Remaja 16 Tahun Hilang di Pegunungan Kanada Usai Ikuti Arahan Chatbot Claude AI

Minggu, 11 Okt 2026, 00:00 WIB

OTTAWA - Seorang remaja berusia 16 tahun di Kanada harus menjalani operasi penyelamatan darurat setelah tersesat saat mendaki gunung dengan mengikuti petunjuk rute dari chatbot kecerdasan buatan, Claude. Insiden ini kembali menyoroti risiko ketergantungan pada teknologi digital untuk navigasi di kawasan alam liar yang memiliki medan berbahaya.

Remaja bernama Bryce Vincent Gowryluk itu memulai perjalanannya pada Sabtu pagi pekan lalu dengan menaiki gondola menuju puncak Gunung Grouse, British Columbia. Ia kemudian meminta bantuan Claude untuk merencanakan perjalanan menuju Gunung Crown di dekatnya dan kembali ke titik awal.

Ket. Foto: Masalah muncul ketika arahan yang diterimanya membawanya keluar dari rute yang direncanakan. Setelah melewati Crown Pass, Crater Slabs, dan lembah berbatu, ia justru sampai di bagian bawah Widowmaker Arete, dinding tebing setinggi sekitar 518 meter yang membutuhkan perlengkapan serta pengalaman panjat tebing teknis. — Sumber: Istimewa

Rute tersebut menawarkan pemandangan panorama kawasan Greater Vancouver, Lembah Fraser, hingga daerah aliran sungai Capilano. Namun, perjalanan yang biasanya memerlukan waktu sekitar delapan jam itu dikenal menantang dan tidak direkomendasikan bagi pendaki pemula.

Gowryluk, yang memiliki pengalaman memanjat di fasilitas panjat tebing dalam ruangan, mengikuti petunjuk perjalanan melalui medan berbatu dan jalur pegunungan dengan kenaikan ketinggian lebih dari 600 meter.

Masalah muncul ketika arahan yang diterimanya membawanya keluar dari rute yang direncanakan. Setelah melewati Crown Pass, Crater Slabs, dan lembah berbatu, ia justru sampai di bagian bawah Widowmaker Arete, dinding tebing setinggi sekitar 518 meter yang membutuhkan perlengkapan serta pengalaman panjat tebing teknis.

Kawasan tersebut bukan jalur pendakian biasa. Widowmaker Arete memerlukan perencanaan matang, tali, dan perangkat pengaman khusus untuk menghadapi medan curam. Gowryluk tidak membawa perlengkapan yang diperlukan untuk melakukan pendakian teknis tersebut.

Menyadari kondisi medan terlalu berbahaya untuk dilanjutkan, remaja itu menghubungi ibunya sebelum meminta bantuan layanan darurat.

Tim penyelamat North Shore Rescue kemudian dikerahkan setelah menerima pemberitahuan dari kepolisian. Karena posisi Gowryluk terlalu dekat dengan dinding batu untuk dijangkau langsung oleh helikopter, dua anggota tim penyelamat harus diturunkan menggunakan teknik penyelamatan udara untuk mengevakuasinya.

Gowryluk akhirnya berhasil diangkat dari lokasi berbahaya dan diterbangkan ke markas tim penyelamat di dekat Bendungan Cleveland.

Dalam evaluasi setelah operasi tersebut, North Shore Rescue menyatakan bahwa posisi remaja itu sudah jauh menyimpang dari rute yang seharusnya. Insiden ini diyakini menjadi salah satu kasus pertama di kawasan tersebut ketika seorang pendaki mengalami kesulitan setelah menggunakan arahan AI untuk merencanakan perjalanan.

Manajer pencarian North Shore Rescue, Paul Markey, mengatakan Gowryluk sebenarnya membawa sejumlah perlengkapan dasar yang memadai untuk mendaki, termasuk lampu kepala, sepatu bot, pakaian yang sesuai, baterai cadangan, dan makanan tambahan. Namun, perlengkapan tersebut tidak cukup untuk menghadapi medan panjat tebing teknis yang ditemuinya.

Menurut Markey, persoalan utamanya adalah ketidaksesuaian antara rute yang direncanakan dan kemampuan serta perlengkapan yang dibutuhkan untuk melewati medan sebenarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa chatbot AI tidak memiliki pengalaman langsung dengan kondisi medan yang dihadapi pengguna. Informasi yang dihasilkan sistem hanya dapat mencerminkan keterbatasan data dan kemampuannya dalam menggambarkan suatu wilayah, bukan jaminan bahwa rute tersebut aman dilalui.

Peringatan itu sejalan dengan meningkatnya kekhawatiran tim penyelamat terhadap penggunaan aplikasi digital untuk navigasi di pegunungan. Pada Juli lalu, tiga orang juga dilaporkan harus diselamatkan setelah menggunakan Google Maps untuk merencanakan perjalanan di Howe Sound Crest Trail, British Columbia.

Aplikasi tersebut memberikan perkiraan waktu yang jauh lebih singkat daripada durasi yang lazim dibutuhkan pendaki. Rute yang dapat memerlukan hingga 14 jam perjalanan diperkirakan bisa ditempuh dalam sedikit lebih dari lima jam.

Serangkaian insiden itu menunjukkan bahwa petunjuk digital, baik dari chatbot AI maupun aplikasi peta, tidak selalu mencerminkan tingkat kesulitan medan, kondisi jalur, atau kebutuhan perlengkapan secara akurat.

Markey menegaskan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan kemampuan membaca peta, menggunakan kompas, memahami medan, serta mengambil keputusan ketika menghadapi situasi berbahaya.

Ia juga mengingatkan bahwa sejumlah aplikasi terkadang menampilkan rute di kawasan yang justru tidak direkomendasikan oleh tim penyelamat untuk dilalui pendaki.

Karena itu, pendaki disarankan memeriksa informasi jalur dari sumber resmi, mempelajari kondisi medan sebelum berangkat, membawa perlengkapan yang sesuai, serta memberi tahu orang lain mengenai rencana perjalanan mereka.

Kasus Gowryluk menjadi pengingat bahwa kemudahan memperoleh petunjuk dari AI tidak otomatis membuat perjalanan lebih aman. Di kawasan pegunungan, kesalahan informasi mengenai rute dapat berujung pada situasi yang mengancam keselamatan jiwa.

  • Chatbot AI

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.