• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Metodologi di Balik Penemu...

Metodologi di Balik Penemuan Fosil Yujingia

Kamis, 08 Okt 2026, 07:14 WIB

BAGAIMANA mungkin jaringan tubuh makhluk yang mirip agar-agar atau gel bisa bertahan utuh selama lebih dari setengah miliar tahun? Di alam, kematian biasanya berarti kehancuran total. Dalam hitungan jam atau hari, organisme bertubuh lunak akan membusuk tanpa meninggalkan jejak apa pun di dalam lapisan batu.

Namun, aturan alam tersebut seakan dikecualikan di satu tempat khusus: endapan Maotianshan Shales di kawasan Chengjiang, Provinsi Yunnan, Tiongkok barat daya. Di tempat inilah para paleontolog menemukan spesimen mungil berukuran beberapa milimeter yang kini mengubah cara pandang dunia terhadap evolusi hewan purba, yakni Yujingia glutenotunica.

Ket. Foto: Fosil Yujingia glutenotunica. — Sumber: Kredit: Kaiyue He dkk

Bagi para ilmuwan, kisah di balik penemuan fosil ini bukan sekadar cerita tentang menemukan hewan baru, melainkan sebuah pencapaian luar biasa dari kombinasi keajaiban geologis purba dan teknologi analisis modern.

Ketika Lumpur Halus Menjadi Kapsul Waktu

Periode ledakan Kambrium (Cambrian explosion) sekitar 540 juta tahun lalu adalah era ketika lautan Bumi mendadak dipenuhi ledakan bentuk kehidupan baru. Sayangnya, catatan fosil dari masa itu sangat bias: mayoritas fosil yang ditemukan adalah cangkang keras, kerangka trilobit, atau gigi. Hewan bertubuh lunak seolah lenyap dari sejarah.

Chengjiang adalah anomali yang menyelamatkan sains dari kebutaan sejarah tersebut. Sekitar 518 juta tahun lalu, makhluk-makhluk purba yang hidup di perairan dangkal tersebut tiba-tiba terkubur oleh longsoran lumpur kaya mineral yang sangat halus secara cepat.

Endapan lumpur yang kedap oksigen itu menghentikan proses pembusukan oleh bakteri dan mencegah pemangsa merusak bangkai. Hasilnya adalah proses fosilisasi tingkat tinggi: jaringan otot, struktur internal, hingga massa organ lunak berubah menjadi lapisan tipis mineral di atas batu, memberikan cetak biru anatomi yang sangat detail kepada para ilmuwan jutaan tahun kemudian.

Dari Vas Ritual hingga Analisis Statistik Modern

Nama ilmiah yang disematkan pada fosil ini mencerminkan keunikan bentuknya. Nama genus Yujingia terinspirasi dari bentuk tubuhnya yang menyerupai yujingping (vas ritual tradisional Tiongkok), sementara nama spesiesnya, glutenotunica, menggambarkan tekstur tubuhnya yang lunak menyerupai gel.

Namun, tantangan terbesar para peneliti dari Northwest University (Tiongkok) dan University of Cambridge (Inggris) bukan hanya memberi nama, melainkan menentukan di mana posisi makhluk mungil ini dalam pohon silsilah kehidupan yang sangat kompleks.

Untuk memecahkannya, tim peneliti tidak hanya mengandalkan mikroskop atau pengamatan visual. Mereka menggunakan metode statistik tingkat lanjut yang disebut rekonstruksi filogenetik Bayesian.

Melalui metode ini, komputer membandingkan hingga 505 karakter anatomi yang berbeda dari 100 kelompok hewan—baik yang masih hidup saat ini maupun yang sudah punah sejak jutaan tahun lalu. Analisis statistik ini mengevaluasi probabilitas hubungan kekerabatan berdasarkan kemiripan struktur tubuh, seperti bagaimana tentakel pemakan partikel dihubungkan dengan garis keturunan modern seperti Echinodermata dan Hemichordata.

Penemuan dan analisis terhadap Yujingia glutenotunica yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology menunjukkan bagaimana paleontologi modern telah bertransformasi. hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.