Kualitas Udara di Sulsel Belum Stabil Dipengaruhi Dampak Asap Karhutla

Sabtu, 17 Okt 2026, 23:20 WIB

Makassar - Stasiun Klimatologi BMKG Wilayah IV Makassar melansir kualitas udara di wilayah Provisi Sulawesi Selatan belum stabil dan masih dalam kategori sedang, disebabkan atmosfer masih dipengaruhi asap dampak kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla.

Berdasarkan pantauan di situs BMKG.go.id/kualitas udara/pm2,5, pada Sabtu, tercatat Particulate Matter (PM2.5) atau konsentrasi partikulat berada di angka 53,5 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pukul 20.00 WITA.

Ket. Foto: Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar menunjukkan grafikpa da layar digital pemantauan kondisi kualitas udara pada wilayah Makassar dan sekitarnya di Kantor BMMKG setempat, Jalan Prof Basalamah (eks Racing Center) Makassar, Sulawesi Selatan. — Sumber: Antara

Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV Makassar Rizky Yudha Pahlawan menyebutkan, grafik riwayat pemantauan BMKG menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Kabupaten Maros akan terus berfluktuasi mulai malam hingga pagi hari. "Kategori sedang," katanya.

PM2.5 merupakan partikel udara berukuran lebih kecil dari atau sama dengan 2,5 µm (micrometer) yang dapat menembus ke dalam pernafasan manusia. Pengukuran konsentrasi PM2.5 menggunakan metode penyinaran sinar beta (Beta Attenuation Monitoring) dengan satuan mikrogram per meter kubik (µg/m³).

BMKG juga mengklasifikasi, jika konsentrasi PM2.5 sebesar 0–15,4 µg/m³ masuk kategori baik. Sedangkan, kategori sedang antara 15,5–55,4 µg/m³. Kategori tidak sehat 55,5–150,4 µg/m³. Sangat tidak sehat 150,5–250,4 µg/m³, dan angka di atas 250,4 µg/m³ masuk dalam kategori berbahaya.

Kendati demikian, kualitas udara untuk kategori sedang, masih dapat diterima bagi kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan. Tetapi, apabila kualitas udara masuk kategori tidak sehat, maka dapat berpengaruh pada manusia dalam hal pernafasan termasuk hewan, maupun tumbuhan.

Secara terpisah, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sulsel Muhammad Yusri Yunus melaporkan, data yang dihimpun dari aplikasi maupun puskesmas dan rumah sakit per September 2026, tercatat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sebanyak 70.329 kasus.

"Memang ada sedikit peningkatan kasus ISPA yang terjadi pada bulan September ini," ujarnya.

Kendati demikian, belum ada laporan kematian maupun kasus kritis ISPA dialami pasien sejauh ini. Mengenai kabut asap yang menyelimuti wilayah Sulsel berasal dari karhutla, kata dia, tentu ada pengaruh, tetapi ada juga faktor lain jika seseorang mengalami ISPA.

Guna mengantisipasi paparan asap tersebut, Pemerintah Provinsi Sulsel telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 100.3.4/13819/DINKES tentang Kewaspadaan terhadap Influenza pada 7 Oktober 2026.

Surat Edaran (SE) ini menindaklanjuti analisis BMKG melansir pada 5 Oktober 2026 terjadi peningkatan konsentrasi PM2.5 yakni perubahan kualitas udara masuk kategori sangat tidak sehat, dari sebelumnya sedang atau tidak sehat.

Dalam SE tersebut masyarakat diimbau menjalankan langkah pencegahan terhadap dampak risiko pada gangguan pernapasan dan dianjurkan mengenakan masker saat beraktivitas, menjaga kesehatan keluarga terutama potensi rentan seperti anak-anak, lansia, maupun memiliki Riwayat asma dan jantung.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Makassar Andi Mariani untuk kasus ISPA di Sulsel per 14 Oktober 2026 jumlah penderita ISPA tercatat sebanyak 7.940 kasus di Makassar.

"Kami terus mengimbau dan menyarankan masyarakat tetap mengenakan masker untuk mengurangi paparan polutan saat beraktivitas di luar rumah. Periksakan diri ke puskesmas atau layanan rumah sakit bila merasa sesak nafas agar segera ditangani," katanya menambahkan

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.