• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Asal-Usul Bintang Laut Ter...

Asal-Usul Bintang Laut Terbongkar dari Fosil Berusia 518 Juta Tahun

Kamis, 08 Okt 2026, 07:27 WIB

SEBUAH fosil kecil yang terkubur selama sekitar 518 juta tahun di Tiongkok kini membuka kembali perdebatan tentang asal-usul bintang laut. Hewan purba bernama Yujingia glutenotunica itu memiliki tentakel untuk menangkap makanan, sebuah ciri yang membuat ilmuwan mempertanyakan gambaran lama tentang nenek moyang bintang laut sebagai hewan mirip cacing yang hidup di dasar laut.

Selama ini, gambaran tentang nenek moyang bintang laut dan kerabatnya lebih dekat pada sosok cacing kecil yang hidup di dasar laut. Hewan purba itu dibayangkan mengandalkan liang di sedimen dan menyaring makanan dari air melalui bagian dalam tubuhnya.

Ket. Foto: Peluruhan tafonomis lili laut modern di air laut. A. Foto bintang bulu yang masih hidup. B Foto lengan yang mengalami autotomi segera setelah terlepas. (C dan D) Foto lengan setelah 4 hari mengalami pelapukan alami di air laut. (E) Foto lengan setelah 6 hari mengalami pembusukan alami di air laut — Sumber: Dok Current Biology

Namun, sebuah fosil berusia sekitar 518 juta tahun dari Tiongkok kini menantang gambaran tersebut. Tubuhnya memang hanya berukuran beberapa milimeter, tetapi struktur yang terawetkan di dalam batu memberikan petunjuk penting mengenai salah satu tahap awal evolusi kelompok hewan yang kelak menghasilkan bentuk tubuh sangat berbeda: dari bintang laut dan bulu babi hingga cacing acorn (acorn worm).

Hewan tersebut diberi nama Yujingia glutenotunica. Fosilnya ditemukan di wilayah Yunnan, Tiongkok barat daya, dalam endapan Maotianshan Shales yang merupakan bagian dari kawasan fosil Chengjiang. Tempat ini terkenal karena mampu mengawetkan organisme bertubuh lunak dari periode Kambrium secara sangat detail.

Penelitian yang melibatkan ilmuwan dari Northwest University di Tiongkok dan University of Cambridge tersebut diterbitkan dalam jurnal Current Biology pada 16 September 2026.

Yang membuat Yujingia menarik bukan hanya usianya, melainkan apa yang masih terlihat pada tubuhnya. Fosil-fosil tersebut memperlihatkan bentuk tubuh, massa organ dalam, serta struktur seperti tentakel yang kemungkinan digunakan untuk memperoleh makanan. Temuan itu memberikan gambaran baru mengenai hewan yang hidup jauh sebelum bintang laut memiliki bentuk tubuh seperti sekarang.

Ledakan Kambrium

Sekitar 540 juta tahun lalu, kehidupan hewan memasuki periode perubahan besar yang dikenal sebagai ledakan Kambrium. Dalam rentang waktu geologis yang relatif singkat, beragam rancangan tubuh hewan muncul dan mulai meninggalkan jejak yang lebih jelas dalam catatan fosil.

Namun, memahami kehidupan pada masa tersebut bukan perkara mudah. Fosil biasanya lebih mudah terbentuk dari organisme yang memiliki cangkang, tulang, atau bagian tubuh keras. Hewan bertubuh lunak jauh lebih sulit ditemukan karena jaringan mereka cepat terurai setelah kematian.

Karena itu, lokasi seperti Chengjiang menjadi sangat penting. Endapan di kawasan tersebut menyimpan berbagai organisme Kambrium, termasuk hewan yang tubuhnya lunak dan biasanya hampir tidak meninggalkan jejak dalam catatan geologi.

Yujingia merupakan salah satunya. Spesimen yang diteliti memiliki panjang sekitar 8 hingga 22 milimeter. Meski kecil, beberapa fosil mempertahankan lapisan tubuh dan struktur internal yang memungkinkan ilmuwan merekonstruksi bentuk serta kemungkinan gaya hidupnya.

Nama genus Yujingia sendiri terinspirasi bentuk tubuhnya yang menurut peneliti menyerupai yujingping, semacam vas ritual dalam tradisi Tiongkok. Sementara itu, tubuhnya yang tampak lunak dan menyerupai gel menjadi inspirasi untuk nama spesies glutenotunica.

Pada bagian tubuh tertentu terdapat struktur seperti tentakel atau lengan berbulu. Struktur tersebut menjadi bagian terpenting dari temuan karena memberikan petunjuk tentang bagaimana hewan ini mendapatkan makanan.

Makan dengan Tentakel

Tidak seperti hewan yang harus mengejar mangsa, Yujingia tampaknya mengandalkan aliran air untuk membawa partikel makanan ke dekat tubuhnya. Tentakel yang menyerupai bulu kemungkinan berfungsi menangkap partikel organik yang melayang di air. Struktur tersebut kemudian dapat mengarahkan makanan menuju mulut melalui alur khusus.

