Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Asap Pekat di Kota Palembang Berasal dari Karhutla di 66 Titik di Sumsel

📅 Jumat, 09 Okt 2026, 08:41 WIB | Oleh: Tim Penulis
Asap Pekat di Kota Palembang Berasal dari Karhutla di 66 Titik di Sumsel Doc: ANTARA
Ket. Foto udara Jembatan Musi II yang tertutup kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (5/9/2026).

PALEMBANG - Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Palembang, Sumatera Selatan, Kemas Haikal mengatakan bahwa asap pekat yang menyelimuti wilayah setempat merupakan kiriman dari luar daerah seperti Kabupaten Ogan Ilir.

"Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di kabupaten tetangga seperti Ogan Ilir dan Banyuasin berdampak pada masyarakat Kota Palembang yang ikut merasakan dampak asapnya," kata Kemas Haikal di Palembang, Kamis (8/10).

Dia mengatakan, berdasarkan data dari total 66 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terpantau di Sumatera Selatan hari ini, hanya tiga titik yang berada di wilayah Kota Palembang.

Sedangkan sisanya sebanyak 63 titik api berasal dari luar daerah di mana asap karhutla masuk ke wilayah Palembang.

"Fakta ini sekaligus mempertegas pernyataan Wali Kota Palembang Ratu Dewa yang menyebut asap pekat yang menyelimuti Palembang adalah kiriman dari luar," tegasnya.

Haikal memastikan, tiga titik karhutla di dalam kota sudah berhasil dipadamkan oleh petugas yang berjibaku memadamkan api sejak Rabu (7/10) sore.

"Petugas kami terus berjibaku memadamkan lahan yang terbakar sejak Rabu (7/10) sore," ujarnya.

Berdasarkan data update pemadaman per Rabu, 7 Oktober 2026, tiga lokasi tersebut meliputi Perumahan Orison View dan Perumahan Putramas Residence 2, Kelurahan Talang Jambe dan di Kelurahan Karya Jaya, Kecamatan Kertapati.

Meski api di dalam kota padam, warga Palembang tetap jadi korban akibat kiriman asap dari luar daerah yang membuat kualitas udara memburuk secara ekstrem.

Data ISPUnet KLHK Stasiun Palembang Bukit Kecil per 7 Oktober 2026 pukul 17.00 WIB mencatat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) menyentuh angka 717 dengan kategori berbahaya.

"Artinya, tingkat kualitas udara dapat merugikan kesehatan serius bagi seluruh populasi dan wajib penanganan cepat," ujarnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Bahlil Pasang Rem Industri Nikel, Smelter Setengah Jadi Bisa Dimoratorium
    Langkah moratorium smelter setengah jadi ini memang sudah ...
  • Profil Empat Nama Pemain Tambahan Timnas yang Akan Direkrut untuk Piala Asia 2027
    Timnas bakal lebih tajam dengan tambahan pemain ini ...
  • Industri Tekstil RI Kalah Canggih dari China, Menperin Sarmuji Bongkar Biang Keroknya
    Langkah Kemenperin memprioritaskan restrukturisasi mesin yang telah berusia ...
  • Pasar Makin Prospektif, Kemenperin Pacu Industri Mainan Tembus Pasar Global
    Pencapaian ekspor mainan yang menembus USD 351,8 juta ...
  • Industri Mesin Diperkuat, Indonesia Tak Mau Terus Bergantung Impor
    Langkah strategis Ditjen ILMATE Kemenperin yang disampaikan oleh ...
Luar Negeri
Dubes: Imam Bukhari Jadi Si...

Rupiah Masih Rawan - 09 Oktober 2026

1.5 jam yang lalu | Oka Wahyu

Ekonomi
Rupiah Masih Rawan - 09 Okt...
Advertisement
Fenomena Tikungan ke-13 Mandalika: Antara Mitos Atau Sekadar Medan Balap yang Sulit?

Fenomena Tikungan ke-13 Mandalika: Antara Mitos Atau Sekadar Medan Balap yang Sulit?

08 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.