Kolaborasi Brand Dinilai Jadi Kunci Perluas Bahan Berkelanjutan di Industri Kecantikan
📅 Minggu, 04 Okt 2026, 16:05 WIB | Oleh: Paundra ZakirullohJAKARTA - Nilai ekonomi yang tercipta dari permintaan banyak brand dinilai menjadi kunci untuk memperluas penggunaan bahan baku berkelanjutan dan plastik daur ulang di industri kecantikan. Pandangan tersebut mengemuka dalam Beauty in Sustainability, side event IISF 2026 yang digelar ParagonCorp di Jakarta, Rabu (30/9).
Diskusi tersebut menyoroti pentingnya skala dalam membuat bahan berkelanjutan lebih tersedia dan terjangkau. Ketika permintaan dari banyak brand terkumpul, pemasok memiliki dasar yang lebih kuat untuk berinvestasi sehingga pilihan berkelanjutan dapat semakin mudah dijangkau pelaku industri, termasuk brand lokal.
"Setiap brand punya peran, besar maupun kecil. Ketika kita bergerak bersama, skalanya berubah, dan pilihan yang lebih berkelanjutan menjadi lebih mudah dijangkau semua pelaku industri," kata Deputy CEO ParagonCorp Dr. Sari Chairunnisa.
Dari sisi pasar, Deputy Head Katadata Green Jeany Hartriani melihat peluang produk berkelanjutan terus berkembang seiring pertumbuhan pasar. Sementara itu, Sustainability Storyteller Vania Herlambang menilai konsumen cenderung memilih produk yang dapat mereka percaya, pahami, dan rasakan kedekatannya.
Pembahasan mengenai bahan baku juga menekankan pentingnya keseimbangan antara aspek keberlanjutan dan kualitas produk. Deputy Group Head of Research & Development ParagonCorp Ridwan Sonjaya mengatakan bahan berkelanjutan tetap harus memenuhi aspek keamanan, kualitas, dan performa.
Senior Account Manager Fine Fragrance IFF Prita Anggriana menambahkan bahwa ketertelusuran, ketersediaan, dan skala menjadi faktor penting untuk mendorong bahan berkelanjutan masuk ke produk yang digunakan secara lebih luas. Artinya, keberlanjutan tidak hanya bergantung pada pilihan bahan, tetapi juga kesiapan rantai pasok untuk memenuhi kebutuhan industri.
Hal serupa dibahas dalam aspek kemasan, khususnya penggunaan plastik daur ulang. Dr. Dicky Nugraha dari Dynapack Asia mengatakan plastik daur ulang dapat semakin kompetitif ketika desain, permintaan, dan skala dapat berjalan secara selaras.
Chairman ADGI sekaligus Creative Director PID ParagonCorp Ritchie Ned Hansel menilai penerapan sirkularitas perlu dimulai sejak tahap desain produk. Sementara itu, CEO Rekosistem Ernest C. Layman menyoroti pentingnya sistem take-back untuk menghubungkan kemasan bekas dengan ekosistem daur ulang.
ParagonCorp juga membagikan pembelajaran dari penerapan praktik keberlanjutan pada sejumlah produknya. Brand tavi menggunakan 30 persen plastik daur ulang pada kemasannya, sedangkan kemasan emina menggunakan 10 persen lebih sedikit plastik.
Upaya pengelolaan kemasan bekas juga dilakukan melalui Paragon Empties Station. Hingga kini, konsumen telah mengembalikan 83.326 produk kecantikan bekas melalui fasilitas tersebut untuk mendukung proses pengelolaan dan daur ulang.
Forum Beauty in Sustainability kemudian ditutup dengan sesi networking di Connection Partner Area. Sesi tersebut menjadi ruang bagi para founder untuk membangun jejaring dengan penyedia solusi di bidang bioekonomi, air, sirkularitas, dan dampak sosial.
Pembahasan dalam forum tersebut menunjukkan bahwa pengembangan industri kecantikan yang lebih berkelanjutan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Kolaborasi antarbrand, pemasok, pelaku daur ulang, hingga konsumen dinilai dapat menciptakan skala yang membuat solusi berkelanjutan semakin tersedia dan dapat dijangkau oleh industri.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!