Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pembiayaan Diperbesar, Pertumbuhan Usaha Masih Seret

3 Rabu, 07 Okt 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pembiayaan Diperbesar, Pertumbuhan Usaha Masih Seret Pembiayaan Diperbesar, Pertumbuhan Usaha Masih Seret Doc: antara
Ket. Perluasan Pembiayaan - Realisasi Kredit Perbankan Masih Didominasi Korporasi

Efektivitas kebijakan penyaluran kredit usaha perlu diarahkan pada kemampuan pembiayaan menciptakan usaha yang tumbuh, berdaya saing, dan berkelanjutan.

JAKARTA – Perluasan akses pembiayaan bagi pelaku usaha tidak cukup diukur dari besarnya kredit yang disalurkan. Tanpa kurasi penerima, pendampingan yang konsisten, dan kepastian akses pasar, pembiayaan berisiko hanya menambah beban utang tanpa mendorong produktivitas.

Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Esther Sri Astuti menilai penyaluran kredit perlu disertai pendampingan. Hal itu dimaksudkan untuk memastikan dana modal digunakan sesuai rencana, membantu pelaku usaha mengelola keuangan dengan benar, menekan risiko kredit macet atau Non-Performing Loan (NPL), serta membuka akses Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ke pasar yang lebih luas.

“Pendampingan harus dilakukan secara komprehensif melalui kurasi usaha untuk menilai kelayakan dan kesiapan bisnis sebelum kredit cair, literasi keuangan untuk melatih debitur mencatat arus kas secara disiplin, serta pengembangan bisnis melalui bantuan pemasaran digital dan integrasi ke rantai pasok,” jelas Esther kepada Koran Jakarta, Selasa (6/10).

Peneliti Ekonomi CORE Indonesia Yusuf Rendi Manilet menilai keberhasilan pembiayaan tidak seharusnya hanya diukur dari besarnya kredit yang disalurkan dan jumlah debitur, tetapi dari dampaknya terhadap pertumbuhan usaha, penyerapan tenaga kerja, serta kemampuan UMKM beralih ke kredit komersial.

Data per Agustus 2026 menunjukkan kredit perbankan tumbuh 13,65 persen dan kredit korporasi 22,18 persen, sementara kredit UMKM hanya tumbuh 2,38 persen. Bahkan, kredit modal kerja UMKM masih terkontraksi 3,1 persen.

“Kondisi ini menunjukkan likuiditas perbankan tersedia, tetapi belum optimal mengalir ke UMKM karena banyak usaha belum memenuhi standar kelayakan kredit,” ujarnya.

Yusuf menekankan pentingnya kurasi berbasis data dan pendampingan yang berorientasi pada hasil, seperti peningkatan omzet, penambahan pekerja, kelangsungan usaha, dan kemampuan naik dari kredit program ke kredit komersial. Menurutnya, akses pasar juga harus menjadi bagian dari kebijakan pembiayaan, dengan mendorong UMKM masuk ke rantai pasok industri besar dan memperoleh permintaan yang berkelanjutan.

Indikasi Keberhasilan

Sebelumnya, Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Ade Jona Prasetyo menilai perluasan akses pembiayaan bagi pelaku usaha harus disertai kurasi, pendampingan, dan akses pasar agar dana yang disalurkan mampu mendorong pertumbuhan usaha secara produktif. “Keberhasilan pembiayaan tidak cukup diukur dari besarnya kredit, tetapi juga dari kemampuan usaha memperbesar skala bisnis, masuk ke rantai pasok, dan menciptakan lapangan kerja,” ujar Ade dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Senin (5/10).

Dalam RDPU dengan Komisi VII DPR, HIPMI mengusulkan peningkatan plafon KUR dari maksimal 500 juta rupiah menjadi 2 miliar rupiah untuk memberi ruang pembiayaan lebih besar bagi usaha yang sedang berkembang. Ade menekankan perluasan pembiayaan harus diiringi kesiapan pengusaha agar dana digunakan secara produktif dan menjadi sarana bagi pengusaha untuk tumbuh dan naik kelas.

Selain itu, HIPMI mengusulkan Youth Development Bank atau skema pembiayaan khusus bagi pengusaha muda yang memiliki usaha potensial tetapi belum sepenuhnya memenuhi pendekatan pembiayaan konvensional.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...

Uji Publik Calon Anggota KND

31 menit yang lalu | Ones

Nasional
Uji Publik Calon Anggota KND

Pemerintah Siapkan Stimulus Ekonomi

38 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Pemerintah Siapkan Stimulus...
Nasional
RUU Perampasan Aset Diminta...
Ekonomi
Perkembangan Inflasi Indone...

Gencatan Senjata Lokal di Kherson Berakhir

1.5 jam yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Gencatan Senjata Lokal di K...
Advertisement
Polemik Kadar Emas, Konsumen Soroti Perbedaan Hasil Pengujian

Polemik Kadar Emas, Konsumen Soroti Perbedaan Hasil Pengujian

02 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.