Pakar UGM: Praktik Brandu Berisiko Jadi Jalur Penularan Antraks
Senin, 12 Okt 2026, 15:30 WIBYOGYAKARTA â Praktik brandu yang bertujuan membantu peternak saat ternaknya sakit atau mati berisiko menjadi jalur penularan antraks kepada manusia. Risiko muncul ketika ternak terinfeksi disembelih, dikuliti, dibagikan, hingga dikonsumsi masyarakat.
Guru Besar Departemen Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM Prof. drh. Widagdo Sri Nugroho mengatakan, brandu pada dasarnya mencerminkan solidaritas masyarakat untuk meringankan kerugian peternak. Namun, praktik tersebut menjadi berbahaya apabila dilakukan terhadap ternak yang terkena antraks.
âKalau konsep brandu kan baik, meringankan beban orang yang kesusahan karena ternaknya atau rojokoyonya mati. Artinya, membantu sesama atau gotong royong. Tapi dalam kasus antraks, ada risiko yang kemudian ditanggung oleh masyarakat,â jelasnya, Senin (12/10).
Peringatan itu disampaikan menyusul kasus antraks di Gunungkidul pada September lalu. Dinas Kesehatan Gunungkidul menyebut empat pasien positif antraks telah sembuh setelah menjalani perawatan. Sebelumnya, tujuh warga Dusun Pelem, Kalurahan Semanu, dinyatakan suspek setelah memiliki kontak dengan ternak sakit yang mati mendadak.
Widagdo menjelaskan, antraks disebabkan bakteri Bacillus anthracis yang mampu membentuk spora dan bertahan di lingkungan selama puluhan tahun. Pada manusia, penularan dapat terjadi melalui kulit, saluran pencernaan, maupun pernapasan.
Orang yang menyembelih atau menguliti ternak terinfeksi berisiko tertular melalui luka pada kulit, termasuk luka berukuran sangat kecil. Sementara konsumsi daging ternak terinfeksi dapat menyebabkan penularan melalui saluran pencernaan.
âArtinya, kebiasaan brandu itu, kalau terjadi pada ternak yang menderita sakit antraks, menjadi potensi penularan antraks ke manusia,â ungkapnya.
Menurut Widagdo, kemunculan kasus antraks yang berulang di Gunungkidul menunjukkan perlunya penguatan pencegahan agar penyakit pada ternak tidak kembali menular kepada manusia.
âJadi khusus di Gunungkidul, ini masih menjadi PR bersama kita untuk mengendalikan penyakit antraks, dalam pengertian jangan sampai ke manusia lagi,â tuturnya.
Vaksinasi menjadi langkah utama untuk mencegah antraks pada ternak. Pengawasan juga diperlukan terhadap ternak yang baru didatangkan dari luar daerah maupun ternak yang baru lahir dan belum memperoleh vaksin.
âNah, kuncinya hanya vaksin kalau di hewannya,â jelasnya.
Selain vaksinasi, edukasi masyarakat dinilai perlu diperluas tidak hanya kepada peternak, tetapi juga perempuan dan generasi muda. Nilai gotong royong dalam brandu, menurut Widagdo, tetap dapat dipertahankan dengan bentuk bantuan yang tidak menimbulkan risiko penularan penyakit.
âGotong royongnya tetap kita usahakan ada, tapi bentuk yang terkait dengan kasus-kasus penyakit hewan yang berisiko seperti ini, mereka tetap bisa menghindari,â tuturnya.
Dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi FK-KMK UGM dr. Riris Andono, Ph.D., menilai kasus antraks berulang di Gunungkidul juga berkaitan dengan mobilitas ternak, kondisi ekonomi peternak, serta keberadaan spora di lingkungan.
Gunungkidul menjadi salah satu jalur perdagangan ternak, termasuk dari Jawa Timur dan Pacitan. Karena itu, pengawasan lalu lintas ternak dan kelengkapan sertifikat kesehatan diperlukan untuk mengurangi risiko masuknya ternak terinfeksi.
âYang pasti adalah pola mobilitas ternak. Karena ternak itu diperdagangkan, dan Gunungkidul itu termasuk dalam satu jalur mobilitas untuk perdagangan ternak,â ujarnya.
Faktor ekonomi juga memengaruhi perilaku peternak ketika ternaknya sakit atau mati. Sebab, ternak menjadi aset atau simpanan kekayaan sehingga pemilik berpotensi berupaya mengurangi kerugian dengan menjual atau membagikan dagingnya.
Menurut Riris, skema asuransi ternak dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi beban kerugian peternak. Dengan adanya kompensasi, peternak diharapkan tidak terdorong menjual atau membagikan ternak terinfeksi.
Selain itu, penanganan bangkai dan dekontaminasi lingkungan harus dilakukan secara tepat karena spora antraks dapat bertahan lama. Pengawasan ternak, vaksinasi, edukasi masyarakat, dan perlindungan ekonomi peternak menjadi bagian penting untuk mencegah kasus antraks kembali berulang.
- antraks
- Gunung Kidul
- peternakan
- Kasus antraks Gunungkidul
Redaktur: Eko S
Penulis: Eko S
Berita Terkait:
-
Tak Cukup Andalkan Komoditas, Wamendag Minta Teknologi Bawa Produk RI Mendunia
-
Pameran Andrei Stenin 2025 di AHC Tampilkan 19 Foto Tunggal dan 12 Foto Seri
-
Puluhan Hewan di Gunungkidul Terpapar Antraks, Ini Langkah Cepat Kementan
-
Wamenag: Pelaku Kekerasan Seksual Tak Boleh Dapat Toleransi
-
MICE Salah Satu Kunci Pendorong Nilai Baru Pariwisata RI Menuju 2027
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.