Pasokan SPHP Beras Diperkuat, Pemerintah Antisipasi Tekanan Harga

Senin, 05 Okt 2026, 00:00 WIB

JAKARTA – Penambahan penyaluran program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan pasokan dan harga di pasar. Kebijakan ini tidak hanya ditujukan untuk menahan tekanan inflasi beras, tetapi juga memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga di berbagai daerah, terutama ketika terjadi peningkatan permintaan atau gangguan pasokan.

"Guna menjaga inflasi beras, pemerintah melalui Bapanas mengeluarkan penugasan kepada Perum Bulog untuk menambah alokasi program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras sebanyak 74,18 ribu ton atau ekuivalen dengan 14,83 juta kemasan beras SPHP ukuran 5 kilogram," kata Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman, dalam keterangannya yang terkonfirmasi di Jakarta, Minggu.

Ket. Foto: Stablitas Harga - Penyaluran SPHP Beras Ditambah di Tengah Ancaman Inflasi Pangan — Sumber: antara

Penambahan SPHP beras itu menyusul penugasan sebelumnya, yakni penyaluran SPHP beras sejumlah 828 ribu ton yang telah tuntas 100 persen pada 23 September 2026. Kebutuhan anggaran untuk tambahan penugasan SPHP beras 74,18 ribu ton itu sebesar 409 miliar rupiah dan Bulog diberi tenggat waktu salur sampai 20 November 2026.

“Sekarang stok beras kita banyak. Indonesia tidak impor beras medium lagi. Kita operasi besar, SPHP beras digelontorkan. Kemudian, ada bantuan pangan untuk 33,24 juta orang di seluruh Indonesia," ujarnya.

Lebih lanjut, tingkat inflasi khusus beras secara tahunan per September berada di level 3,73 persen. Jika dibandingkan terhadap bulan sebelumnya memang terjadi peningkatan. Namun, terhadap September 2025 yang 4,06 persen, inflasi beras pada September 2026 masih lebih stabil. Bahkan, inflasi beras pada September 2024 sempat mencatat level 5,91 persen.

Adapun stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog masih berada di angka 4,48 juta ton per 30 September 2026. Sementara, total salur CBP sepanjang 2026 sampai akhir September mencapai total 2,73 juta ton.

Rinciannya antara lain realisasi penjualan beras program SPHP pada Januari-Februari yang 221,05 ribu ton. Kemudian realisasi SPHP beras Maret sampai September yang mencapai 828 ribu ton.

Ada pula realisasi program bantuan pangan tahap pertama 662,86 ribu ton dan bantuan pangan tahap kedua yang telah berjalan hingga 944 ribu ton. Terakhir, penyaluran bantuan bencana dan keadaan darurat 13,3 ribu ton dan golongan anggaran 63,9 ribu ton.

Apabila dikomparasikan terhadap September tahun 2025, total salur CBP naik hingga 245 persen dari 790,8 ribu ton pada September 2025, saat ini telah mencapai hingga 2,73 juta ton. Sementara, stok beras pemerintah di Bulog telah meningkat sebesar 14,8 persen dari 3,9 juta ton kala itu, saat ini menjadi 4,48 juta ton.

Dipengaruhi Cuaca

Terpisah, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono memaparkan analisis beberapa penyebab fluktuasi harga beras yang terjadi di September 2026. Faktor cuaca menjadi pemicu kuat yang menyebabkan deklinasi produksi di dalam negeri.

"Untuk kenaikan harga beras pada bulan September 2026, ini terutama dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan beras setelah berakhirnya masa puncak panen raya. Kemudian, juga ada kondisi kemarau yang lebih kering, terkait dengan adanya fenomena El Nino," kata Ateng.

BPS juga mengutarakan fluktuasi harga beras sangat dipengaruhi pada kelancaran rantai pasok di hulu. Apabila pasokan gabah tersendat masuk ke penggilingan, tentu punya implikasi yang signifikan. "Tentunya (kemarau) ini turut membatasi dari kegiatan untuk menanam dan juga terjadi pada beberapa di sentra produksi, sehingga ada pasokan gabah yang masuk ke penggilingan menjadi ada hambatan atau terbatas," jelas Ateng lagi.

  • stabilitas harga

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.