Gandeng Telkom University, AirNav Indonesia Perkuat Riset dan Pengembangan Teknologi AI
Jumat, 09 Okt 2026, 14:08 WIBJAKARTA â AirNav Indonesia dan Telkom University memperkuat kolaborasi riset dan pengembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan keamanan siber melalui penandatanganan perjanjian kerja sama tentang Optimalisasi Laboratorium dan Penelitian Bersama Khusus Pengembangan Teknologi Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber.Â
Penandatanganan kerja sama tersebut dilakukan di Jakarta, Kamis (8/10), di sela rangkaian Summit on Advancement in Technology, Research, Industry and Academia (SATRIA) 2026 yang diselenggarakan oleh Center of Excellence Artificial Intelligence for Learning and Optimization (CoE AILO) Telkom University sebagai penyelenggara utama kegiatan.
Pada momentum yang sama, Telkom University memberikan penghargaan kepada AirNav Indonesia sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dan dukungan dalam pengembangan kolaborasi riset, teknologi, dan inovasi, khususnya di bidang kecerdasan artifisial dan keamanan siber. Penghargaan tersebut diterima oleh Direktur Keselamatan, Keamanan dan Standardisasi AirNav Indonesia, Capt. Nurcahyo Utomo, yang hadir mewakili AirNav Indonesia.
Direktur Teknik AirNav Indonesia, Zainal Arifin Harahap, yang didaulat sebagai salah satu panelis SATRIA 2026, mengatakan bahwa dalam penerbangan, keselamatan merupakan prioritas utama. Seiring perkembangan teknologi, keselamatan juga harus berjalan beriringan dengan efisiensi dan keberlanjutan (sustainability).
âKarena itu, kami melihat AI sebagai perangkat pendukung untuk membantu memudahkan dan mempercepat pekerjaan. Namun, AI bukan untuk menggantikan manusia dalam pengambilan keputusan, khususnya yang berkaitan langsung dengan keselamatan penerbangan,â ujar Zainal dalam keterangan tertulisnya, kemarin.
Zainal menambahkan, kerja sama antara AirNav Indonesia dan Telkom University merupakan tindak lanjut nota kesepahaman kedua pihak tentang pengembangan, pengelolaan, dan peningkatan di bidang teknologi informasi yang ditandatangani pada 2024. Melalui perjanjian kerja sama tersebut, kedua pihak menyepakati sejumlah ruang lingkup kolaborasi, antara lain optimalisasi laboratorium, penelitian dan pengembangan bersama, penerapan hasil penelitian, pertukaran pengetahuan, keahlian dan informasi, serta pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan sesuai kebutuhan masing-masing pihak.
âKami tidak ingin teknologi dikembangkan hanya karena teknologinya ada. Yang paling penting adalah apakah teknologi tersebut memang dibutuhkan dan bisa membantu pekerjaan kita. Itu yang kita lihat dalam kerja sama dengan Telkom University,â ujar Zainal.
Melalui kolaborasi tersebut, telah dikembangkan sejumlah inisiatif, termasuk prototipe Teknologi NOTAM AI Generator yang diinisiasi sejak 2024 dan telah melalui soft launching pada 2025. Kerja sama lainnya mencakup pengembangan sistem penjadwalan otomatis berbasis teknologi digital untuk pengaturan personel Air Traffic Control (ATC).
Dengan bantuan AI, proses penyusunan NOTAM dapat dilakukan sekitar satu menit sebelum diverifikasi oleh validator. AI juga dikembangkan untuk membantu penjadwalan atau rostering personel ATC, sementara keputusan yang berkaitan langsung dengan keselamatan tetap berada pada manusia.
âSelain menjajaki implementasi NOTAM AI, saat ini kami juga sedang menyusun aplikasi berbasis AI untuk penjadwalan dan pengaturan tugas personel ATC. Personel ATC tidak boleh bekerja secara nonstop selama dua jam, sedangkan jarak antar-shift untuk satu orang tidak boleh kurang dari 15 jam. Teknologi AI akan kami manfaatkan untuk membantu pengaturan tersebut. Dengan jumlah personel yang banyak, proses ini cukup sulit dan memakan waktu apabila dilakukan secara manual,â kata Zainal.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Faudzan Adziman, mengapresiasi langkah AirNav Indonesia yang melibatkan perguruan tinggi untuk membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi industri. Menurutnya, riset harus berangkat dari persoalan nyata dan diarahkan untuk menghasilkan solusi yang memberikan manfaat.
âKuncinya, kalau kita tidak tahu apa yang akan dipecahkan, jangan melakukan riset. Pada awalnya AirNav berani mengambil risiko karena melibatkan kampus. Tetapi, post benefit-nya tinggi sekali. Model kolaborasi seperti ini yang perlu terus didorong untuk memperkuat kedaulatan dan daya saing teknologi Indonesia,â ujar Faudzan.
Faudzan berpesan agar kolaborasi AirNav Indonesia dan Telkom University tetap berfokus pada penyelesaian persoalan yang dihadapi industri.
âCari masalah apa di industri yang ingin dipecahkan, lalu bangun menjadi solusi. Kemudian, setelah timbul trust, akan lebih mudah membangun kolaborasi yang lebih besar. Memahami persoalan yang dihadapi industri sangat penting agar riset yang dikembangkan benar-benar menjawab kebutuhan,â ujarnya.
Sementara itu, Wakil Rektor IV Telkom University Bidang Riset, Inovasi, dan Kerja Sama, Angga Rusdinar, menyampaikan bahwa hasil penelitian dan pengembangan tidak langsung diterapkan di lingkungan operasional AirNav Indonesia. Setiap hasil pengembangan dapat melalui proses pengujian, evaluasi, dan validasi berdasarkan kebutuhan serta kriteria yang disepakati kedua pihak.
âAirNav Indonesia memiliki kebutuhan nyata. Bagi kami, itu penting karena riset yang baik harus punya persoalan yang jelas untuk diselesaikan. Karena itu, kerja sama ini bukan hanya untuk menghasilkan penelitian, tetapi juga bagaimana hasilnya bisa digunakan,â ungkapnya.
âDengan mekanisme ini, riset diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata, dikembangkan menjadi solusi, kemudian diuji sebelum dimanfaatkan,â jelasnya.
Forum SATRIA 2026 mengangkat tema âConnecting Leaders, Research, and Industry for Trustworthy AIâ. Diselenggarakan oleh CoE AILO Telkom University sebagai penyelenggara utama, forum ini mempertemukan pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan peneliti untuk memperkuat kolaborasi riset, pengembangan talenta, serta penerapan AI dan keamanan siber.
Bagi AirNav Indonesia, penguatan kerja sama dengan Telkom University bukan sekadar menghasilkan teknologi baru, melainkan memastikan bahwa riset dapat menjawab kebutuhan nyata dan memberikan manfaat bagi pekerjaan serta peningkatan kualitas layanan navigasi penerbangan.Â
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Mohammad Zaki Alatas
Berita Terkait:
-
Pengemudi Ojek Daring Langgar Lalu Lintas, Pemkot Bogor Siapkan Sanksi Berjenjang
-
Selat Hormuz Terus Diblokir, Sinyal Bahaya Stagnasi Ekonomi Intai Inggris
-
IHSG Hari Ini Kembali Tertekan, Investor Asing Putar Arah
-
Iran Bakal Balas AS Atas Serangan di PLTN Darkhovin
-
Peluncurkan Kelas Ibu Hamil Berbasis "Hypnotherapy" di Jaktim
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.