Cegah Pes, Pakar UGM Dorong Kesiapan Layanan Kesehatan dan Pengendalian Tikus
Senin, 12 Okt 2026, 16:00 WIBYOGYAKARTA â Kesiapan layanan kesehatan dan pengendalian populasi tikus perlu diperkuat untuk mencegah kemunculan penyakit pes di Indonesia. Surveilans terhadap bakteri Yersinia pestis pada hewan pengerat juga perlu dilakukan secara berkelanjutan meski sudah puluhan tahun tidak ditemukan laporan pes pada manusia di Indonesia.
Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) Prof. dr. Tri Wibawa, Ph.D., Sp.MK(K). mengatakan, kewaspadaan tetap diperlukan karena bakteri Y. pestis masih ditemukan pada hewan pengerat liar yang dapat menjadi perantara penyebaran penyakit.
âDengan demikian, selalu ada potensi untuk muncul penyakit pes pada manusia setiap saat, meskipun sudah puluhan tahun tidak ditemukan laporan penyakit pes pada manusia di Indonesia,â jelasnya, Senin (12/10).
Menurut Tri, pencegahan perlu dilakukan melalui penguatan surveilans terhadap keberadaan Y. pestis pada vektor, terutama tikus. Pengendalian populasi tikus juga perlu menjadi perhatian karena hewan pengerat tersebut hidup dekat dengan lingkungan manusia.
Kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan dalam mengenali penyakit pes juga harus diperkuat. Kemampuan mendeteksi gejala dan memberikan penanganan secara tepat menjadi penting mengingat penyakit tersebut sudah lama tidak ditemukan pada manusia di Indonesia.
âTerapi antibiotik yang cepat dan tepat menjadi kunci dari penanganan penyakit ini,â tutup Tri.
Perhatian terhadap penyakit pes kembali meningkat menyusul informasi dugaan wabah di Irkutsk, Siberia, Rusia. Kementerian Kesehatan RI telah meningkatkan kewaspadaan di pintu-pintu masuk Indonesia terkait perkembangan tersebut.
Dugaan kasus di Rusia bermula dari kematian seorang pekerja laboratorium yang dikaitkan dengan paparan bakteri Y. pestis. Namun, otoritas Rusia menyatakan kematian tersebut disebabkan pneumonia yang penyebabnya belum dapat dipastikan.
Tri mengingatkan agar perkembangan tersebut disikapi secara hati-hati dan tidak menimbulkan kepanikan. Belum adanya kepastian mengenai kasus di Rusia membuat kemungkinan penyebaran maupun mekanisme penularannya ke Indonesia belum dapat disimpulkan.
âHingga saat ini belum jelas apa yang terjadi di Rusia, apakah merupakan penyakit pes ataukah bentuk penyakit yang lainnya. Sehingga tidak dapat berspekulasi untuk penyebaran dan mekanisme penularannya di Indonesia,â pungkas Tri.
Pes merupakan penyakit infeksi yang terutama ditularkan melalui gigitan pinjal terinfeksi, khususnya pinjal pada tikus. Penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau jaringan hewan yang terinfeksi serta melalui droplet yang mengandung bakteri.
Salah satu bentuk yang perlu diwaspadai adalah pneumonic plague atau pes pneumonik, yakni infeksi yang menyerang jaringan paru-paru.
âJenis ini dapat menular dari hewan ke manusia maupun antarmanusia melalui droplet,â sambungnya.
Berita Terkait:
-
24 ASN Pemkot Bekasi Dipecat, Ini Penjelasan Wali Kota Tri Adhianto
-
Menaker: Transisi Hijau Buka Peluang Kerja Baru bagi Tenaga Kerja Indonesia.
-
Pencarian KM Virgo Makin Dramatis, Penyelam Temukan Banyak Jasad di Kamar
-
Menkomdigi Kunjungi Telin di Los Angeles, Bahas Konektivitas Digital Global
-
Dinkes Simeulue Kirim Tim Medis ke Desa Terluar Pulau Teupah, Warga Dapat Layanan Kesehatan.
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.