Jumilah Joss Tenan Tangani 870 Kilogram Sampah Plastik Residu per Hari

Rabu, 14 Okt 2026, 14:15 WIB

YOGYAKARTA—Sebanyak 870 kilogram sampah plastik residu per hari kini dapat ditangani dari 45 kelurahan di Kota Yogyakarta melalui pemilahan langsung dari sumber. Skema tersebut dikembangkan untuk mengurangi volume sampah yang masuk dan menumpuk di depo.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta menjalankan pemilahan tersebut melalui program Jumilah Joss Tenan atau Jogja Memilah Sampah, Jogja Sorting for The Source Terintegrasi dan Berkelanjutan. Program ini melengkapi penanganan sampah yang sebelumnya menyasar sampah organik hingga sampah spesifik seperti kasur, bantal, dan guling.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Pemkot Yogyakarta

Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan Lingkungan Hidup DLH Kota Yogyakarta Supriyanto mengatakan, sampah plastik residu dipisahkan sejak dari hulu sebelum masuk ke sistem pengangkutan. Sampah yang telah dipilah selanjutnya ditangani berdasarkan karakteristiknya.

“Yang biasanya memenuhi depo, sampah plastik residu ini kita pilah dari hulu. Setelah dipilah, kemudian kita proses melalui pirolisis,” kata Supriyanto saat ditemui di Kelurahan Patangpuluhan, Selasa (13/10/2026).

Pirolisis merupakan proses pengolahan material melalui pemanasan pada kondisi tertentu sehingga menghasilkan produk yang memiliki nilai guna. Metode ini digunakan agar plastik residu yang sebelumnya menjadi beban lingkungan dapat dimanfaatkan menjadi material atau produk lain.

"Dengan pendekatan ini, sampah plastik residu yang sebelumnya menjadi beban lingkungan diupayakan dapat diolah menjadi material atau produk yang lebih bermanfaat," ungkapnya.

Salah satu sumber sampah yang menjadi sasaran program adalah warung makan. Unit usaha tersebut dinilai menghasilkan sampah plastik residu dalam jumlah cukup besar setiap hari sehingga pemilahan dari sumber menjadi penting.

"Pemilahan tidak hanya mengandalkan kesadaran pelaku usaha maupun masyarakat, tetapi juga melibatkan petugas khusus juru pemilah sampah atau Jumilah," bebernya.

Jumilah bertugas memilah sampah secara lebih spesifik agar masing-masing jenis material dapat diarahkan ke metode penanganan yang sesuai. Dengan mekanisme tersebut, sampah yang telah dipisahkan tidak kembali bercampur sebelum diproses.

"Dengan demikian, sampah tidak tercampur dan seluruh jenis material dapat memperoleh perlakuan berdasarkan karakteristiknya," katanya.

Supriyanto mengatakan, pola pemilahan sekaligus penanganan berdasarkan jenis sampah menjadi bagian dari inovasi pengelolaan sampah yang dikembangkan Pemkot Yogyakarta. Menurut dia, sistem melalui Jumilah Joss Tenan tersebut menjadi yang pertama diterapkan di Indonesia.

“Ini inovasi yang pertama kali di Indonesia. Ini adalah sistem pemilahan yang benar. Jadi sampah dipilah berdasarkan jenisnya dan ditangani sesuai jenisnya,” ujarnya.

Pengelolaan tersebut, lanjutnya, tidak berhenti pada pemindahan sampah dari sumber menuju lokasi lain. Material yang telah dipilah harus diproses agar tidak kembali menjadi persoalan lingkungan.

“Sehingga sampah itu diolah tidak menjadi sampah baru, tetapi diolah menjadi bahan yang lebih berguna,” katanya.

Saat ini, Jumilah Joss Tenan telah diterapkan di seluruh kelurahan di Kota Yogyakarta. Sampah plastik residu dijemput secara bertahap melalui sistem yang melibatkan petugas pemilah dan sumber-sumber sampah.

Dari 45 kelurahan, volume sampah plastik residu yang dapat ditangani mencapai sekitar 870 kilogram setiap hari. Jumlah tersebut menunjukkan potensi pengurangan sampah yang masuk ke depo apabila pemilahan dari sumber dilakukan secara konsisten.

"Jumlah tersebut menunjukkan besarnya potensi sampah plastik residu yang dapat dikurangi dari aliran sampah menuju depo apabila pemilahan dilakukan secara konsisten dari sumbernya," katanya.

Skema tersebut juga diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pengelolaan sampah pada tempat pembuangan. Penanganan dilakukan dengan mengedepankan pemilahan, pengolahan, serta pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai guna.

"Konsep ini sekaligus memperkuat pendekatan pengelolaan sampah dari hulu. Artinya, persoalan sampah tidak hanya diselesaikan ketika sudah berada di depo atau tempat pemrosesan akhir, tetapi dimulai sejak sampah dihasilkan oleh rumah tangga, warung makan, maupun unit usaha lainnya," jelasnya.

Supriyanto menilai keberlanjutan program membutuhkan keterlibatan masyarakat dan pelaku usaha. Jumilah juga memiliki peran penting sebagai penghubung antara sumber sampah dengan sistem pengolahan yang telah disiapkan.

“Kami berharap program ini bisa terus ditingkatkan dengan melibatkan aktif unit-unit usaha dan Jumilah,” ujar Supriyanto.

Masyarakat juga didorong melakukan pemilahan sebelum sampah diserahkan kepada petugas. Pemisahan berdasarkan jenis dinilai dapat mempermudah pengolahan sekaligus membuka peluang pemanfaatan kembali material yang masih bernilai.

"Dengan semakin banyak masyarakat dan pelaku usaha yang memilah sampah sesuai jenisnya, proses pengolahan akan menjadi lebih mudah dan efektif. Sampah yang masih memiliki nilai guna dapat diarahkan untuk dimanfaatkan kembali, sementara sampah yang memang masuk kategori residu dapat memperoleh penanganan khusus," harapnya.

Manfaat pemilahan dari sumber dirasakan Pemilik Warung Makan Sri, Sri Mulyati. Ia mengatakan kondisi warung menjadi lebih bersih setelah sampah dipisahkan karena tidak lagi bercampur dan menumpuk terlalu lama.

“Dengan memilah sampah, warung jadi lebih bersih dan sampahnya tidak menimbulkan bau,” ujarnya.

Selain membantu menjaga kebersihan, pemilahan juga memberikan nilai ekonomi. Sejumlah sampah plastik, termasuk botol, masih dapat dikumpulkan dan disetorkan ke bank sampah.

“Kalau sampah plastik seperti botol itu bisa dijual ke bank sampah. Jadi selain warung lebih bersih, bisa menambah penghasilan juga,” pungkasnya.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.