Industri Ritel Tumbuh 6,1 Persen, Aprindo Soroti Peluang Indonesia di Asia Pasifik
Minggu, 11 Okt 2026, 14:24 WIBTangerang - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin menegaskan Indonesia dalam peta industri ritel Asia Pasifik bukan hanya sebagai pasar konsumen yang besar, tetapi platform pertumbuhan, penghubung ekosistem bisnis, dan pemain regional yang semakin berkembang.
Solihin di Tangerang, Banten, Minggu (11/10), mengatakan, industri perdagangan besar dan eceran berkontribusi sebesar 13,2 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2025, menjadikannya sektor dengan kontribusi terbesar ketiga setelah industri pengolahan. Sektor ini tumbuh 6,1 persen secara tahunan, lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Kekuatan tersebut ditopang oleh lebih dari 270 juta penduduk dengan karakteristik konsumen yang beragam, mulai dari perkotaan hingga perdesaan, serta keberadaan ritel modern dan tradisional yang sama-sama memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
Namun, bagi Aprindo, potensi Indonesia tidak berhenti pada besarnya pasar domestik. "Indonesia diposisikan sebagai pasar, platform, sekaligus pemain regional. Sebagai pasar, Indonesia menawarkan basis konsumen yang besar, pertumbuhan ritel terorganisasi, serta ekosistem pembayaran digital dan omnichannel yang terus berkembang," kata Solihin dalam keterangannya.
Sebagai platform, ujar Solihin lagi, sudah seharusnya Indonesia menghubungkan konsumen, merek, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), rantai pasok, dan teknologi. Sementara sebagai pemain regional, kapabilitas ritel Indonesia mulai berkembang melampaui batas domestik.
Perkembangan ekspansi lintas negara menjadi salah satu penanda perubahan tersebut. Salah satu anggota Aprindo, Alfamart, telah memasuki Filipina, sementara Alfamart Trading telah memasuki Bangladesh. Perkembangan ini menunjukkan bahwa kemampuan yang dibangun industri ritel Indonesia berpotensi diterapkan dan dikembangkan di pasar regional.
Kapabilitas tersebut tidak hanya berupa format gerai, tetapi juga mencakup pengetahuan manajemen, kemampuan rantai pasok, merek dan produk, serta sumber daya manusia ritel.
"Di sisi lain, kita juga membuka peluang bagi pelaku ritel regional untuk masuk dan berkembang di pasar domestik. Kehadiran ritel luar negeri menjadi salah satu contoh konsep ritel regional yang memasuki Indonesia dan beradaptasi dengan karakteristik pasar setempat," katanya lagi.
Perspektif ini memperlihatkan bahwa hubungan antarpasar di Asia Pasifik tidak harus berhenti pada persaingan. Pertukaran kapabilitas, adaptasi model bisnis, dan kemitraan lintas negara dapat membuka peluang pertumbuhan bersama.
Bagi Aprindo, agenda berikutnya adalah memperkuat ekosistem yang memungkinkan peluang tersebut berkembang, melalui kolaborasi pemerintah dan industri, regulasi yang dapat diprediksi, ketahanan rantai pasok, persaingan digital yang adil, serta integrasi UMKM yang lebih mendalam.
"Indonesia, menawarkan lebih dari sekadar peluang penjualan. Indonesia juga menawarkan ruang untuk membangun kemitraan dan mengembangkan kapabilitas ritel yang dapat berkontribusi pada pertumbuhan kawasan Asia Pasifik," katanya pula.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pemkab Gorontalo Wujudkan Akses Pangan Murah Melalui Gerai KDMP di Limboto Barat
-
Mentan Amran Sebut Swasembada Pangan dan Ekspor Beras Jadi Kado HUT Ke-81 RI
-
Harga Emas Antam Turun Rp25.000 Menjadi Rp2,605 Juta Per Gram pada Kamis
-
Coco Gauff Ukir Sejarah dengan Juarai French Open 2025
-
Rybakina Singkirkan Paolini, Tantang Alexandrova di Final Ningbo Open
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.