Konsumen Menjerit Petani Rugi, Mentan Soroti Anomali Tata Niaga Pangan

Jumat, 23 Okt 2026, 15:00 WIB

MAKASSAR - Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyoroti anomali tata niaga pangan yang merugikan dua sisi sekaligus. Petani mengeluh harga jual anjlok, sementara konsumen menjerit harga di pasar tetap tinggi, padahal produksi melimpah.

Hal itu ditegaskan Mentan Amran dalam Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera Wilayah Sulampua 2026 di Makassar, Jumat (23/10). Menurutnya, inflasi memang terkendali di angka 3,28 persen di bawah batas atas 3,5 persen, tapi tata niaga harus segera dibenahi.

Ket. Foto: Menteri Pertanian Amran Sulaiman dalam acara Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera Wilayah Sulampua, Makassar, Jumat (23/10) menegaskan, inflasi memang terkendali di angka 3,28 persen di bawah batas atas 3,5 persen, tapi tata niaga pangan harus segera dibenahi — Sumber: istimewa

"Alhamdulillah, saat ini petani sejahtera, inflasi terkendali. Inflasi sekarang 3,28 persen, target maksimal 3,5 persen," kata Amran.

Ia mencontohkan anomali paling nyata terjadi pada ayam dan telur. Produksi surplus bahkan sudah ekspor, tapi peternak tetap mengeluh.

"Produksi ayam kita surplus, telur surplus, beras juga surplus. Bahkan sudah ada yang kita ekspor. Tetapi peternaknya mengeluh karena harga di tingkat mereka rendah, konsumen juga mengeluh karena harga di pasar tinggi. Ini yang harus kita benahi," ungkapnya.

Amran membeberkan kesenjangan harga yang tidak wajar. Harga ayam di tingkat peternak hanya Rp21.000 per kg, sementara di tingkat konsumen melambung hingga Rp46.000 per kg.

"Kalau peternak mengeluh karena harga terlalu rendah dan konsumen mengeluh karena harga terlalu tinggi, berarti ada yang tidak beres di tengahnya. Kita harus berani membenahi ini," tegasnya.

Ia menegaskan pengendalian inflasi tidak boleh mengorbankan petani dengan menjatuhkan harga di tingkat produsen.

"Tujuan kita bukan membuat harga petani jatuh supaya konsumen murah. Tujuan kita adalah petani mendapat harga yang layak, konsumen membeli dengan harga yang wajar, dan mata rantai yang tidak efisien kita pangkas," ujarnya.

Untuk membenahi tata niaga, Mentan mendorong pemangkasan rantai pasok yang tidak efisien, penguatan distribusi, dan pembangunan infrastruktur penyimpanan seperti cold storage. Ia juga mendorong penguatan koperasi sebagai penghubung langsung petani ke konsumen.

"Ketika produksi melimpah, kita harus bisa mengelola pasokan. Kalau produksi berkurang, stok yang tersedia bisa dikeluarkan. Dengan begitu, petani terlindungi dan konsumen juga mendapatkan harga yang lebih wajar," jelasnya.

Komoditas seperti cabai, tomat, telur, dan ayam bisa disimpan saat panen raya dan dikeluarkan saat pasokan menipis, sehingga harga tidak anjlok di petani dan tidak melonjak di konsumen.

Amran juga menyebut telah melaporkan praktik perdagangan yang berpotensi merugikan produsen dan konsumen kepada aparat penegak hukum.

Di tengah ancaman El Nino 2026 dan potensi La Nina tahun depan, Mentan menilai pembenahan tata niaga harus berjalan beriringan dengan penguatan produksi.

"2025 kita menghadapi El Nino. Sekarang El Nino, tahun depan juga ada La Nina. Kita sudah terlatih menghadapi kondisi seperti itu," katanya.

Ia menegaskan kolaborasi pusat, daerah, petani, dan peternak menjadi kunci, terutama untuk memperkuat produksi di Sulawesi, Maluku, dan Papua agar tidak terlalu tergantung pasokan dari luar.

"Insya Allah, swasembada pangan beras berkelanjutan. Itu yang harus kita jaga. Bukan hanya beras, kita juga terus memperkuat komoditas pangan lainnya," pungkas Amran.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.