Hadapi Gempuran AI, IPI Tempa Pustakawan Jadi Dedikatif, Kreatif, Adaptif di Rakernas 2026
📅 Selasa, 06 Okt 2026, 21:48 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA -Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) tancap gas melakukan transformasi total. Di tengah disrupsi kecerdasan buatan (AI), pustakawan dituntut naik kelas agar tidak tergilas zaman.
Komitmen itu mengemuka dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IPI 2026 yang digelar di Semarang, Jawa Tengah, 6-8 Oktober 2026. Mengusung tema “Pustakawan Terlibat, Bersinergi, dan Berdampak”, Rakernas diikuti lebih dari 200 peserta dari seluruh Indonesia, mulai dari pustakawan perguruan tinggi, dinas kearsipan dan perpustakaan, perpustakaan khusus, hingga pegiat literasi.
Ketua Umum Pengurus Pusat IPI, Joko Santoso, menegaskan perpustakaan adalah organisme yang hidup dan terus tumbuh, merujuk pada hukum ilmu perpustakaan S.R. Ranganathan, the library is a growing organism.
"Sebagai entitas yang hidup, IPI tidak boleh tinggal diam. Perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi menuntut kita terus beradaptasi," kata Joko saat membuka Rakernas, Selasa (6/10).
Untuk menjawab tantangan itu, IPI mengusung tata kelola organisasi dengan prinsip ADEM: Advokatif, Demokratis, Efektif, dan Mengayomi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Advokatif untuk menyuarakan kepentingan pustakawan dan mendorong kebijakan literasi, demokratis dengan membuka ruang aspirasi dari cabang hingga pusat, efektif dengan meninggalkan pola kerja lamban dan melek teknologi, serta mengayomi sebagai rumah yang hangat bagi semua pustakawan.
"IPI harus menjadi rumah yang hangat. Rumah tempat setiap pustakawan bisa bersandar saat lelah, bertumbuh saat ingin maju, dan bersinergi tanpa memandang dari jenis perpustakaan mana ia berasal," ujar Joko.
Tak hanya organisasi, transformasi juga menyasar sosok pustakawan. IPI merumuskan profil pustakawan masa depan yang De.K.A.T: Dedikatif, Kreatif, Adaptif, dan Tersertifikasi.
Joko menekankan, di tengah gempuran AI, kekuatan utama pustakawan justru ada pada sisi kemanusiaan yang tak bisa digantikan mesin.
"Mesin mungkin bisa menemukan triliunan data, namun hanya manusia pustakawanlah yang memiliki empati untuk mendengarkan keluh kesah pemustaka dan memahami ruang batin mereka. Ruh pelayanan ada pada dedikasi kita, dan itu tidak akan pernah bisa digantikan oleh kecerdasan buatan mana pun," tegasnya.
Ia menambahkan, pustakawan harus kreatif membongkar batas layanan konvensional dan adaptif memanfaatkan teknologi untuk memperluas manfaat perpustakaan. Sertifikasi menjadi kunci untuk menjamin profesionalisme dan kompetensi di mata publik.
Rakernas sendiri diawali dengan empat kelas workshop strategis, yakni Wiyata Kinarya, pembinaan pustakawan dan SKKNI bidang perpustakaan, sertifikasi profesi, serta sertifikasi ISO. Dilanjutkan dengan Gelar Wicara yang membahas keterlibatan pustakawan di era disrupsi, peningkatan mutu riset, hingga manajemen pengetahuan lembaga.
Pada Rabu (7/10), forum juga menghadirkan call for papers dan call for best practices tentang gerakan sosial literasi dan kepustakawanan inklusif.
Sebagai puncak acara, IPI akan menganugerahkan Anugerah Pustakawan Indonesia (API) 2026.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!