Kemenbud akan Pugar Candi Muara Takus

Senin, 19 Okt 2026, 18:55 WIB

JAKARTA - Kondisi Candi Muara Takus di Kabupaten Kampar, Riau, mulai mengkhawatirkan. Sejumlah bagian bangunan peninggalan peradaban Buddha itu mengalami pelapukan dan ditumbuhi lumut.

Di sisi lain, penelitian menunjukkan kemungkinan masih ada bangunan candi lain yang terpendam di luar kawasan utama. Menteri Kebudayaan, Fadli Zon mengungkapkan kondisi tersebut setelah meninjau kompleks Candi Muara Takus, Minggu (18/10).

Ket. Foto: Menteri Kebudayaan, Fadli Zon (tengah), saat meninjau kompleks Candi Muara Takus, Minggu (18/10) — Sumber: Dokumentasi Kementerian Kebudayaan

Ia mengatakan situs cagar budaya nasional itu memerlukan pemugaran setelah hampir empat dekade tidak menjalani pemugaran besar. "Sejak pemugaran tersebut hingga sekarang, belum ada pemugaran lagi, karena itu, kompleks ini memang memerlukan revitalisasi dan restorasi," kata dia, Senin (19/10).

Menurut Menbud, bagian-bagian bangunan kini mengalami kerusakan akibat lumut dan pelapukan. Kondisi itu membuat material penyusun candi semakin rapuh.

Candi Muara Takus diperkirakan dibangun antara abad ke-8 hingga abad ke-11 Masehi. Kompleks ini merupakan salah satu peninggalan penting dalam sejarah perkembangan agama Buddha di Nusantara.

Bangunannya menggunakan bata merah dan batu paras. Kedua material tersebut mengalami penurunan kualitas akibat kelembapan, pertumbuhan lumut, proses pelapukan, dan penggaraman.

Ia mengatakan Kementerian Kebudayaan akan menyiapkan rencana pemugaran dengan mempertimbangkan karakteristik material bangunan. Penanganannya mencakup perbaikan fisik, pengaturan aliran air, pengendalian kelembapan, serta kajian bahan untuk memperlambat proses pelapukan bangunan.

Selain kerusakan bangunan, ia menyoroti kemungkinan keberadaan candi lain di sekitar kompleks Muara Takus. Saat ini, kawasan yang dikelola memiliki empat bangunan candi.

Namun, hasil penelitian menunjukkan adanya indikasi struktur lain sekitar 100 meter di luar pagar utama. Lokasi yang diduga menyimpan peninggalan tersebut kini menjadi kebun.

"Kompleks ini semestinya memiliki cakupan yang lebih besar daripada yang ditemukan sekarang, yakni terdiri atas empat candi. Mungkin terdapat candi-candi lain," ujar Menbud Fadli.

"Berdasarkan penelitian, pada jarak sekitar 100 meter di luar pagar juga ditemukan candi lain yang lokasinya sekarang menjadi kebun. Area ini nantinya akan kita coba ekskavasi sehingga mungkin dapat ditemukan struktur-struktur lainnya," ujar dia.

Kementerian Kebudayaan berencana melakukan ekskavasi atau penggalian arkeologis untuk memastikan keberadaan struktur yang diduga masih terpendam. Penelitian tersebut juga akan digunakan untuk memetakan luas kompleks percandian dan menentukan batas kawasan yang perlu dilindungi.

Secara historis, Candi Muara Takus memiliki keterkaitan dengan kajian perkembangan peradaban Sriwijaya dan jaringan kebudayaan Buddha di Asia. Ia mengatakan penelitian lanjutan juga akan mendalami hubungan temuan Candi Wajra dengan tradisi Buddha setempat.

Adapun mencari metode konservasi yang sesuai untuk bangunan berbahan bata di lingkungan lembap. Pemerintah pusat akan melibatkan pemerintah daerah, arkeolog, dan ahli konservasi dalam penyusunan rencana penanganan kawasan.

Selain menyelamatkan bangunan yang mulai rusak, penelitian itu diharapkan dapat mengungkap bagian lain yaitu dari kompleks Candi Muara Takus yang hingga kini belum sepenuhnya diketahui. ils/I-1

  • Menbud
  • Candi Muara Takus

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.