Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pencernaan Sehat dan Stimulasi Tepat Dukung Perkembangan Kecerdasan Emosional Anak

30 Kamis, 08 Okt 2026, 22:45 WIB | Oleh:
Pencernaan Sehat dan Stimulasi Tepat Dukung Perkembangan Kecerdasan Emosional Anak Pencernaan Sehat dan Stimulasi Tepat Dukung Perkembangan Kecerdasan Emosional Anak Doc: Koran Jakarta/Haryo Brono
Ket. Senior Psikolog Klinis, Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog (kiri) dan Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Executive Director Indonesia Health Development Center (IHDC) dan Member of Gut and Immunity Council (GIC) (kanan), dalam diskusi media bertajuk “Pencernaan Sehat, Kecerdasan Anak Optimal,” di Jakarta pada hari Kamis (8/10).

JAKARTA — Perkembangan kecerdasan anak tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademis atau nilai IQ. Kemampuan mengenali dan mengelola emosi, berkomunikasi, berempati, beradaptasi, membangun hubungan, belajar, serta memecahkan masalah juga menjadi bagian penting dari proses tumbuh kembang.

Kemampuan tersebut berkembang melalui interaksi antara kondisi tubuh dan otak anak dengan pengalaman serta lingkungan di sekitarnya. Nutrisi, kesehatan, pola pengasuhan yang responsif, stimulasi, serta kesempatan untuk belajar dan mengeksplorasi lingkungan menjadi sejumlah faktor yang saling berkaitan dalam mendukung perkembangan anak.

Masa awal kehidupan menjadi periode penting dalam proses tersebut. Perkembangan otak berlangsung sangat cepat sejak masa prenatal hingga sekitar usia lima tahun. Sementara itu, 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) dikenal sebagai salah satu periode penting ketika otak sangat responsif terhadap nutrisi, pengalaman, stimulasi, dan interaksi dengan lingkungan.

Namun, perkembangan anak tidak berhenti setelah usia dua tahun. Rentang usia dua hingga lima tahun juga menjadi fase penting ketika kemampuan bahasa, interaksi sosial, regulasi emosi, fungsi eksekutif, dan kemandirian terus berkembang.

Karena itu, dukungan terhadap tumbuh kembang anak perlu dipandang sebagai proses berkelanjutan. Fondasi yang dibangun sejak awal kehidupan perlu terus diperkuat melalui pengasuhan, nutrisi, stimulasi, dan lingkungan yang mendukung.

Memahami Periode Penting Perkembangan Anak

Senior Psikolog Klinis, Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, menjelaskan bahwa dalam periode perkembangan anak terdapat dua konsep yang penting dipahami orang tua, yakni critical period dan sensitive period.

Critical period mengacu pada fase yang relatif spesifik ketika stimulasi atau input tertentu dibutuhkan agar fungsi jaringan otak berkembang secara optimal. Sementara itu, sensitive period merupakan masa ketika otak dan perilaku anak lebih responsif terhadap pengalaman tertentu sehingga stimulasi yang tepat dapat memberikan dampak yang lebih kuat.

Menurut Ratih, konsep tersebut penting dalam memahami perkembangan kecerdasan sosial dan emosional anak karena kemampuan seperti regulasi emosi, empati, komunikasi, dan membangun relasi berkembang secara bertahap.

“Dalam psikologi, di masa golden period perkembangan anak terdapat dua periode penting yang perlu dipahami orang tua, yaitu critical period dan sensitive period. Critical period merujuk pada fase yang relatif lebih spesifik ketika stimulasi atau input tertentu diperlukan agar fungsi jaringan otak berkembang secara optimal,” ujar Ratih dalam diskusi media bertajuk “Pencernaan Sehat, Kecerdasan Anak Optimal,” di Jakarta pada hari Kamis (8/10).

Sementara itu, sensitive period memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar dari pengalaman dengan lebih responsif. Meski kemampuan tertentu tetap dapat berkembang setelah periode tersebut, pengalaman positif dan konsisten pada masa sensitif dapat memberikan pengaruh yang lebih kuat.

Karena itu, orang tua dapat memanfaatkan periode tersebut untuk membangun fondasi kecerdasan emosional melalui interaksi sehari-hari.

Stimulasi Tidak Harus Rumit

Stimulasi untuk mengembangkan kecerdasan emosional anak tidak selalu membutuhkan kegiatan khusus atau metode yang kompleks. Interaksi sehari-hari di rumah justru dapat menjadi ruang belajar yang penting.

Ratih mengatakan orang tua dapat membantu anak mengenali perasaan dengan merespons emosi secara tenang, mendengarkan tanpa menghakimi, dan memberikan contoh bagaimana mengelola emosi.

Aktivitas sederhana seperti bermain bersama, belajar bergantian, membaca buku, serta mengajukan pertanyaan mengenai perasaan tokoh dalam cerita juga dapat menjadi sarana stimulasi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
Megapolitan
Hujan Mulai Turun, Antisipa...
Megapolitan
Sensus Ekonomi Jakarta Hamp...
Advertisement
Indonesia Siapkan Gudang Minyak Mentah, Impor Bakal Langsung Masuk Tanpa Transit Negara Ketiga

Indonesia Siapkan Gudang Minyak Mentah, Impor Bakal Langsung Masuk Tanpa Transit Negara Ketiga

29 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.