Retno Marsudi: Miliaran Orang Masih Minim Akses Air yang Aman

Selasa, 06 Okt 2026, 19:15 WIB

JAKARTA - Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Urusan Air, Retno Marsudi, menyoroti masih adanya orang yang tidak memiliki akses terhadap air dan sanitasi yang aman. Padahal menurut dia, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s) untuk memastikan ketersediaan dan pengelolaan air serta sanitasi berkelanjutan secara global ditargetkan dicapai pada 2030.

“Namun, kemajuan yang ada belum berada pada jalur yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan tren saat ini, pada tahun 2030 sekitar 3 miliar orang masih akan hidup tanpa akses terhadap layanan sanitasi yang dikelola secara aman,” ujar Retno Marsudi saat menyampaikan pidato kunci pada Indonesia International Sustainability Forum (IISF), Selasa (6/10) di Jakarta.

Ket. Foto: Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Urusan Air, Retno Marsudi — Sumber: Dokumentasi KADIN Indonesia

Menlu RI ke-17 itu menyebut bahkan sebanyak 2 miliar orang diperkirakan masih tanpa akses terhadap air minum yang dikelola secara aman pada 2030. “Serta, 1 miliar orang masih tanpa fasilitas untuk mencuci tangan dengan sabun dan air di rumah,” tegas dia.

Sementara, lima kendala saling berkaitan dan terus menghambat kemajuan untuk mencapai SDG’s memastikan ketersediaan dan pengelolaan air. Serta sanitasi berkelanjutan secara global ditargetkan dicapai pada 2030.

“Pertama, proyek-proyek air secara struktural masih kekurangan pendanaan, kedua, regulasi dan standar sering kali tidak konsisten dan terfragmentasi. Ketiga, para pengambil keputusan sering kali tidak memiliki keahlian teknis dan informasi pasar yang memadai untuk mengidentifikasi permasalahan maupun memperluas penerapan solusi,” kata Retno Marsudi.

Kemudian, Retno menambahkan kendala keempat terkait solusi yang telah tersedia, namun solusi tersebut sering kali tidak dapat diterapkan dengan kecepatan yang dibutuhkan. Bahkan, tidak menjangkau pasar yang sebenarnya dapat memberikan dampak terbesar.

“Dan kelima, para pihak yang perlu bekerja sama terlalu sering tidak dapat saling menemukan, memahami, ataupun berkoordinasi satu sama lain. Ketika kita berbicara tentang air, kita tidak sedang berbicara mengenai satu persoalan yang berdiri sendiri ataupun semata-mata persoalan teknis,” ucap dia.

Di sisi lain Retno menilai, air memengaruhi bagaimana perekonomian tumbuh maupun bagaimana kota-kota berfungsi. Termasuk, tentang bagaimana dunia memproduksi pangan, dan bagaimana masyarakat menghadapi perubahan iklim.

“Pertanyaannya saat ini bukan lagi sekadar apakah kita menggunakan air atau tidak, namun tentang bagaimana kita menghadirkan solusi pada skala dan kecepatan yang dibutuhkan. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan kota-kota kita, kebutuhan akan air juga terus meningkat, pada saat yang sama, perubahan iklim dan pencemaran semakin menambah tekanan,” kata Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Urusan Air. ils/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.