Blok M Kini Bukan Sekadar Tempat Transit, Menjelma Jadi Oase Kuliner & Kongko di Tengah Hiruk-Pikuk Kota
📅 Senin, 12 Okt 2026, 18:56 WIB | Oleh: OpikIa mendorong penyediaan jalur pejalan kaki yang lebih memadai, termasuk kemungkinan koridor atau jembatan penyeberangan yang terlindung dari cuaca. Menurut dia, integrasi transportasi harus membuat perpindahan antarmoda nyaman bagi orang yang memilih meninggalkan kendaraan pribadi.
Masih ada persoalan
Division Head Business Planning and Expansion MRT Jakarta R. Samuel Ryan Pradipta Pranowo mengatakan perkembangan Blok M sejalan dengan misi MRT Jakarta untuk menghidupkan kembali simpul ekonomi perkotaan.
"Pengembangan bisnis MRT, tidak ingin hanya menjadi penyedia infrastruktur, penyedia jalur kereta, penyedia stasiun, kami ingin menjadi city regenerator, menghidupkan lagi simpul-simpul ekonomi yang ada di kota, khususnya Jakarta," kata Samuel.
Menurut dia, hampir 500 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) telah menjalin kerja sama dengan MRT Jakarta.
Samuel juga mencontohkan kegiatan ekonomi kreatif dan festival di Blok M yang menggerakkan usaha di sekitarnya, mulai dari kuliner hingga penginapan.
"Satu event festival yang mencakup satu kawasan, kami sudah interpolasi sehingga kurang lebih dampaknya itu sekitar Rp20 miliar-Rp30 miliar saat festival itu terjadi," katanya.
Di tengah pertumbuhan aktivitas komersial, kualitas ruang publik masih menjadi pekerjaan rumah. Deputy Director ITDP Indonesia Deliani Siregar mengatakan perubahan Blok M dari kawasan transit menjadi destinasi didorong oleh aksesibilitas transportasi publik dan keragaman fungsi kawasan.
Blok M berada di antara Stasiun MRT Blok M BCA dan Stasiun ASEAN, serta berdekatan dengan Terminal Blok M yang melayani berbagai rute TransJakarta. Kawasan ini juga memiliki pusat perbelanjaan, tempat kuliner dan hiburan, serta fasilitas publik seperti Taman Martha Tiahahu dan Taman Bendera Pusaka.
Namun, menurut Deliani, akses transportasi yang baik belum otomatis menjadikan Blok M kawasan berorientasi transit (transit-oriented development/TOD) yang ideal.
Mengacu pada delapan prinsip pengembangan kawasan berorientasi transit (TOD) dari ITDP, Deliani menyoroti kualitas jalur pejalan kaki, fasilitas bersepeda, keragaman fungsi kawasan, dan ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Trotoar di Blok M masih terhalang kendaraan parkir, tiang listrik, pohon, dan elemen infrastruktur lainnya. Akses ke sejumlah bangunan juga belum sepenuhnya inklusif, terutama bagi pengguna kursi roda dan lansia.
Fasilitas bersepeda pun perlu ditingkatkan. Meski jalur sepeda tersedia di sejumlah ruas jalan utama, perlindungan fisik dan tempat parkir sepeda masih perlu diperbaiki. Layanan sepeda berbagi dapat menjadi alternatif untuk perjalanan jarak pendek menuju dan dari transportasi publik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!