IHSG Hari Ini Kembali Tertekan, The Fed Makin Hawkish
📅 Kamis, 08 Okt 2026, 17:35 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencerminkan meningkatnya kewaspadaan investor terhadap kemungkinan The Fed mempertahankan sikap hawkish hingga akhir tahun.
Ekspektasi suku bunga AS yang tetap tinggi berpotensi memperkuat dolar AS dan mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury, sehingga aset berisiko seperti saham Indonesia menjadi relatif kurang menarik.
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (8/10) sore ditutup melemah 115,44 poin atau 1,88 persen ke posisi 6.031,28 dipicu oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed pada akhir tahun 2026.
Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 12,08 poin atau 1,99 persen ke posisi 593,64.
"IHSG dan Bursa regional Asia melemah, pasar tampaknya dipengaruhi risalah The Fed menunjukkan mayoritas pejabat memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga lagi pada 2026 untuk menjaga inflasi yang masih berada di atas target 2 persen,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta.
Nico mengatakan sebagian besar pembuat kebijakan The Fed menilai bahwa kenaikan suku bunga kemungkinan akan tepat pada akhir tahun, menurut catatan rapat FOMC September 2026.
Namun demikian, mereka menekankan bahwa keputusan selanjutnya akan bergantung pada data yang masuk, prospek ekonomi, dan keseimbangan risiko.
Hal tersebut mengindikasikan sepanjang tahun 2026, era suku bunga tinggi belum sepenuhnya berakhir, seiring sikap kehati-hatian bank sentral terhadap risiko konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mendorong harga minyak naik, mendorong imbal hasil (yield) obligasi lebih tinggi dan risiko inflasi.
"Kondisi tersebut tentunya menambah volatilitas pasar,” ujar Nico.
Sementara itu, harga minyak naik di tengah kekhawatiran atas potensi eskalasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dan risiko berkelanjutan terhadap pengiriman melalui Selat Hormuz, yang menambah tekanan inflasi.
Menyusul laporan bahwa pemerintahan Trump telah meminta Pentagon untuk mempersiapkan opsi serangan terhadap Iran yang dapat dilakukan sebelum pemilihan paruh waktu.
Adapun, risiko terhadap pengiriman melalui Selat Hormuz juga tetap tinggi, meskipun aliran minyak dari Timur Tengah diperkirakan telah pulih ke tingkat sebelum perang.
“Ini bertentangan dengan harapan umum bahwa Presiden Donald Trump akan menahan diri dari meningkatkan ketegangan dengan Teheran menjelang pemilihan November 2026,” ujar Nico.
Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!