Klopp dan Tim Nasional Jerman Terus Berbenah, tetapi Hasil Belum Memuaskan

Selasa, 06 Okt 2026, 00:02 WIB

BERLIN – Jurgen Klopp mulai melihat tanda-tanda perkembangan dalam upayanya membangun kembali tim nasional Jerman. Namun, sejauh ini kerja keras pelatih berusia 59 tahun tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan hasil yang diraih.

Ketika Klopp meninggalkan lapangan di Thessaloniki menjelang tengah malam, Minggu (4/10), ia sadar bahwa hanya meraih satu kemenangan dalam empat pertandingan internasional pertamanya sebagai pelatih Jerman belum sesuai dengan ekspektasi besar yang mengiringi penunjukannya.

Ket. Foto: Jurgen Klopp dan pemain timnas Jerman. — Sumber: Istimewa

Klopp dipercaya menangani Jerman pada Juli lalu, setelah tim tersebut kembali tersingkir lebih awal dari Piala Dunia. Kedatangannya disambut antusias, terutama karena reputasinya sebagai mantan pelatih Liverpool dan Borussia Dortmund.

Namun, setelah empat pertandingan UEFA Nations League, Jerman baru mengoleksi satu kemenangan. Mereka bermain imbang 1-1 melawan Belanda, kalah dari Yunani, menang 2-0 atas Serbia, kemudian ditahan imbang 0-0 oleh Yunani. Hasil tersebut membuat Jerman berada di peringkat ketiga Grup A2 dengan lima poin, tertinggal dari Belanda dan Yunani yang sama-sama mengoleksi delapan poin.

Mantan kapten Jerman yang menjuarai Piala Dunia 1990, Lothar Matthaeus, menilai masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

“Secara keseluruhan, terlihat bahwa banyak aspek permainan mereka masih belum berjalan dengan baik,” kata Matthaeus. “Para pemain muda jelas sangat menikmati pengalaman ini. Sayangnya, perolehan poin mereka tidak berada di level yang sama. Kami tidak bisa puas dengan jumlah poin yang didapat.”

Meski hasil belum memuaskan, perubahan dalam gaya permainan mulai terlihat. Jerman tampil lebih agresif dibandingkan beberapa tahun terakhir dan sesekali memperlihatkan permainan menyerang dengan tempo tinggi yang menjadi ciri khas Klopp.

“Saya sangat puas karena tahu dari mana kami memulai,” kata Klopp seusai pertandingan melawan Yunani. “Saya tidak menyangka kami bisa memainkan babak pertama seperti itu hanya setelah bekerja selama satu pekan. Anak-anak tampil luar biasa. Pergerakan dan posisi mereka sangat bagus.”

Salah satu keputusan Klopp yang sempat mengundang perhatian adalah pemanggilan 44 pemain untuk empat pertandingan Nations League. Ia membagi pemain tersebut ke dalam dua skuad berbeda, masing-masing berisi pemain yang tampil dalam dua pertandingan. Dari jumlah tersebut, terdapat 16 pemain debutan.

Strategi tersebut merupakan bagian dari upaya Klopp membangun kembali kekuatan Jerman sekaligus memberikan kesempatan kepada wajah-wajah baru.

“Saya sangat terkesan dengan tim ini dan cara mereka menjalankan tugas. Semua pemain menunjukkan kemampuan mereka selama dua pekan terakhir dan membuktikan bahwa mereka layak dipilih,” ujar Klopp.

“Ketika kami bertahan secara kolektif seperti itu, para pemain benar-benar bisa bermain sepak bola.”

Philipp Treu dan Derry Scherhant menjadi dua pemain baru yang mendapat perhatian setelah menunjukkan penampilan menjanjikan dalam debut internasional mereka. Treu bahkan tampil sebagai salah satu pemain yang mendapatkan kesempatan besar dalam eksperimen Klopp.

Klopp memang datang ke tim nasional Jerman dengan misi berat. Sebelumnya, Jerman kembali gagal melangkah jauh di Piala Dunia 2026 setelah tersingkir pada babak 32 besar dari Paraguay. Itu menjadi kegagalan ketiga secara beruntun setelah mereka juga tersingkir pada fase awal Piala Dunia 2018 dan 2022. Jerman terakhir kali mengangkat trofi Piala Dunia pada 2014.

Karena itu, Klopp memahami bahwa perkembangan permainan saja tidak akan cukup. Kemenangan harus mulai datang lebih sering, terutama ketika Jerman menghadapi Serbia pada 13 November dan menjamu Belanda tiga hari kemudian.

Dua pertandingan tersebut akan menjadi ujian penting bagi proyek Klopp. Jerman membutuhkan hasil positif untuk tetap berada dalam persaingan memperebutkan posisi dua besar Grup A2.

Untuk sementara, Klopp memilih melihat sisi positif dari proses tersebut. Permainan Jerman mulai menunjukkan intensitas dan keberanian yang menjadi identitasnya, sementara sejumlah pemain muda mulai mendapatkan panggung.

Tantangannya kini adalah mengubah perkembangan tersebut menjadi hasil nyata di papan klasemen.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.