Blok M Kini Bukan Sekadar Tempat Transit, Menjelma Jadi Oase Kuliner & Kongko di Tengah Hiruk-Pikuk Kota
📅 Senin, 12 Okt 2026, 18:56 WIB | Oleh: OpikJAKARTA - Di lorong stasiun MRT Blok M, Jakarta, penumpang berjalan ke berbagai arah. Sebagian bergegas mengejar kereta, sebagian lagi menuju pusat perbelanjaan atau kedai kopi. Blok M kini bukan hanya kawasan transit, melainkan juga tempat untuk berbelanja, makan, atau menghabiskan waktu.
Seorang pengunjung bernama Rama mengaku tertarik pada banyaknya pilihan aktivitas di kawasan tersebut. Ia biasanya mendatangi pusat perbelanjaan atau mampir ke kedai kopi.
"Blok M menarik karena tempat melancong yang paling lengkap dan semua yang kalcer-kalcer (culture) ada di sana," kata Rama, yang lebih sering menggunakan sepeda motor ketika menyambangi Blok M.
Pengunjung lain, Putu, menilai kehadiran MRT turut memengaruhi keramaian kawasan itu, meski ia sendiri tidak menggunakan moda tersebut.
Sementara itu, Belia memilih TransJakarta untuk menuju Blok M. Meski baru dua kali berkunjung, ia pernah menghabiskan waktu bersama temannya di Blok M dari pukul 10.00 hingga 16.00 WIB, sebagian besar di satu tempat untuk nongkrong.
"Yang bikin menarik pastinya karena banyak hal yang lagi viral seperti makanan, photo booth, minuman dan banyak hal menarik lainnya buat Gen Z datengin," katanya.
Stasiun MRT jadi tempat singgah
Sebagian pengguna MRT juga menghabiskan waktu di dalam stasiun sebelum melanjutkan perjalanan.
Tomi, misalnya, biasa duduk selama 10–15 menit di Stasiun MRT Blok M BCA. Menurut dia, keberadaan area ritel dan tempat duduk membuat Stasiun Blok M BCA berbeda dari sejumlah stasiun MRT lainnya.
"Blok M, miniatur Jakarta masa depan," katanya. Ia berharap integrasi MRT, TransJakarta, dan JakLingko segera rampung agar pengguna memiliki lebih banyak pilihan moda.
Diva, pengguna MRT lainnya, mengaku bisa menghabiskan sekitar satu jam di stasiun itu untuk mengisi daya telepon sambil menikmati minuman. Namun, Tomi dan Diva menilai kapasitas stasiun kurang memadai ketika pengunjung membludak. Keduanya juga mengeluhkan sirkulasi udara yang membuat stasiun terasa panas.
Winda biasanya hanya menghabiskan lima hingga 10 menit di stasiun untuk menunggu kereta atau teman. Ia menyukai area yang luas, tempat duduk, dan gerai makanan serta minuman.
"Kadang kalau jajan di pusat perbelanjaan kan suka antre panjang. Jadi, tenant di stasiun bisa jadi pilihan lain," kata Winda.
Meski menyebut Blok M kekinian, terintegrasi, dan modern, Winda masih menyoroti kepadatan pada jam sibuk, ukuran musala, dan kualitas sinyal telekomunikasi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!