Gejolak Pangan Dunia Menguat, Indonesia Waspadai Lonjakan Harga Beras
📅 Kamis, 15 Okt 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiJakarta - Kenaikan harga pangan akibat gangguan rantai pasok, lonjakan biaya input pertanian, dan ancaman perubahan iklim menjadi risiko yang perlu diwaspadai Indonesia di tengah meningkatnya tekanan terhadap ketahanan pangan global.
Kepala Ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), Maximo Torero, mengatakan risiko terbesar ketahanan pangan dunia saat ini bukan kelangkaan pasokan, melainkan kenaikan harga yang dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan di masa depan.
Dalam wawancara dengan Xinhua menjelang Forum Pangan Dunia (World Food Forum/WFF) di Roma, Selasa (13/10), Torero menjelaskan bahwa gangguan pengiriman di Selat Hormuz, pembatasan pengiriman biji-bijian dari Laut Hitam, serta meningkatnya kemungkinan El Nino kuat memperbesar ketidakpastian pasar pangan.
Gangguan di Selat Hormuz menjadi perhatian karena jalur tersebut dilalui hingga 30 persen pupuk yang diperdagangkan secara internasional. Sementara itu, pembatasan jalur pelayaran di Terusan Panama dan Laut Merah turut meningkatkan biaya pengiriman.
Tekanan tersebut tercermin dalam Indeks Harga Pangan FAO yang mencapai rata-rata 136,0 poin pada September, naik 1,5 persen dibandingkan Agustus dan 5,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Torero mengatakan kondisi saat ini lebih kompleks dibandingkan krisis 2022, ketika negara-negara pengekspor lain dengan cepat menggantikan pasokan biji-bijian dari Ukraina. Saat ini, sekitar 25 hingga 30 persen pasokan input pertanian menghadapi pembatasan, sedangkan pembangunan kapasitas produksi pupuk baru membutuhkan waktu lima hingga 10 tahun.
Petani juga mulai mengurangi penggunaan urea, yang berpotensi menekan hasil panen berikutnya, serta beralih dari tanaman gandum dan jagung ke kedelai. Meski persediaan serealia global masih relatif memadai, keterjangkauan harga pangan menjadi persoalan utama.
FAO memperkirakan rasio persediaan terhadap penggunaan serealia global mencapai 31,7 persen pada musim 2026/2027. Namun, kenaikan harga komoditas diperkirakan mulai dirasakan konsumen dalam tiga hingga enam bulan, seiring penyesuaian harga di tingkat eceran.
Stok Beras
Dari Yogyakarta, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwijono Hadi Darwanto, mengingatkan pemerintah agar memperhitungkan pengadaan cadangan beras secara optimal supaya tidak mengurangi pasokan yang beredar di masyarakat.
“Untuk itu sebaiknya pengadaan stok beras pemerintah jangan terlalu tinggi atau perlu diperhitungkan stok optimal yang tidak mengganggu stok di masyarakat,” kata Dwijono.
Menurut dia, gangguan di Selat Hormuz dapat menghambat pasokan bahan baku input pertanian dan menaikkan biaya usaha tani, terutama di negara-negara penghasil padi. Ketergantungan Indonesia terhadap input dari luar negeri membuat kenaikan biaya tersebut berpotensi menjadi kendala bagi peningkatan produktivitas pertanian.
Dwijono juga menyoroti pengadaan beras pemerintah yang disebut mencapai 4–5 juta ton dan menilai volumenya perlu diperhitungkan dengan mempertimbangkan ketersediaan beras di masyarakat. Pengelolaan cadangan yang tidak tepat, menurut dia, dapat menambah tekanan terhadap harga beras.
Ia mengingatkan kenaikan harga beras berpotensi mendorong inflasi serta membuka peluang peningkatan impor dan penyelundupan beras.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!