BPBD Jember: Akibat Kemarau Ekstrem, 2.456 KK Terdampak Kekeringan
📅 Rabu, 14 Okt 2026, 13:45 WIB | Oleh: Tim PenulisJEMBER – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember mencatat sebanyak 2.456 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan akibat kemarau ekstrem yang cukup panjang di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
"Berdasarkan data hingga hari ini, sebanyak 2.456 KK yang tersebar di 19 desa/kelurahan yang berada di 10 kecamatan mengalami krisis air bersih karena sumur mereka mengering akibat kemarau ekstrem," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember, Edy Budi Susilo, Rabu (14/10).
Menurut dia, pihak BPBD Jember sempat kewalahan untuk memenuhi banyaknya permintaan masyarakat untuk distribusi air bersih selama beberapa pekan terakhir, sehingga pihaknya berkoordinasi dengan beberapa perangkat daerah untuk membantu penyaluran air untuk wilayah yang terdampak kekeringan.
"Saat ini kami harus mengatur skala prioritas untuk masyarakat yang membutuhkan air bersih untuk kebutuhan memasak dan minum, sehingga masyarakat yang membutuhkan air bersih untuk mandi dan cuci pakaian terpaksa harus bersabar," tuturnya.
Ia menjelaskan BPBD Jember menerima perkembangan terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa musim kemarau akan semakin panjang yakni hingga akhir November 2026, padahal sebelumnya informasinya kemarau akan berakhir pada awal November 2026.
"Dengan informasi dari BMKG tersebut, maka awal musim hujan di Kabupaten Jember diprediksi pada awal Desember 2026, sehingga kemarau semakin panjang dan kemungkinan kebutuhan air bersih masyarakat juga semakin meningkat," katanya.
Selain itu, lanjut dia, beberapa kecamatan yang awalnya berada di zona hijau atau aman dari potensi kekeringan yakni Kecamatan Bangsalsari dan Jelbuk, kini juga ada desa di dua kecamatan tersebut yang memerlukan distribusi air bersih akibat kemarau panjang.
Edy mengatakan bahwa sumber mata air sebanyak enam titik, salah satunya di Desa Garahan, Kecamatan Silo yang masih menjadi tumpuan BPBD Jember untuk menjadi tempat pengambilan air bersih untuk disalurkan kepada masyarakat yang mengalami krisis air bersih.
"Kami juga berkoordinasi dengan beberapa organisasi perangkat daerah (OPD), Palang Merah Indonesia (PMI) dan pihak Perumdam Tirta Pandalungan untuk bersinergi menyalurkan air bersih kepada warga yang terdampak kekeringan," ujarnya.
Edy mengimbau masyarakat untuk bijak dan hemat dalam menggunakan air bersih karena musim kemarau diprediksi masih panjang, sehingga hal-hal sederhana penghematan air bisa dilakukan mulai di tingkat rumah tangga.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!