernapasan, tetapi juga menyebabkan iritasi mata dan kulit serta memperburuk penyakit kronis,” kata dia dalam keterangannya di Jakarta, kemarin.

Ket. Foto: Sejumlah anggota Pramuka memadamkan api saat simulasi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan KM-37 Gunung Sala, Aceh Utara, Aceh, Sabtu (17/10/2026). — Sumber: Antara

Kemenkes mengidentifikasi sejumlah kelompok rentan yang memerlukan perlindungan ekstra dari dampak asap ini. “Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus,” cetusnya.

Widyawati memaparkan imbauan Kemenkes untuk meminimalkan risiko kesehatan pada area terdampak antara lain, mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama saat indikator kualitas udara menunjukkan penurunan kualitas atau kategori tidak sehat.

Menggunakan masker saat terpaksa harus berada di luar rumah untuk mengurangi paparan partikel berbahaya. Dan menjaga daya tahan tubuh dan kesehatan. Lalu segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) terdekat apabila merasakan gangguan atau keluhan kesehatan.

“Perlindungan kesehatan masyarakat adalah prioritas pemerintah. Kemenkes bersama pemerintah daerah terus memperkuat upaya pencegahan dan penanganan sehingga dampak kesehatan dapat diminimalkan,” kata dia.

Kasus ISPA

Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) pada Oktober 2026 ini menangani 677 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) harian dampak pencemaran udara dari asap karhutla.

“Jumlah kasus ISPA sepanjang September 2026 mencapai 17.434 kasus, dan pada periode Oktober ini tercatat 7.742 kasus atau 677 kasus ISPA harian,” kata Wali Kota Palembang Ratu Dewa, di Palembang, Sabtu.

Melihat masih tingginya tingkat pencemaran udara dampak karhutla, pihaknya berupaya mengoptimalkan fasilitas kesehatan yang ada di kota ini untuk melayani masyarakat yang mengalami ISPA dan masalah kesehatan lainnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sempat mencemari sudah mulai menjauhi wilayah Jawa bagian Barat, termasuk Jabodetabek, pada Sabtu, meskipun sisa sebaran asap masih terdeteksi di Pesisir Barat Banten pada ketinggian 10.000 - 18.000 kaki.

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto menjelaskan hasil pemantauan citra satelit pada Jumat (16/10) menunjukkan asap karhutla sempat memasuki wilayah Jawa bagian barat secara sesaat tetapi tidak berlangsung lama dan tidak berdampak pada kualitas udara di permukaan.

Sementara pemantauan Sabtu pagi hingga siang memperlihatkan sebaran asap bergeser menjauh secara bertahap akibat pergerakan angin yang melemah. “Meski demikian, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memantau perkembangan kualitas udara di lingkungan masing-masing,” kata Guswanto.

Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menyampaikan sebaran asap karhutla di wilayah lain masih terpantau di sebagian besar Sumatera dan Kalimantan, Sulawesi tengah hingga selatan, Maluku, serta Papua akibat masih tingginya jumlah titik panas.

BMKG mencatat 478 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi pada 16 Oktober 2026, di mana Sumatera Selatan menjadi wilayah terbanyak dengan 189 titik. Ant/S-2

  • Dampak Karhutla

Redaktur: Sriyono

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.