Filipina Dorong Akselerasi Interkoneksi Listrik di Empat Negara Asean

Jumat, 09 Okt 2026, 19:12 WIB

MANILA — Filipina mendorong percepatan proyek interkoneksi listrik yang menghubungkan Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Inisiatif tersebut dilakukan di tengah kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi di Asia tenggara akibat perang Amerika Serikat dan Iran.

Melansir dari Philippine Information Agency (PIA), Jumat (9/10), Menteri Energi Filipina, Sharon Garin, mengumumkan inisiatif tersebut. Pengumuman tersebut disampaikan dalam Pertemuan Menteri Energi Asean ke-44 di Manila, Rabu (7/10).

Ket. Foto: Presiden Filipina, Ferdinand Marcos — Sumber: X - Asean

Proyek tersebut dirancang untuk menghubungkan jaringan listrik keempat negara melalui kabel bawah laut bertegangan tinggi. Infrastruktur ini memungkinkan perdagangan listrik lintas negara sekaligus memperkuat konektivitas energi di kawasan Asia tenggara.

Garin menyebut proyek interkoneksi tersebut sebagai pintu masuk utama Filipina menuju rencana Jaringan Listrik Asean atau Asean Power Grid. Inisiatif itu akan melengkapi skema perdagangan listrik yang telah menghubungkan Laos, Tailan, Malaysia, dan Singapura.

Garin mengatakan interkoneksi listrik dapat membantu negara-negara di kawasan berbagi sumber energi. Ia mencontohkan tenaga hidroelektrik dari satu negara dapat digunakan untuk memasok listrik bagi fasilitas penting di negara tetangga.

Sementara itu, Menteri Energi Singapura, Tan See Leng, menekankan perlunya regulasi bersama untuk mengatur kabel bawah laut. Aturan tersebut mencakup pemasangan, pemeliharaan, serta perlindungan infrastruktur guna mendukung konektivitas listrik lintas negara.

Pertemuan di Manila tersebut dihadiri para menteri energi dari 11 negara anggota Asean. Mereka membahas konektivitas listrik regional, keamanan energi, serta pembiayaan proyek infrastruktur.

Upaya memperkuat kerja sama energi dilakukan ketika kawasan menghadapi risiko gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah. Filipina sebelumnya menjadi negara pertama yang menetapkan keadaan darurat energi nasional setelah perang Iran serta penutupan Selat Hormuz.

Menurut Pusat Energi Asean (Asean Centre for Energy), lebih dari 50 persen impor minyak mentah Asean berasal dari Timur Tengah. Gangguan pasokan dari kawasan tersebut berpotensi mengancam volume minyak yang setara dengan hampir 28 persen konsumsi minyak regional.

Percepatan proyek interkoneksi listrik empat negara diharapkan memperkuat kerja sama energi regional. Proyek ini juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan konektivitas listrik dan ketahanan energi negara-negara Asean di tengah ketidakpastian pasokan global. ils/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.