Ada pula kelompok appendage lain yang kemungkinan membantu mempertahankan posisi tubuh di dasar laut. Dengan kombinasi tersebut, Yujingia kemungkinan menjalani kehidupan yang sebagian besar berlangsung dekat atau menempel pada dasar laut, tetapi masih memiliki kemampuan bergerak dalam tingkat tertentu.

Cara hidup seperti itu penting untuk memahami sejarah evolusi Ambulacraria, kelompok besar yang mencakup Echinodermata—seperti bintang laut dan bulu babi—serta Hemichordata, termasuk cacing acorn. Sebab, sistem makan menggunakan tentakel ternyata dapat menjadi petunjuk mengenai bentuk tubuh nenek moyang kelompok tersebut.

Nenek Moyang Bintang Laut Mirip Cacing?

Ambulacraria merupakan salah satu cabang utama dalam kelompok Deuterostomia. Cabang lainnya adalah Chordata, kelompok yang mencakup manusia dan vertebrata. Para ilmuwan telah lama mencoba merekonstruksi seperti apa bentuk tubuh nenek moyang bersama Ambulacraria.

Masalahnya, dua kelompok utama yang hidup sekarang memiliki penampilan sangat berbeda. Cacing acorn memiliki tubuh memanjang dan simetri bilateral, dengan sisi kiri dan kanan yang jelas. Bintang laut justru memiliki bentuk tubuh radial yang pada umumnya tersusun dalam pola lima bagian.

Perbedaan ekstrem itu menimbulkan pertanyaan: seperti apa sebenarnya bentuk tubuh yang dimiliki nenek moyang mereka? Salah satu hipotesis lama menggambarkan nenek moyang tersebut sebagai hewan mirip cacing yang hidup di dasar laut, kemungkinan di dalam sedimen, dan menyaring makanan melalui sistem faring serta celah insang. Namun, Yujingia menawarkan kemungkinan lain.

“Sudah ada kecenderungan untuk menganggap nenek moyang bersama Ambulacraria lebih menyerupai cacing yang hidup di liang dasar laut dan menyaring makanan dari air,” kata Giovanni Mussini dari Department of Earth Sciences, University of Cambridge.

Menurut Mussini, fosil baru tersebut menunjukkan bahwa nenek moyang Ambulacraria mungkin justru menggunakan tentakel untuk memperoleh makanan dan secara anatomi lebih menyerupai bintang laut serta kerabatnya. Artinya, ciri yang tampak sangat khas pada bintang laut modern mungkin memiliki akar evolusi yang jauh lebih tua daripada yang sebelumnya diperkirakan.

Bukan Nenek Moyang Langsung

Meski penting, para peneliti tidak mengatakan bahwa Yujingia merupakan nenek moyang langsung bintang laut atau cacing acorn modern.

Dalam evolusi, posisi sebuah fosil di pohon kehidupan tidak selalu berarti hewan tersebut merupakan leluhur langsung spesies yang hidup sekarang. Lebih sering, fosil memberikan gambaran tentang kerabat dekat atau bentuk tubuh yang hidup di sekitar periode ketika suatu garis keturunan mulai bercabang.

Untuk menentukan posisi Yujingia, tim peneliti membandingkan 505 karakter anatomi dari 100 kelompok hewan, baik yang masih hidup maupun yang sudah punah. Data tersebut dianalisis menggunakan rekonstruksi filogenetik Bayesian, sebuah metode statistik yang digunakan untuk mengevaluasi kemungkinan hubungan kekerabatan berdasarkan kesamaan dan perbedaan karakter.

Hasil analisis menempatkan Yujingia dekat dengan cabang yang menuju nenek moyang bersama Ambulacraria modern. Posisi tersebut membuat fosil ini menjadi semacam potongan puzzle yang sebelumnya hilang. Ia menghubungkan kelompok hewan Kambrium yang memiliki tentakel dengan dua garis keturunan yang sekarang tampak sangat berbeda: Echinodermata dan Hemichordata.

“Yujingia membantu menghubungkan hewan primitif bertentakel yang hidup di dasar laut dengan Echinodermata dan Hemichordata modern,” kata Degan Shu dari Northwest University.

Menurut Shu, temuan tersebut juga memberikan petunjuk baru untuk memahami perubahan besar dari tubuh bilateral menuju pola tubuh radial lima bagian yang menjadi ciri Echinodermata.

Perubahan tersebut merupakan salah satu teka-teki menarik dalam evolusi hewan. Tubuh manusia, cacing acorn, ikan, dan sebagian besar hewan lainnya mengikuti pola bilateral. Jika tubuh dibelah secara memanjang, sisi kiri dan kanan pada dasarnya merupakan cerminan satu sama lain.

Bintang laut dewasa justru memiliki simetri radial. Struktur tubuhnya tersusun mengelilingi bagian tengah, umumnya dalam lima arah. Bagaimana perubahan besar itu terjadi dari nenek moyang bilateral masih menjadi pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab. hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.